Juara Setelah Mati Cabang 1
Santigi milik I Wayan Arthana dari Gianyar, Bali, best in show di kategori utama.

Santigi milik I Wayan Arthana dari Gianyar, Bali, best in show di kategori utama.

Adu bonsai-bonsai berkualitas di Sidoarjo.

Batang santigi itu menggembung dan meliuk. Tak ada lilitan kawat yang menempel di tubuh Pemphis acidula itu pertanda bonsai sudah matang. Kulit batang keriput dan mengelupas mengesankan pohon tua. Susunan cabang dan ranting tampak proporsional, rapi, dan sangat alami. Akar kokoh mencengkeram tanah menyempurnakan penampilan bonsai koleksi I Wayan Arthana dari Kabupaten Gianyar, Bali.

Bonsai bergaya bunjin itu meraih best in show di kelas utama pada Gebyar Pameran
Bonsai Nasional 2015 di Lapangan Giant Maspion Square, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Santigi memperoleh gelar juara itu setelah menyisihkan 32 bonsai berpenampilan elok lainnya. Ketua juri, Maya Rusmayadi, menuturkan secara keseluruhan santigi itu memiliki karakter dan keindahan paling baik dan berpadu apik dengan pot yang harmonis.

Santigi milik De Tone dari Denpasar, Bali, best in show di kategori madya.

Santigi milik De Tone dari Denpasar, Bali, best in show di kategori madya.

Berkualitas
Santigi itu mengumpulkan poin tertinggi pada 4 kriteria penilaian meliputi penampilan, gerak dasar, keserasian, dan kematangan. I Wayan Arthana sangat bangga pada bonsai itu. Maklum, tanaman yang diperoleh 4 tahun silam itu baru pertama kali terjun di kategori utama. “Dulu kondisinya sangat merana sebab terserang mati cabang dan ranting,” ujarnya. Ia merawat intensif seperti pemupukan, pemangkasan, dan pengawatan untuk mengembalikan performa tanaman.

Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gianyar itu menuturkan bonsai elok tidak diperoleh sekejap mata, tetapi butuh kesabaran, ketelitian, dan ketelatenan tinggi. “Pengetahuan mengenai karakter tanaman pun sangat dibutuhkan demi memperoleh bonsai bersosok sempurna,” ujarnya. Boleh dibilang kontes dan pameran pada 2—7 Juni 2015 itu ajang pamer kemampuan pehobi dalam merawat bonsai.

Elegan milik Eddy Suryanto dari Malang, Jawa Timur, best in show di kategoriregional.

Elegan milik Eddy Suryanto dari Malang, Jawa Timur, best in show di kategoriregional.

Ketua panitia, Sastro Wardoyo, menuturkan 320 bonsai mengikuti kontes yang dimotori oleh Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Sidoarjo. Bonsai-bonsai itu milik pehobi dari berbagai kota besar di Jawa Timur (Pamekasan, Surabaya, Sidoarjo, Madiun, dan Jember), Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Semarang), dan Bali (Gianyar dan Denpasar).

Baca juga:  Para Liliput Beradu Elok

Menurut catatan panitia jumlah bonsai yang turun di kelas utama mencapai 32 bonsai, madya (95), dan regional (193). Bonsai-bonsai itu beradu cantik memikat perhatian juri. Jumlah kontestan yang sangat banyak dengan kualitas pohon mumpuni memaksa juri menghabiskan waktu selama 3 hari untuk menilai. “Lebih dari separuh kontestan di setiap kelas berhasil mendapat predikat baik sekali dengan selisih nilai sangat tipis,” ujar Wardoyo.

Santigi milik Fauzi Tubat dari Sidoarjo, Jawa Timur, best in size di kategori utama.

Santigi milik Fauzi Tubat dari Sidoarjo, Jawa Timur, best in size di kategori utama.

Anggota
Di kelas madya, santigi milik De Tone dari Denpasar paling moncer dengan total perolehan nilai 329,00. Sementara itu, Ficus elegan milik Eddy Suryanto dari Malang mengalahkan para pesaingnya di kelas regional dengan total nilai 328,00. Keduanya berhak menyandang gelar best in show. Pagelaran semakin meriah dengan hadirnya 12 bonsai kelas bintang dan stan tanaman hias.

Husny Bahasuan, pehobi senior di Sidoarjo, menuturkan kegigihan panitia mempersembahkan bonsai-bonsai berkualitas di atas rata-rata patut diapresiasi. “Mereka mengejar kualitas bukan kuantitas,” ujar Husny. Itu sebabnya kelas prospek yang biasanya menyedot peserta paling banyak dalam kontes ditiadakan. Namun, jumlah peserta tetap memenuhi target.

Sancang, milik Freddy Nangoy dari Sidoarjo, Jawa Timur, best in size di kategori madya.

Sancang, milik Freddy Nangoy dari Sidoarjo, Jawa Timur, best in size di kategori madya.

Panitia pun mensyaratkan pehobi yang ingin berpartisipasi harus terdaftar sebagai anggota PPBI. Penggemar bonsai nonanggota tetap memperoleh kesempatan mengikuti kontes dengan membayar biaya pendaftaran 3 kali lipat. Langkah itu sebagai bentuk penghormatan bagi anggota PPBI yang berupaya keras menciptakan bonsai-bonsai berkualitas. Gebyar bonsai itu juga menjadi momen penting bagi penggemar bonsai di Sidoarjo. Pasalnya, Saptodarsono, ketua umum PPBI Pusat, melantik Sastro Wardoyo sebagai ketua baru PPBI cabang Sidoarjo periode 2015—2019. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *