Beberapa pehobi belum pernah menjumpai sosok buah lengkeng merah

Beberapa pehobi belum pernah menjumpai sosok buah lengkeng merah

Buah unggul dan eksotis bak lokomotif yang menarik gerbong bisnis bibit buah. Penangkar bibit buah jeli membaca pasar.

Samlawi belum pernah mencicipi lezatnya lengkeng merah. Ia juga belum pernah melihat langsung buah eksotis tanaman anggota famili Sapindaceae itu. Namun, ketika melihat bibit setinggi 50 cm seharga Rp5-juta ia tak ragu membeli 4 bibit senilai Rp20-juta. Fantastis: harga sebuah bibit Rp5-juta! Bibit itu kelak ketika dewasa berbuah lengkeng seukuran jempol tangan berwarna merah seronok. Warnanya amat atraktif. Bandingkan dengan harga bibit lengkeng itoh dan pingpong, hanya Rp60.000 dengan ukuran sama.

Artinya bibit lengkeng merah itu 83 kali harga bibit pada umumnya. Samlawi mengatakan, “Wajar bila harga selangit sebab barang baru, superseksklusif, dan bibit masih langka.” Ia memperlakukan bibit dengan sangat hati-hati. Maklum, bagi Samlawi bibit Nephellium longan merah itu aset. Jika ia tidak mampu mempertahankan hidup sang lengkeng istimewa itu maka kesempatan untuk memperbanyak bibit tertutup.

Bibit lengkeng merah milik Ricky Hadimulya, pemilik nurseri Hara di Parung, Bogor, Jawa Barat, jadi salah satu lokomotif bisnis bibit di tanah air

Bibit lengkeng merah milik Ricky Hadimulya, pemilik nurseri Hara di Parung, Bogor, Jawa Barat, jadi salah satu lokomotif bisnis bibit di tanah air

Perbanyak lagi
Samlawi lantas menanam setiap bibit di pot besar agar tidak stres. Ia rajin memupuk agar kebutuhan nutrisi tanaman tercukupi. Sebulan kemudian lengkeng merah memunculkan beberapa mata tunas. Naluri bisnis Samlawi bangkit. Menurutnya hanya kalangan tertentu seperti kolektor dan penangkar yang mampu membeli bibit lengkeng merah. Padahal, peminat lengkeng merah sangat banyak. Mereka urung membeli lantaran tersandung harga. Oleh sebab itu, Samlawi berencana untuk memproduksi bibit lengkeng merah skala besar.

“Dengan begitu, harga jual lebih terjangkau,” ujarnya. Ia memperbanyak tanaman itu dengan teknik top working. Lengkeng itoh berumur 4 tahun ia jadikan sebagai pohon induk perbanyakan. Biasanya selang 6 bulan akan muncul tunas dan siap okulasi. Enam bulan berikutnya, bibit siap jual. Kini, sudah 600 calon pembeli yang memesan bibit lengkeng merah pada Samlawi. “Saya menyarankan pembeli untuk pesan dulu sambil menunggu ketersediaan bibit cukup banyak sehingga harga terjangkau,” katanya. Dengan begitu, lengkeng merah dapat dimiliki oleh semua kalangan.
Samlawi membeli lengkeng merah itu di Toko Trubus yang menyediakan bibit amat terbatas. Menurut Udi Yuswanto dari Toko Trubus, pada awal penjualan hanya mempersiapkan 100 bibit lengkeng merah. Semua bibit ludes dalam 2 bulan. “Kehadirannya bagai magnet bagi pehobi lengkeng,” kata Udi. Beberapa pembeli malah mengatakan belum pernah melihat lengkeng merah. Lazimnya, lengkeng berkulit cokelat. “Ketika muncul lengkeng kulit merah, banyak konsumen heran dan penasaran,” Ujar Udi.

Ciri khas lengkeng merah, daun berwarna merah kecokelatan, dan bunga merah muda

Ciri khas lengkeng merah, daun berwarna merah kecokelatan, dan bunga merah muda

Lengkeng merah menyemarakkan dunia buah tanahair pada Mei 2014. Kehadiran perdananya menyita perhatian para pehobi, terutama penggemar lengkeng. Kulit buah merah solid bak batu rubi dan citarasa unggul menjadi daya tarik. Toko Trubus berani membanderol bibit lengkeng merah setinggi 50 cm dengan harga fantastis. “Itu memang harga bibit termahal yang pernah kami jual,” kata Udi. Selain unggul dari warna, lengkeng itu tak memiliki kompetitor dan pasokan bibit di awal kemunculan sangat terbatas.

M Anis Rifai (kiri) dan Samlawi (kanan) tertarik mengembangkan lengkeng merah

M Anis Rifai (kiri) dan Samlawi (kanan) tertarik mengembangkan lengkeng merah

Ludes
Penangkar bibit buah di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ricky Hadimulya yang pertama kali membawa bibit lengkeng merah dari mancanegara pada 2013. Ia memang memperkirakan lengkeng merah bakal menjadi primadona baru. “Buahnya unik sehingga layak dikebunkan atau ditanam dalam pot,” katanya. Kini lengkeng merah menjadi salah satu produk andalan Ricky. Pemilik nurseri Hara itu memperbanyak lengkeng merah dengan teknik sambung susu.

Baca juga:  Lokakarya Agrowisata APO: Sehari Jadi Petani Kopi

Ia menggunakan batang bawah asal biji lengkeng lokal. Yang menarik, ia membengkokan posisi batang pohon sehingga membuka jalan bagi sinar matahari. Cara itu sukses meningkatkan keberhasilan bibit hingga 90%. Dalam waktu dua bulan, Ricky bisa menghasilkan 20 bibit ruby longan—nama lain lengkeng merah—siap jual. Begitulah komoditas unik dan eksotis menyedot perhatian para calon pekebun dan pehobi. Pada mulanya memang harga jual bibit menjulang.

Pekebun tertarik mengebunkan durian musangking sebab buahnya mahal dan bercitarasa unggul

Pekebun tertarik mengebunkan durian musangking sebab buahnya mahal dan bercitarasa unggul

Namun, seiring waktu ketika beberapa penangkar mulai memperbanyak, maka harga jual akan menurun. M Anis Rifai, rekanan samlawi memperkirakan pada tahun depan harga bibit lengkeng merah kira-kira Rp700.000—Rp1.000.000. “Harga itu memang masih tergolong mahal dibanding bibit buah lain sebab lengkeng merah banyak diburu dan sulit dipalsukan,” katanya. Ciri khas bibit lengkeng merah, daun berwarna merah kecokelatan, bunga merah muda. Meski harga jual turun, Anis tetap untung. Bila dalam waktu setahun, jika ia berhasil memproduksi 500 bibit lengkeng merah dengan harga jual Rp1.000.000 maka omzetnya Rp500-juta.

Selain lengkeng merah, pehobi dan pekebun juga memburu bibit durian musangking, pelangi, dan matahari. Musangking sohor berkat citarasa legit, biji kempis, aroma kuat, lembut, dan tebal. Durian pelangi asal Manokwari, Papua Barat, unggul dengan warna daging buah cantik, citarasa lembut dan lengket. Sementara matahari bercita rasamanis sedikit pahit, lembut, tebal, kenyal, dan kering. daging buah durian-durian itu tebal. Produktivitas pun tinggi. Pantas meski jenis lama, matahari tetap diburu. Singkat kata, ketiga durian itu unggul.

Dengan keunggulan itu, wajar bila permintaan bibit ketiga durian itu melonjak. Penangkar bibit durian di Bogor, Jawa Barat, Syahril M. Said, menuturkan permintaan ketiga bibit durian itu terus membubung. Sepanjang 2012 saja, ia melayani permintaan 5.000 bibit musangking. “Bisa diibaratkan penjualan bibit itu bisa untung 1.000 kali asal jeli mencari pasar,” kata Syahril. Sepanjang 2014, ia bisa memperoleh pendapatan Rp60-juta per bulan dari penjualan bibit musangking dan pelangi.

Daging buah musangking legit, lembut, tebal, beraroma kuat, dan biji kempis

Daging buah musangking legit, lembut, tebal, beraroma kuat, dan biji kempis

Begitu pula Toko Trubus, penjualan bibit musangking mencapai 200 batang berukuran 70 cm dalam sebulan. Harga sebuah bibit Rp200.000 maka omzet penjualan bibit musangking mencapai Rp40-juta. Permintaan datang dari berbagai konsumen mulai dari pehobi hingga pekebun. “Beberapa kali kami juga melayani pembelian bibit partai besar,” kata Udi Yuswanto.

Baca juga:  Semut Pelindung Hoya

Buah menarik bibit
Menurut Panca Jarot Santoso SP MSc, peneliti durian dari Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbu), Solok, Sumatera Barat, pekebun melirik varietas introduksi seperti musangking sebab harga buahnya mahal dan bercitarasa unggul. Wajar, bila permintaan bibit di penangkar cukup tinggi. Sejatinya, permintaan bibit durian jenis lawas seperti monthong pun masih tinggi. “Pekebun tertarik menanam monthong sebab citarasa daging buahnya digemari konsumen lokal,” katanya.

Daging buah durian pelangi paduan merah kuning bak bianglala hanya ada satu di dunia

Daging buah durian pelangi paduan merah kuning bak bianglala hanya ada satu di dunia

Ia menuturkan masyarakat menggemari durian lokal seperti matahari. “Matahari memiliki kemampuan adaptasi yang baik dan pasokan bibit banyak,” ujarnya. Bila ditinjau dari segi harga, bibit durian pelangi masih menduduki peringkat termahal yakni Rp750.000 untuk ukuran 50—75 cm. Bahkan, pada awal tren, harga sebuah bibit durian pelangi mencapai Rp2.500.000. “Mahal sebab keunggulan buahnya dan ketersediaan bibit terbatas,” ujar Panca.
Ir Wiwik Wijayahadi, penangkar bibit buah tropis di Pojokusuman, Yogyakarta, menuturkan, tren bibit dipengaruhi oleh karakter buahnya. Ada 4 hal yang menjadi tolok ukur yaitu warna buah, rasa, ukuran, dan kemudahan berbuah. “Konsumen gampang terpengaruh oleh tampilan fisik buah, misalnya lengkeng merah,” katanya.

Menurut Wijayahadi lengkeng merah merupakan fenomena luar biasa di kalangan penangkar buah. “Lengkeng rubi masih menjadi topik hangat di kalangan pencinta tanaman buah terutama kolektor,” kata Wijayahadi. Wajar, jika harganya melambung tinggi. Pemilik nurseri Leira Buah Tropis itu memprediksi tahun depan lengkeng merah masih menjadi bibit yang paling banyak dicari alias most wanted di kalangan penangkar dan pehobi tanaman buah.

Ia membagi konsumen menjadi dua tipe yaitu fanatis dan logis. Tipe fanatis memilih buah yang dianggapnya unggul, meski memiliki kekurangan. Misalnya buah berukuran besar dan berwarna menawan, tetapi rasa daging buah hambar. Sementara konsumen logis merujuk pada pasar. “Mereka akan memperhitungkan banyak faktor lalu memutuskan apakah buah itu layak untuk dikembangkan,” kata Wijayahadi. Ia menuturkan pasar bibit buah yang besar ada di tingkat konsumen atau pehobi.

"Lengkeng merah menjadi bibit yang paling banyak dicari alias most wantes di kalangan penangkar dan pehobi tanaman buah," kata Wiwik Wijayahadi

“Lengkeng merah menjadi bibit yang paling banyak dicari alias most wantes di kalangan penangkar dan pehobi tanaman buah,” kata Wiwik Wijayahadi

Wijayahadi menganalisis bahwa konsumen bibit skala kebun amat terbatas dan persentasenya kurang dari 10% dari total konsumen bibit buah. “Pekebun memang membeli bibit dalam jumlah banyak, tetapi hanya sekali saja. Selanjutnya mereka memperbanyak sendiri dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi penjual bibit juga,” tuturnya. Sebaliknya konsumen pehobi dan masyarakat umum memiliki karakteristik yang berbeda. Mereka tertarik membeli bibit buah eksotis dan langka karena penasaran dan ingin terus melengkapi koleksi-koleksinya. “Jarang yang coba memperbanyak menjadi bibit lagi,” kata Wijayahadi.

Program pemerintah dan tanggung jawab sosial perusahaan CSR (Coorperate Social Responsibility) sejumlah perusahaan besar turut menunjang tingginya permintaan bibit. Wijayahadi menuturkan pengaruh pemerintah dan perusahaan swasta yang ingin membentuk sentra buah atau sekadar ingin meningkatkan perekonomian masyarakat dengan membagikan bibit buah juga terbilang tinggi. Dengan begitu perbanyakan bibit menguntungkan. (Andari Titisari/Peliput: Bondan Setyawan)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d