Kampiun Belum Berujung 1
Juara 1 anthurium variegata senior

Juara 1 anthurium variegata senior

Dua belas kali tampil, 11 kali jawara.

Itulah prestasi anthurium eskobar variegata milik Hariyanto dari Surakarta, Jawa Tengah. Sejak dimilikinya setahun silam, tanaman eksotis itu 12 kali mengikuti kontes anthurium nasional maupun regional. “Pertama ikut kontes mendapat juara ke-2, setelah itu juara ke-1 terus hingga sekarang,” ujarnya. Kontes terakhir diikuti Hariyanto di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, dalam acara Gebyar Kontes Anthurium Indonesia pada 8 Juni 2014.

Di kontes itu, koleksinya kembali diuji. Namun, keindahan tanaman itu masih belum luntur. Para juri di antaranya Iskandar Laksamana dari Jakarta, Eddy Pranoto (Salatiga), dan Ujud Rofianto (Malang) sepakat menobatkan anthurium milik Hariyanto sebagai jawara di kelas paling bergengsi yaitu variegata senior. “Karakter variegata dan kesehatannya sangat bagus,” kata Iskandar Laksamana. Ada 9 kelas dilombakan di antaranya kelas jenmanii pemula, jenmanii tanduk, campuran, dan kobra catalog.

Menurut Sapto Birowo, ketua panitia kontes, jumlah peserta kontes sekitar 94 tanaman. Para pehobi berdatangan dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Malang, dan Yogyakarta. “Dari segi kuantitas tanaman masih belum maksimal, tetapi untuk kualitas sudah sangat bagus,” ujar Sapto.

Ariocarpus retusus unggul karena mengalami mutasi monstrous seluruh tuberclenya

Ariocarpus retusus unggul karena mengalami mutasi monstrous seluruh tuberclenya

Surabaya
Pada 25 Mei 2014, Kampoeng Sanse Soerabaja (KSS) menyelenggarakan kontes nasional sansevieria di Golden City Mall Surabaya, Jawa Timur. Kontes untuk menyambut ulang tahun ke-721 Kota Surabaya itu memperebutkan piala walikota Surabaya ke-4. Dari catatan panitia ada 198 tanaman yang beradu cantik di 9 kelas yang dilombakan. Peserta datang dari : Jakarta, Wonosobo, Madiun, dan Nganjuk. “Di kelas small kualitas tanaman yang hadir lebih unggul,” kata Fathiyah Amieni, panitia bagian humas.

Baca juga:  Pujian untuk Billi

Untuk penjurian, panitia membagi tanaman menjadi dua golongan yakni variegata dan hijau. Juri tanaman variegata Sapto Nugroho (Surabaya), Febri Widhi Armanu (Magelang), dan Deni (Jonggol). Sementara pada tanaman hijau dinilai oleh Bimo (Pati), Irwan (Surabaya), dan Eko Arisanto (Jakarta).

Juara sansivieria variegata small B

Juara sansivieria variegata small B

Pada kontes itu, sansivieria koleksi Mus Muryanto dari Surabaya berhasil meraih juara umum setelah menyabet 6 piala. Di kelas variegata small A, small B flat, S. pinguicula dan S. arborescens milik Mus tampil menonjol. Susunan daun kompak dan meliuk indah. Pun corak variegata tegas membuat juri sepakat menabalkan dua tanaman belang itu sebagai juara di kelasnya. “Ketelatanan merawat sansevieria akhirnya membuahkan hasil,” kata Mus.

Penggemar lidah mertua sejak 2003 itu, meletakkan tanaman di dalam jaring berkerapatan 20%. Ia menggunakan media tanam campuran pasir malang, biji randu, dan sekam mentah dengan perbandingan 3:2:1. Setiap 2 pekan, pria berusia 39 tahun itu menyiramkan vitamin dan pupuk cair yang dicampur dalam 2 liter air. Agar susunan daun rapat alami, ia memutar tanaman mengikuti sinar matahari setiap pekan.

Penjurian Gebyar Kontes Anthurium Indonesia pada 8 Juni 2014 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat

Penjurian Gebyar Kontes Anthurium Indonesia pada 8 Juni 2014 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat

Kaktus dan sukulen
Komunitas pencinta kaktus dan sukulen tanahair Cactus and Succulent Society of Indonesia (CSSI) juga menyelenggarakan acara tahunan di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 14—15 Juni. Mereka memamerkan berbagai keluarga kaktus, tanaman sukulen seperti caudiciform dan euphorbia, serta sukulen daun misalnya agave, haworthia, dan gasteria. Ratusan pot tanaman milik kolektor kaktus dan sukulen dari berbagai kota hadir memeriahkan acara yang bertujuan edukasi itu. “Tanaman yang ikut serta rata-rata unik dan langka,” kata Muhammad Habib Widyawan, anggota CSSI.

Baca juga:  Andalan Atasi Antraknosa

Sejak awal pameran, sesosok Ariocarpus retusus dalam balutan pot keramik cokelat menyita perhatian pengunjung. Koleksi Sugita Wijaya di Surabaya itu memang sangat istimewa. Puluhan tubercle—batang kaktus—tersusun rapat dan kompak setinggi 35 cm dan berdiameter 25 cm. “Penampilan seperti itu menjadi incaran kolektor,” kata Wijaya. Maklum, untuk memperoleh kaktus berukuran seperti itu butuh waktu lama.

Haworthia truncata istimewa karena bermutasi warna

Haworthia truncata istimewa karena bermutasi warna

Yang istimewa lainnya, A. retusus cv cauliflower yang berbentuk bagai kembang kol seperti namanya. Keistimewaan itu karena adanya mutasi monstrous di seluruh tubercle. Penyebabnya terjadi kerusakan pada beberapa gen pengatur ekspresi sehingga bentuk kaktus menjadi tak beraturan. Lazimnya, permukaan tubercle A. retusus halus, tetapi pada mutasi monstrous permukaan tubercle menjadi tonjolan-tonjolan menggembung, kasar, dan eksotis. Pantas, bila tanaman monster itu menyandang gelar kaktus terbaik sepanjang pameran. (Bondan Setyawan/Peliput:Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *