Johan di Kota Pahlawan 1
Adenium jawara total performance sekaligus best in show.

Adenium jawara total performance sekaligus best in show.

Kontes adenium, sanseviria, dan kaktus di Surabaya, Jawa Timur. Perawatan intensif kunci menjadi jawara kontes tanaman hias.

Adenium peraih juara unik kreasi.

Adenium peraih juara unik kreasi.

Adenium thai soco hybrid milik Vicky Adi Darmawan itu baru pertama kali ikut kontes dan langsung dapat juara terbaik atau best in show. Menurut juri asal Ponorogo, Jawa Timur, Tjandra Rony Widjaja, “Akar, batang, ranting, cabang, daun, dan bunga itu sempurna dan momennya sangat tepat, yaitu ketika adenium berbunga maksimal.”
Sebetulnya banyak peserta yang unggul di bagian akar, batang, dan ranting. Namun, tanaman anggota famili Apocynaceae itu sedang tidak berbunga. Akibatnya penilaian bagian bunga pun kosong.

Mutu meningkat

Vicky mendapatkan adenium johan atau juara pada 2015 dari sesama pehobi adenium di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Ia merawat adenium itu secara intensif. Media tanam berupa bokasi, pasir malang, dan sekam dengan perbandingan 1 : 3 : 1. Pemupukan vitamin B1 sekali sebulan. Vicky menuangkan 10 ml pupuk dan mengencerkan dalam 1 liter air bersih. Setelah mengaduk rata, barulah Vicky menyemprotkannya ke seluruh tanaman. Penyiraman sehari sekali.

Perawatan rutin itu sejak tiga bulan menjelang kontes. Pantas adenium koleksi Vicky tampil prima dalam kontes tanaman hias piala Walikota 2018. Penyelenggara kontes pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian pada 29 April 2018. Menurut anggota panitia kontes, M Imam Zulkarnain, jumlah peserta mencapai 107 tanaman. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Madura, Banyuwangi, Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Situbondo.

Peraih juara hibrida utama.

Peraih juara hibrida utama.

Menurut petani di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Glen Hayat, kontes bisa mendongkrak tren adenium di kalangan petani, penyilang, kolektor, dan semua pemain adenium. Hal itu pula yang membuat para pemain adenium meningkatkan kualitas produksinya. Tjandra Rony Widjaja menuturkan hal senada. “Saya melihat adenium-adenium berkualitas seperti pada saat booming pada 2007. Saat itu masih banyak adenium impor, sekarang didominasi adenium produksi dalam negeri,” ujar Rony.

Baca juga:  Rumah Elite Sangkuriang

Pada hajatan besar itu, panitia juga menggelar kontes sansevieria nasional. Total peserta 129 tanaman dari berbagai daerah seperti Ngawi, Malang, Surabaya—semua di Provinsi Jawa Timur, Jakarta, dan Boyolali, Jawa Tengah. Menurut juri asal Surabaya, Sapto Nugroho, dibanding dengan kontes tahun lalu kualitas peserta lebih bagus dan merata. Hal itu membuat penjurian berlangsung sengit.

Sansevieria koleksi pehobi dari Gresik, Jawa Timur, Nuri, meraih juara di kelas variegata small A. Ia menggunakan media tanam campuran pasir malang, sekam, dan klenteng atau biji kapuk dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Nuri menaburkan batu apung di atas media tanam. Ia juga memberikan pupuk lambat urai. Interval pemupukan 3 bulan sekali. Ia memberikan 20 butir per pot.

Di kelas hibrida prospek dan madya, sansevieria koleksi Andre Martha meraih juara kesatu. Pehobi asal Surabaya, Jawa Timur, itu bangga karena para pesaing di kelas itu juga berkualitas tinggi. Menurut Andre merawat sansevieria hibrida gampang-gampang susah. Untuk mendapatkan performa yang bagus dengan menjaga tanaman dari proses pembungaan. “Tiap hari harus dicek, kalau ada anakan segera potong. Kalau tanaman beranak dan berbunga maka pertumbuhannya berhenti,” kata Andre.

Kaktus kampiun

Sansevieria pinguicula peraih jawara variegata small A.

Sansevieria pinguicula peraih jawara variegata small A.

Di kontes kaktus dan sukulen, koleksi Andreas Atmadjaja meraih gelar tertinggi di kelas Gymnocalycium mihanovichii cluster. “Kaktusnya paling besar di antara kaktus lain dalam kelas itu. Dari segi warna seimbang. Juara kesatu unggul dari besarnya,” ujar juri asal Bogor, Jawa Barat, Fernando Manik. Tanaman itu juga mendapatkan juara di ajang dan kelas yang sama pada 2017. Ia mengharapkan tahun depan ada yang bisa menyaingi kaktus koleksinya.

Gymno mihanovichii peraih dua kali juara dua tahun berturut-turut pada 2017 dan 2018.

Gymno mihanovichii peraih dua kali juara dua tahun berturut-turut pada 2017 dan 2018.

Andreas mempersiapkan koleksinya sebulan sebelum kontes seperti membersihkan tanaman dan media tanaman. Ia mendapatkan kaktus itu dari sesama pemain kaktus di Surabaya. Umur tanamannya sekitar 35 tahun. Pehobi tanaman hias itu menggunakan media tanam berupa 70% batu apung, 15% sekam bakar, dan 15% pupuk organik. Andreas meletakkan kaktus itu di bawah naungan plastik antiultraviolet. Penyiraman sepekan dua kali.

Baca juga:  Manfaat Mikoriza Untuk Tanaman agar Subur

Di kelas euphorbia, juaranya unggul karena nilai sempurna, sementara juara kedua kalah fit. “Juaranya unggul karena daun lebih segar dan kaku. Sementara juara dua, meski bentuk bagus tetapi daun lagi tidak bagus,” ujar Manik. Menurut anggota panitia kontes, Ibnu Ilyas, ada 84 tanaman yang pemiliknya berdatangan dari berbagai daerah seperti Semarang, Surakarta, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Bogor, dan Jakarta.

Para peserta dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kaktus dan sukulen. “Di kaktus ada 6 kelas yaitu Gymnocalycium mihanovichii prospek, G. mihanovichii single, G. mihanovichii cluster, cluster all species, variegata all species, dan Cristata all species. Sementara kelas sukulen ada euphorbia dan caudex,” ujarnya. Semua pehobi yang mengikutkan tanaman hias pada kontes itu memahami bahwa perawatan intensif kunci menjadi pemenang. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *