Adenium arabicum peraih best in show tampil lebih kokoh dibandingkan dengan pesaingnya.

Adenium arabicum peraih best in show tampil lebih kokoh dibandingkan dengan pesaingnya.

Adu cantik tanaman hias memperebutkan piala walikota Surabaya, Jawa Timur.

Kaisar Romawi, Julius Caesar, sohor dengan ucapan vini vidi vici, saya datang, saya melihat, dan saya menaklukkan. Kristanto Cendra juga datang, ikut kontes, dan menang. Ia baru kali pertama mengikutkan adenium dan langsung menyabet gelar bergengsi, best in show pada kontes di Surabaya, Jawa Timur, pada 21 Mei 2017. “Saya kaget, karena adenium itu belum pernah meraih juara,” ujar pehobi adenium asal Jakarta itu.

Juri asal Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Nanang Dwi, menuturkan bahwa, “Penampilannya benar-benar optimal. Meski banyak adenium yang ukurannya lebih besar, adenium peraih best in show memiliki karakter yang lebih kuat.” Menurut Nanang kualitas adenium peserta kontes meningkat dibandingkan dengan kontes-kontes sebelumnya. Sebab, para pehobi adenium semakin pintar merawat koleksinya.

Kelas sukulen

Juara adenium kelas unik alami berjudul gajah.

Juara adenium kelas unik alami berjudul gajah.

Kristanto merawat adenium jenis arabicum berumur 5 tahun itu secara intensif. Ia menggunakan media tanam campuran 60% pasir malang, 20% sekam bakar, dan 20% kotoran kambing. “Penyiraman 2 hari sekali pada pagi hari atau sore menjelang malam plus media tanam diganti setahun sekali,” ujarnya. Kristanto memberikan pupuk lambat urai berdosis 5 sendok makan per tanaman 4 bulan sekali.

Usaha itu membuat adenium koleksi Kristanto tampil prima dalam kontes tanaman hias piala Walikota 2017 yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya pada 21 Mei 2017 di Giant Margorejo, Surabaya, Jawa Timur. Menurut panitia kontes adenium, Yahya Adi Masto, peserta kontes mencapai 109 adenium koleksi para pehobi dari berbagai daerah seperti Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Manado (Sulawesi Utara), dan Jakarta.

Sansevieria pinguicula variegata peraih best of the best.

Sansevieria pinguicula variegata peraih best of the best.

Di kontes kaktus dan sukulen, Andy Basman meraih gelar tertinggi di kelas euphorbia. Tanaman hias jenis Euphorbia gymnocalycioides berumur 9 tahun koleksi Andy tampil eksotis di atas pot hitam. Salah satu kunci kesuksesan Andy merawat tanaman koleksinya yaitu menggunakan pupuk guano atau kotoran kelelawar. “Saya menggunakan pupuk guano sekitar 30% dari media tanam yang saya pakai,” ujar pehobi asal Malang, Jawa Timur, itu.

Aglaonema kochin unggul dari warna, tajuk, dan penyajian.

Aglaonema kochin unggul dari warna, tajuk, dan penyajian.

Euphorbia itu mencuri perhatian juri asal Lembang, Bandung, Jawa Barat, Erminus Temmy. “Euphorbia peraih juara kesatu termasuk jenis yang susah pemeliharaannya. Saat kontes penampilannya bisa mulus tanpa cacat alias sehat,” ujarnya. Di kelas Gymnocalycium mihanovichii kluster para peserta tampil maksimal. Namun, juri tetap harus memilih yang terbaik di antara yang terbaik.

Baca juga:  Tuna Terbaik ala Jepang

Gymnocalycium mihanovichii koleksi Andre Tatalaras akhirnya menjadi jawara di kelas itu. “Kaktusnya besar, kondisi mulus, dan warnanya maksimal,” ujar Temmy. Kaktus Gymnocalycium mihanovichii, termasuk tanaman hias yang sedang naik daun. “Saya berharap tren Gymnocalycium mihanovichii bisa perlahan alias tidak drastis. Kalau perlahan, maka kondisi pasar relatif stabil,” ujarnya.

Sansevieria
Selain itu kontes sansevieria juga tak kalah seru. Sebanyak 125 peserta yang terbagi menjadi 3 kategori yaitu hibrida, variegata, dan nonvariegata beradu cantik di atas meja. Sansevieria pinguicula koleksi Agus Prasetyo asal Malang, Jawa Timur, meraih gelar best in show dalam ajang itu. Juri asal, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Muhammad Yusuf menuturkan, sansevieria variegata terbaik memiliki warna kuning yang ‘ngejreng’ alias tajam.

Sansevieria dark green clone peraih juara variegata.

Sansevieria dark green clone peraih juara variegata.

“Coraknya berlapis antara kuning dan hijau. Pembagiannya sekitar 60% warna kuning, 40% warna hijau,” ujar Yusuf. Dari segi kesehatan tanaman juga harus optimal alias tidak terserang hama dan penyakit. Di kelas hibrida sansevieria beraneka karakter juga bertarung merebut hati para juri. “Untuk kelas hibrida, semakin menarik dan semakin berbeda karakter dengan sansevieria pada umumnya nilainya semakin tinggi,” ujar Yusuf.

Menurut pehobi sansevieria sekaligus panitia pada kontes itu, Santoso Nugroho, kelas hibrida cukup menarik. “Para penyilang Indonesia mulai rapi dengan mencatat tetua masing-masing anakan. Hal itu membuat sansevieria hibrida Indonesia bisa bersaing dengan sansevieria dari negara-negara lain termasuk Thailand,” ujarnya. Hal itu pula yang membuat sansevieria tetap eksis di hati para penggemarnya karena selalu muncul jenis-jenis baru dari tangan para penyilang.

Jawara Gymnocalycium mihanovichii kluster unggul dari kesehatan tanaman dan warna yang optimal

Jawara Gymnocalycium mihanovichii kluster unggul dari kesehatan tanaman dan warna yang optimal

Para peserta kontes sansevieria mencapai 125 tanaman. Para pemilik lidah mertua itu berdatangan dari berbagai daerah seperti Sidoarjo, Malang, Surabaya, Madiun (semua di Jawa Timur), Jakarta, dan Wonosobo (Jawa Tengah). “Dari jumlah peserta hampir sama dengan kontes sebelumnya, tetapi dari segi kualitas semakin meningkat,” ujar pehobi sansevieria asal Surabaya, Jawa Timur, itu.

Walikota Surabaya, Jawa Timur, Dr. Ir. Tri Rismaharini, M.T. (tengah) bersama para juara kontes tanaman hias 18—21 Mei 2017, Surabaya, Jawa Timur

Walikota Surabaya, Jawa Timur, Dr. Ir. Tri Rismaharini, M.T. (tengah) bersama para juara kontes tanaman hias 18—21 Mei 2017, Surabaya, Jawa Timur

Di kontes aglaonema menghadirkan 67 peserta dari berbagai daerah. Menurut panitia kontes, Bangkit Satrio, dibandingkan dengan kontes sebelumnya, jumlah peserta lebih banyak. Selain itu kualitas tanaman semakin meningkat. Di kelas kochin, koleksi Abiyoso asal Malang, Jawa Timur, meraih juara kesatu. Menurut juri asal Jakarta, Kushendriono, kochin itu unggul dari tajuk, warna, penyajian, dan kondisinya mulus alias sehat.

Euphorbia gymnocalycioides, milik Andy Basman, berumur 9 tahun.

Euphorbia gymnocalycioides, milik Andy Basman, berumur 9 tahun.

Aglaonema snow white koleksi Andy Bastam, asal Malang, Jawa Timur, meraih jawara kelas majemuk. “Juara kelas majemuk unggul dari tajuk bulat, susunan daun rapat, sehat. Penyajiannya juga bagus,” ujar Kushendriono. Walikota Surabaya, Jawa Timur, Dr. Ir. Tri Rismaharini, M.T., yang menutup rangkaian kontes dan pameran tanaman hias itu berharap para pehobi semakin bersemangat mengembangkan koleksinya.

Aglaonema majemuk unggul dari susunan daun yang rapat dan sehat.

Aglaonema majemuk unggul dari susunan daun yang rapat dan sehat.

“Menghasilkan tanaman hias yang cantik merupakan pekerjaan yang sulit karena sebuah karya seni,” ujarnya. Ia berharap, tanaman hias tak sekadar bisnis kecil atau jual beli biasa, tetapi mampu menjadi sebuah industri. Wujudnya bisa rental tanaman hias untuk hotel-hotel di Surabaya dan sekitarnya. “Kalau melihat potensi tanaman hias di Indonesia, saya optimis bisa bersaing dengan luar negeri termasuk Thailand,” ujarnya. (Bondan Setyawan)

Baca juga:  Selamat Tinggal Radang Tulang

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d