Kara pedang berpotensi sebagai produk pangan

Kara pedang berpotensi sebagai produk pangan

Tri Barokah mengolah kacang kara pedang menjadi aneka penganan nan lezat.

Bupati Temanggung periode 2008 – 2013, Hasyim Afandi, mendatangi sebuah stan di acara Gelar Kabi (kacang-kacangan dan umbi-umbian) Herbal Jawa Tengah I. Ia dan istri mencicip kentang goreng dan mencocolnya dengan saus. “Sausnya enak, tapi masih kurang halus,” kata pria kelahiran 1 Juli 1946 itu. Maklum, saus yang Hasyim cicip itu bukan saus biasa berbahan cabai, tetapi terbuat dari kacang kara pedang atau cangkardang.

Saus berbahan polong Canavalia ensiformis itu hasil kreasi Tri Barokah dan rekan dari Komunitas Damar Sindoro Sumbing. Selain saus, Tri juga membuat tempe dan susu dari kacang kara pedang pada acara tahunan yang berlangsung di Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, itu. Ketiga olahan tanaman anggota famili Fabaceae itu karya perdana Tri dan rekan.

Kara pedang matang pohon, polongnya salah satu substitusi tepung terigu dan kedelai

Kara pedang matang pohon, polongnya salah satu substitusi tepung terigu dan kedelai

Nutrisi

Tri mengenal kara pedang dari seorang kawan pada akhir 2010. Ia tertarik mengembangkan kara pedang karena polong itu berpotensi menjadi salah satu substitusi tepung terigu dan kedelai. Ia lalu membeli 50 kg benih kara pedang Rp20.000 per kg. “Saat itu saya tidak tahu sama sekali cara budidaya dan mengolah kara pedang,” kata Tri. Selain itu, informasi tentang kara pedang pun masih sedikit. Jadilah benih itu “menganggur” sebulan di kediaman warga Kandangan itu.

Dengan informasi yang minim, Tri mulai membudidayakan jack bean bermitra dengan petani pada 2011. Tidak mudah mengajak petani membudidayakan kara pedang. Sebab, pada 2008 pernah ada penanaman kara pedang di sekitar Kandangan. Sayang, hasil panen kara pedang itu tidak terserap pasar. “Kemungkinan kejadian itu membuat petani trauma menanam kara,” ucap perempuan kelahiran Klaten itu.

Baca juga:  Nila Jantan 100%

Selain itu, masyarakat menganggap menanam kara kurang menguntungkan karena harganya murah. Meskipun begitu Tri bergeming. Ia tetap mengembangkan kara pedang di lahan 1 ha di Kandangan dan Kranggan, Kabupaten Temanggung. Panen kara pedang 4 – 5 bulan setelah tanam. Hasil panen kara pedang itulah yang Tri gunakan untuk membuat olahan.

Dalam Riptek Vol. 7 Ir Sri Budi Wahjuningsih MP dan rekan dari Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Semarang, menyatakan kara pedang berpotensi besar menjadi produk pangan ditinjau dari segi gizi dan syarat tumbuh. Dari kandungan nutrisi, kara pedang memiliki semua unsur gizi yang cukup tinggi. Sebut saja kadar karbohidrat yang mencapai 60,1%, protein 30,36%, dan kalsium 86,91 mg/100 g.

Tri Barokah, pegiat  olahan kara pedang

Tri Barokah, pegiat olahan kara pedang

Tepung

Surhaini MS dan rekan dari Fakultas Pertanian, Universitas Jambi, dalam jurnal Percikan Vol. 96 menyatakan sumber karbohidrat baru harus memenuhi syarat mengandung kalori yang mencukupi, bercitarasa lezat, dan bebas bahan yang membahayakan kesehatan sehingga aman dikonsumsi. Menurut Prof Dr Ir Harijono MAppSc dan Widya Dwi Rukmi Putri STP MP dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, hambatan dalam pemanfaatan kara pedang yaitu adanya zat antigizi asam sianida.

Zat itu menimbulkan citarasa yang kurang disukai dan mengurangi bioavailabilitas – daya serap gizi dalam tubuh. Namun, “Zat racun dalam kacang kara pedang bisa dihilangkan,” kata Tri. Cukup dengan menjemur selama 2 hari, merendam (7 jam), dan merebus (1 jam) zat racun pada kara pun sirna. Selain dalam bentuk kacang utuh, Tri juga mengolah kara menjadi tepung.

Caranya ia mencacah kacang kara bersih dari zat racun kemudian menggiling hingga halus. “Dalam bentuk tepung pengolahan kara pedang pun menjadi lebih luas dan mudah,” kata perempuan yang mengolah kara pedang sejak 2012 itu. Satu kilogram kara pedang kering menghasilkan sekitar 700 gram tepung. Karakter tepung kara pedang lembut, tapi tidak elastis seperti terigu yang bergluten. Berbekal tepung kara itulah Tri membuat aneka olahan seperti brownies, kukis, dan kue kering.

Aneka olahan kara pedang hasil kreasi Tri Barokah

Aneka olahan kara pedang hasil kreasi Tri Barokah

Tri menuturkan untuk membuat aneka olahan kara sebenarnya sama dengan olahan lain. “Bedanya hanya bahan baku yang digunakan,” katanya. Untuk membuat brownis, misalnya, mula-mula Tri menyiapkan 6 telur, 150 gram tepung kara pedang, 150 gram mentega, 150 gram gula pasir, 150 gram cokelat blok, 50 g cokelat bubuk, 1 sendok teh ovalet, dan 1 bungkus vanili. Ia mencairkan mentega dan cokelat blok lalu didinginkan.

Baca juga:  Amat Banyak Aral Avokad

Kemudian campur tepung kacang kara pedang dan cokelat bubuk. Kocok telur, gula pasir, ovalet, dan vanili hingga mengembang. Setelah itu, masukkan campuran tepung kacang kara pedang dan cokelat bubuk secara perlahan hingga rata. Lantas masukkan dan aduk mentega dan cokelat blok cair ke adonan tadi hingga merata. Terakhir tuang adonan ke dalam loyang lalu panggang dalam oven atau kukus sesuai selera. Jadilah brownis kara.

Olahan kara lain yang Tri buat adalah kara goreng, tempe, keripik, kerupuk, abon, dan kue satu. Produk olahan kara itu kini beredar di Temanggung, Magelang, dan Kendal. Untuk olahan kering Tri memasarkannya di toko oleh-oleh. Sementara olahan basah seperti tempe dibuat berdasarkan pesanan. Selain mengolah polong tua, kara pedang muda pun nikmat. “Pada masa kakek saya, kara pedang muda diolah menjadi sayur,” kata Tri. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia menyatakan masyarakat Jawa Barat merebus polong dan biji kembang koweh – sebutan kara pedang di Jawa Barat – dan mengonsumsinya dengan nasi. Daunnya pun dikukus sebagai lauk. Apa pun bentuknya, olahan kara pedang tetap nikmat. (Riefza Vebriansyah)

535_ 57

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d