Sukses memasarkan kopi robusta di sentra arabika.

Naluri bisnis Winda Triono bangkit ketika melihat kopi robusta sama sekali tidak dilirik masyarakat Kabupaten Benermeriah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bersama Kabupaten Aceh Tengah dan Gayo Lues, Benermeriah menjadi sentra kopi arabika gayo yang harum dan legitnya sohor sampai mancanegara. Harga kopi beras (green bean) robusta di sentra kopi itu hanya Rp2.000—Rp3.000 per kg.

Pria 32 tahun itu melihat peluang menangguk margin besar kalau bisa meningkatkan nilai kopi robusta yang tumbuh di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Ia lantas membeli biji kopi robusta dari petani, memanggangnya sampai kematangan sedang atau light-medium, lalu menggiling menjadi bubuk. Winda membungkus serbuk robusta dalam kemasan 100 gram. Ia lalu menitipkan bubuk kopi di kedai-kedai kopi di Kabupaten Benermeriah pada 2013.

Melawan arus

Winda Triono berkeliling menawarkan produknya. Wid—sapaannya—menawari kedai yang serapannya tinggi untuk kembali membeli, sedangkan yang serapannya rendah ditinggalkan. Sebulan pertama menjadi masa paling suram bagi Winda Triono. Setiap hari, hanya terjual 2—3 bungkus dari 100 bungkus yang ia bawa. Harga setiap bungkus berbobot 100 gram itu hanya Rp15.000. Siapa sangka penjualan yang sedikit itu justru mengundang lebih banyak pelanggan.

Pembeli puas, memesan ulang sambil merekomendasikan produk Wid kepada teman-temannya. Penjualan meningkat menjadi 10 bungkus sehari. “Ada pembeli yang setelah minum kopi saya mengaku kalau kopi lain menjadi terasa tidak enak. Sekarang dia menjadi reseller,” kata Wid. Berselang 3 bulan, upaya Wid itu berhasil. Dasar penggemar kopi, masyarakat Gayo ternyata menerima dan menyukai robusta kelas ningrat itu.

Beberapa kedai memesan ulang meski tidak sedikit yang malah mengembalikan produk berlabel Kopi Kelingan itu. Kedai-kedai yang semula menolak sekarang rutin minta pasokan rata-rata 100—250 g setiap 2—3 hari. Selain kualitas prima, pelanggan Wid tertarik lantaran harga sangat murah. Ia memang mengutamakan volume penjualan besar dengan margin kecil daripada sebaliknya. Cara itu terbukti efektif memikat pembeli.

Lahan robusta seluas 0,9 ha didominasi pohon tua

Alumnus IPMI International Business School, Jakarta, itu mengolah kopi robusta hingga 80 kg biji kopi per bulan. Itu hasil olahan 100—120 kg biji kopi beras hasil kebun sendiri ditambah membeli dari pekebun. Perniagaan kopi robusta itu memberikan omzet sedikitnya Rp26 juta per bulan. Itu membuktikan bahwa berbisnis robusta di sentra arabika sebuah keniscayaan. Apalagi sejak pembukaan bandara Rembele di Benermeriah pada Agustus 2016 memudahkan akses ke Gayo sehingga permintaan kopi melonjak.

Winda Triono memperkenalkan kopi robusta hasil pemrosesan secara natural wine. Lazimnya orang Gayo mengolah robusta dengan memanggang biji tanaman anggota famili Rubiaceae itu hingga gosong, lalu menggilingnya menjadi bubuk. Hal itu terutama dilakukan transmigran asal Pulau Jawa sesuai kebiasaan di tempat asal mereka. Pengusaha kopi sejak 2013 itu mengubah cara olah sehingga cita rasa kopi lebih lezat.

Pasar meluas

Wid mempunyai pelanggan yang rutin meminta kiriman sehingga pasar fine robusta di Benermeriah terbentuk. Melihat peluang dan atas ajakan sang adik, Teguh Suryadi, Wid mulai mengolah dan memasarkan kopi arabika pada 2016. Mereka mengolah arabika secara semiwash, natural honey, dan natural wine. Pengusaha itu juga memproduksi kopi dari luwak liar di kebun mereka sendiri maupun hasil kebun lain.

Pengolahan robusta secara tradisional dengan memanggang sampai gosong

Pemasaran secara daring (online) dengan label WD Gayo Coffee menjangkau berbagai kota di tanah air seperti Banda Aceh, Pekanbaru, dan Jakarta. Konsumen Wid pada umumnya kafe dan kedai kopi yang menginginkan biji kopi beras, biji sangrai, atau penikmat perorangan yang membeli bubuk kopi arabika. Wid mengolah 100—120 kg kopi arabika per bulan. Ia menjual olahan itu Rp75.000—Rp300.000 per kg. Harga variatif tergantung kepada jenis (robusta atau arabika), pemrosesan, dan kemasan.

Salah satu unsur vital produksi kopi berkualitas adalah pemanggangan (roasting). Wid mempercayakan tugas itu kepada seorang rekan yang sejak lama mengolah kopi. Mengandalkan pemanggang kreasi sendiri, sang teman mengolah biji kopi. Setelah digiling menjadi serbuk lalu diseduh, tersajilah segelas kopi bercita rasa mantap dengan penampilan sekelas pabrikan kelas atas. Lapisan krema menghiasi permukaan seduhan itu, mengundang penikmat untuk segera menyesapnya.

Tingkat kematangan sedang menjadikan body robusta terasa ringan dan minim purnarasa (aftertaste) yang “menembak” di belakang mulut. Pantas konsumen Wid “ketagihan” pada kopi olahannya. Sejatinya Winda Triono belum lama menekuni bisnis kopi. Winda Triono mengawali karier sebagai karyawan sebuah bank swasta di Benermeriah. Kariernya moncer. Belum 4 tahun bekerja, sang atasan mempromosikannya menjadi kepala cabang.

Di balik itu, Wid kerap gelisah karena merasa tidak menemukan jiwanya. “Jiwa saya wirausaha,” ungkapnya. Pemikiran itu membuatnya mantap mengundurkan diri dari pekerjaan awal 2013 meski belum memiliki pengganti mata pencaharian. Padahal saat itu, sang istri tengah hamil anak pertama mereka. Rumah pun mengontrak. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Wid membuang jauh-jauh gengsi.

Saat demam batu akik melanda masyarakat, ia sempat membuka jasa pengasahan batu akik dan pembuatan cincin. Selanjutnya Wid mengolah ceri kopi menjadi biji untuk mencari nafkah. “Pekerjaannya banyak dan menghabiskan waktu, tapi ketika dijual tidak langsung dibayar,” ungkapnya. Otaknya terus berputar mengincar peluang. Ia melirik popularitas kopi robusta gayo yang menanjak sejak konflik berakhir.

Kini Wid dan Teguh berbagi tugas. Wid menangani pengolahan, pengemasan, dan pemasaran, sedangkan Teguh mengurus budidaya, panen, dan pembelian dari petani. Teguh mengurus kebun dengan luas 2,9 ha warisan orang tua mereka yang terpisah menjadi 4 petak. Hanya satu petak seluas 0,9 ha berisi pohon kopi robusta, sisanya arabika. Hampir semua pohon mereka berumur tua sehingga produksinya menurun.

Oleh karena itu, Wid mengolah biji hasil pembeli dari pekebun lain. Pria kelahiran 1986 itu sukses berniaga kopi meski harus menentang arus. Sebagai karyawan, ia menentang arus dengan menjadi wirausahawan. Di sentra arabika, ia menentang arus dengan menjual robusta. Dua kali menentang arus, dua kali Winda Triono menjadi pemenang.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d