Karet Unggul dari Cawan

Luasan karet tanahair nomor 1 di dunia, mencapai 3,4-juta ha

Luasan karet tanahair nomor 1 di dunia, mencapai 3,4-juta ha

Karet somatik embriogenesis menghasilkan bibit masal yang seragam serta produktif.

Penanaman karet secara luas itu menuntut penyediaan banyak bibit dalam waktu singkat. Semula tanaman asal biji menjadi andalan. Lantaran terbentuk dari penyerbukan, sifat tanaman asal biji sangat beragam. Celakanya, produktivitas lateks pun menjadi ikut bervariasi. Sebagian tanaman rajin mengucurkan getah, lainnya kerap mogok berproduksi.

Pekebun lantas memperbanyak tanaman secara vegetatif. Cara yang menjadi andalan adalah tempel mata alias okulasi. Dengan cara itu, tanaman asal biji sekadar menjadi “pemasok” air dan nutrisi dari bawah. Bagian tajuk, yang berfungsi sebagai “dapur” fotosintesis, mengandalkan sifat unggul mata tunas yang ditempelkan. Okulasi menghasilkan bibit berkualitas tinggi dan seragam. Namun, cara itu memerlukan bibit asal biji sebagai batang bawah.

Akibatnya pembuatan bibit okulasi perlu waktu lebih lama lantaran harus menunggu agar ukuran bibit dari biji cukup besar untuk penempelan mata tunas. Sudah begitu, klon yang menjadi batang bawah mempengaruhi sifat keseluruhan tanaman, termasuk produktivitas. Jika batang bawah produktif, maka tanaman ikut produktif. Sebaliknya kalau batang bawah pelit menghasilkan getah, tanaman yang dihasilkan pun minim memproduksi lateks.

Produksi lateks di tanahair hanya 1,5 - 2 ton per ha per tahun

Produksi lateks di tanahair hanya 1,5 – 2 ton per ha per tahun

Pilih induk unggul

Lantaran tidak menghasilkan solusi bebas masalah, periset melakukan perbanyakan dengan cara lain. Mereka membuat bibit tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu dengan metode somatik embriogenesis (SE). Pembentukan embrio tanaman baru dilakukan melalui perbanyakan sel somatik (sel penyusun tumbuhan) tanpa melalui peleburan sel kelamin. Tanaman baru itu langsung mewarisi sifat induknya tanpa pengaruh sel tanaman lain yang menyebabkan perubahan sifat.

Perbanyakan bibit secara SE meliputi 2 tahap: invitro dan eksvitro. Tahapan invitro dilakukan dalam laboratorium alias lingkungan terkendali; eksvitro, di lingkungan yang tidak teratur. Perbanyakan dimulai dari pemilihan dan sterilisasi sel tanaman induk. Tanaman induk mesti unggul: produktif, adaptif, cepat tumbuh, dan bebas dari infeksi penyakit. Periset mengambil eksplan alias sel induk dari kotak serbuk sari di bunga jantan. Semakin muda bunga, semakin baik bibit yang dihasilkan. Namun, pengambilannya pun lebih sulit lantaran bunga muda masih berukuran kecil.

Tanaman hasil okulasi cenderung tidak seragam akibat sifat batang bawah

Tanaman hasil okulasi cenderung tidak seragam akibat sifat batang bawah

Setelah sterilisasi, eksplan ditanam di media perbanyakan. Sel itu menjadi bibit untuk untuk proses induksi alias pembentukan kalus. Kalus adalah kumpulan sel tanpa bentuk yang terus memperbanyak diri. Kalus ibarat embrio alias bakal biji di tanaman asal biji. Sejak sel induk ditanam di media tanam, perlu 3 – 4 minggu untuk menghasilkan kalus embriogenik. Kalus embriogenik lantas ditanam kembali di media tanam sampai membentuk embrio somatik primer.

Sebuah eksplan bisa menghasilkan ratusan embrio, tergantung keperluan. Jumlah itu masih bisa ditingkatkan lantaran kotiledon asal embrio somatik bisa kembali dijadikan bahan eksplan. Embrio somatik primer kembali ditanam di media steril untuk memperoleh embrio sekunder. Pembentukan embrio sekunder bisa langsung dari embrio primer maupun secara tidak langsung melalui tahapan kalus.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x