Budidaya jamur kancing di wadah aluminium yang disusun di rak 8 tingkat

Budidaya jamur kancing di wadah aluminium yang disusun di rak 8 tingkat

Dengan inovasi panen champignon rata-rata 32-45 kg per orang dalam sejam.

Para pemetik jamur itu berjajar rapi di belakang sebuah meja dengan 2 keranjang di depannya. Sebuah keranjang miring sekitar 45 derajat di bagian atas dan keranjang lain di bagian bawahnya datar. Kedua tangan mereka terbungkus sarung tangan. Sejurus kemudian beberapa wadah aluminium berisi ratusan pinhead jamur Agaricus bisporus bergerak dari arah dalam rumah tanam. Persis di samping setiap pekerja, wadah itu berhenti. Segera saja masing-masing pemetik memanen jamur kancing terpilih. Jamur berdiameter 3,5-10 cm.

Para pekerja lalu memasukkan champignon itu ke keranjang di depan mereka berdasarkan diameter tudung buah. Pertama jamur berdiameter tudung hingga 3,5 cm atau disebut kancing bayi. Kedua, jamur kecil berdiameter 3,5-4,5 cm, jamur sedang (4,5-6 cm), dan jumbo (6-10 cm). Proses itu dilakukan secara berhati-hati. Sebab sedikit saja terluka karena gesekan, jamur rusak dan pasar menolak hasil panen. Setelah kontainer terisi penuh jamur, pekerja kemudian memindahkan keranjang ke atas rel. Wadah itu bergerak di atas ban berjalan menuju gudang pascapanen.

Dengan sistem jamur menghampiri pekerja, waktu panen pun 25% lebih cepat dibandingkan sistem konvensional. Hasil panen tergantung ukuran jamur, rata-rata antara 32-45 kg/jam. Panen lebih cepat karena dengan cara itu pemanen punya lokasi lebih baik.

Satu periode budidaya berlangsung 30 hari

Satu periode budidaya berlangsung 30 hari

Wadah aluminium

Pada 1994 Ad Peffer membangun nurserinya dengan sistem berjalan lengkap yang dikonstruksi oleh Gertjan van Staalduinen. Perusahaan jamur di Belanda yang diberi nama Worldchamp itu konsisten memproduksi jamur kancing. Wajar jika saat ini perusahaan itu yang terbesar di Negeri Kincir Angin. Worldchamp membudidayakan jamur sepanjang tahun di 4 lokasi. Lokasi pertama di Ammerzoden seluas 17.520 m2 dengan 100 pegawai, Horst (10.240 m2, 110 pegawai), Kerkdriel ada 2 lokasi (16.360 m2, 49 orang).

Baca juga:  Penggerak Wanita Berkebun

Worldchamp menggunakan media tumbuh jamur yang sebagian besar berasal dari kotoran kuda, sedikit kotoran ayam, jerami, dan gips. Hingga saat ini Worldchamp tidak pernah mengalami kendala bahan baku kotoran kuda. Itu karena jumlah kuda di Belanda terus meningkat. Sebelum digunakan campuran media jamur itu difermentasi selama 6 hari dengan suhu maksimal sekitar 80 derajat Celsius.

Worldchamp memiliki 4 nurseri jamur kancing di Ammerzoden, Horst, dan Kerkdriel dengan total luas 4,4 ha

Worldchamp memiliki 4 nurseri jamur kancing di Ammerzoden, Horst, dan Kerkdriel dengan total luas 4,4 ha

Setelah itu media dibawa ke tempat khusus. Di sana petugas menginokulasi miselium jamur. Miselium jamur yang tumbuh di biji jagung bersumber dari perusahaan khusus. Proses lengkap itu tidak berlangsung di nurseri, tapi perusahaan lain. Jadi kompos berisi miselium jamur itu datang dengan truk khusus ke nurseri. Melalui papan berjalan kompos dituang ke wadah aluminium berukuran 2,4 x 1,2 m2.

Aluminium digunakan karena mudah dibersihkan setelah jamur selesai panen. “Tinggal dicuci saja dengan air agar bersih sehingga dapat digunakan kembali,” kata Ad Peffer. Perusahaan yang menanam jamur sejak 20 tahun silam itu memiliki total 6.000 wadah. Di nurseri wadah aluminium itu disusun di rak 8 tingkat.

Kompos berisi miselium jamur dari perusahaan lain dibawa melalui papan berjalan untuk dituang ke wadah aluminium

Kompos berisi miselium jamur dari perusahaan lain dibawa melalui papan berjalan untuk dituang ke wadah aluminium

12 kali per tahun

Permukaan atas kompos di wadah aluminium dilapisi tanah bersih dan khusus dengan ketebalan sekitar 5 cm untuk menjaga kelembapan media. Suhu di dalam media sekitar 25°C dan di dalam ruang pertumbuhan sekitar 17°C. Setiap 3-4 hari kompos disiram air sebanyak   20 l per m2. Miselium mulai tumbuh di atas lapisan tanah. Panen pertama sekitar 18 hari kemudian. Panen dengan tangan dan jamur bagian bawah dipotong. Panen perdana itu berlangsung sekitar 5 hari. Hasilnya 16-17 kg per m2.

Baca juga:  Kawal Bawal Sampai Daratan

Setelah panen, media dilembapkan kembali. Selang 4 hari jamur dapat dipanen kembali selama 5 hari. Hasil panen kedua 10 kg per m2. Setelah panen kedua selesai semua isi di wadah dikosongkan dan dijual ke petani sebagai pupuk. Wadah dibersihkan dengan air bersih secara hati-hati untuk budidaya berikutnya. Dengan cara itu Worldchamp dapat membudidayakan jamur kancing 12 kali per tahun. Satu periode budidaya berlangsung 30 hari.

Dengan sistem jamur menghampiri pekerja, waktu panen 25% lebih cepat. Rata-rata 32-45 kg per orang dalam sejam

Dengan sistem jamur menghampiri pekerja, waktu panen 25% lebih cepat. Rata-rata 32-45 kg per orang dalam sejam

Worldchamp membudidayakan jamur kancing Agraricus bisporus berwarna putih (85%) dan abu-abu (15%). Kecepatan tumbuh sekitar 100% dari bobotnya per hari. Dikarenakan budidaya yang cepat, 2 kali panen dalam sebulan, dan situasi budidaya yang bersih maka hampir tidak ada penyakit.

Total produksi 240.000 kg per minggu atau 960 ton champignon per bulan dari lahan 4,4 ha. Sekitar 50% untuk pasar segar dan setengahnya lagi untuk industri pengawetan makanan. Worldchamp memasarkan 40% dari total volume produksi jamur kancingnya ke Inggris dan sisanya ke negara lain di Eropa seperti Belanda, Jerman, dan Belgia. (Henk van Staalduinen)

Keranjang berisi jamur hasil sortasi bergerak di atas ban berjalan menuju gudang pascapanen

Keranjang berisi jamur hasil sortasi bergerak di atas ban berjalan menuju gudang pascapanen

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d