Burgerkill meraih gelar best of the best dalam Piala Serdebbo di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Burgerkill meraih gelar best of the best dalam Piala Serdebbo di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Burgerkill dan Seruling Raja menjadi yang terbaik.

Penonton acap kali tak kuasa berdiam diri menyaksikan penampilan grup vokal asal Bandung, Burgerkill. Lengkingan gitar dan suara serak sang vokalis amat khas. Serama koleksi Lambreta bernama Bugerkill juga menyedot perhatian penonton kontes Piala Serdebbo di di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sejak awal tampil Burgerkill membusungkan dadanya dan bergerak aktif di meja penilaian.

Juri kontes mengganjar ayam mungil itu dengan juara di dua kelas sekaligus, yakni kelas jantan dewasa tanpa lawi dan gelar paling bergengsi best of the best. Dalam kelas serama jantan tanpa lawi, Burgerkill mengungguli 13 pesaingnya. Menjadi pemenang kelas bergengsi itu membuka kesempatan untuk bertarung pada best of the best, ajang perebutan gelar tertinggi di antara pemenang masing-masing kelas.

Apoy meraih best of chick, anakan serama milik Guantoro

Apoy meraih best of chick, anakan serama milik Guantoro

Kelas bergengsi
Melalui persaingan ketat, Bugerkill mengungguli 249 peserta kontes. Henky Kumis, wakil dewan juri, mengatakan keunggulan Burgerkill langsung beraksi selama waktu yang ditentukan. Durasi penilaian penampilan dalam pertarungan kelas khusus 3 menit, sedangkan pada pertarungan juara antarkelas selama 5 menit. Kriteria penilaian best of the best terutama gayanya.

Burgerkill langsung beraksi sejak penilaian dan stabil semangatnya. “Pesaing terberatnya gagal menjadi juara karena terlambat mulai beraksi dan penampilan terlihat menurun semangatnya saat waktu berakhir,” ujar Henky. Juara best of chick kelas bergengsi untuk anakan serama diraih Apoy milik Guantoro dari Serama Independent Community, Jawa Timur.

Persaingan kelas itu ketat karena semua ayam peserta bergerak aktif, membusungkan dada, dan sesekali mengepakkan sayap. Juri memilih Apoy sebagai pemenang karena lebih unggul daripada anakan serama lain. Kriteria penilaian dalam kontes serama adalah gaya dan penampilan fisik. Penilaian gaya meliputi kedudukan, dada, dan galak. Selain itu juri juga menilai ayam berdasarkan fisik yaitu keserasian tubuh, ekor, sayap kaki, kecerahan warna, dan bulu.

Gong Lee, juara best of the best exhibition remaja

Gong Lee, juara best of the best exhibition remaja

Pehobi dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur antusias mengikuti kontes serama pada 8 Februari 2015 itu. “Acara tahunan ini diselenggarakan oleh perkumpulan komunitas serama nasional dan tempatnya berpindah menyesuaikan penyelenggaranya,” ujar Dearly, wakil panitia komunitas Serdebbo—Serama Depok, Bekasi, dan Bogor.

Baca juga:  Tiga Gelar Kayu Patah!

Panitia menyelenggarakan 16 kategori dan 3 laga bintang yang memperebutkan gelar bergengsi best of chick, best of the best, dan best of the best exhibition. “Kelas best of the best exhibition ini adalah kelas untuk mewadahi serama pemula supaya ayam yang baru terjun kontes dapat naik harganya ketika menyabet juara,” lanjut pehobi serama itu.

Bayi Ajaib,lagu panjang dan gaya yang bagus menjadikannya juara kelas Love Bird Gold

Bayi Ajaib,lagu panjang dan gaya yang bagus menjadikannya juara kelas Love Bird Gold

Burung berkicau
Sepekan sebelumnya pada 1 Februari 2015, komunitas pencinta burung kicauan, Kicaumania, menyelenggarakan kontes di lapangan sepakbola Universitas Pancasila, Jakarta Selatan, berjuluk Piala Duta Kicau Maniak III. Menurut Ketua pelaksana, Yogi Prayogi, meski hujan deras mengguyur, peserta semangat mengikuti kontes. “Panitia menargetkan 1.000 peserta kontes, tetapi sampai saat terakhir waktu pendaftaran telah tercatat 1.500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia,” kata Yogi.

Seruling Raja, irama lagu yang panjang dan stabil menjadi kunci kemenangan

Seruling Raja, irama lagu yang panjang dan stabil menjadi kunci kemenangan

Panitia mencatat peserta berasal dari Dari Lampung, Bengkulu, Bangka, Aceh, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur. Kontes yang menyediakan 63 gantangan itu melombakan 27 kelas. Kelas utama adalah kelas muraibatu dengan hadiah terbesar Rp20-juta. Seruling Raja, muraibatu milik Billy Indra Gunawan dari Kebumen, Jawa Tengah, memenangkan kelas paling bergengsi setelah mengungguli pesaing lainnya.

Untuk love bird kelas gold berhadiah Rp10-juta, juri menabalkan gelar juara kepada Bayi Ajaib milik Danang Sabar dari Magelang, Jawa Tengah. Kedua burung kicauan jawara itu berasal dari Naga Hitam Bird Club. Dengan demikian Naga Hitam BC menyabet juara Bird Club (BC), sementara Walet SF dari Tangerang meraih juara kategori Single Fighter (SF).

Arena kontes Piala Duta KM III penuh air tidak menurunkan fokus juri menilai peserta kontes

Arena kontes Piala Duta KM III penuh air tidak menurunkan fokus juri menilai peserta kontes

Keberhasilan Seruling Raja menyabet gelar paling bergengsi karena memenuhi nilai tertinggi untuk irama lagu, kekuatan, durasi kerja, dan gaya. Juri kontes, Yosie, mengatakan irama lagu Seruling Raja panjang dan stabil. “Sebenarnya ada peserta lain yang memiliki power nyaris menyamai Seruling Raja, tetapi ada saat putus-putusnya dan itu yang mengurangi bobot penilaian,” kata juri berbagai kontes selama 10 tahun itu.

Baca juga:  Selamat Datang Primadona Baru

Adapun Bayi Ajaib memiliki lagu yang panjang-panjang dan gaya bagus. Burung berparuh bengkok itu tidak banyak pindah posisi saat berkicau. Panitia sejatinya mengadopsi teknologi informasi untuk menampilkan hasil penilaian. Pemilik burung dan penonton dapat memantau perolehan nilai. Panitia memutuskan penilaian kembali ke sistem manual karena genangan lumpur dan hujan lebat selama kontes. Itu untuk mengurangi risiko kerusakan alat elektronik. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d