Jeruk sunrise lime koleksi Bunder Hortikultura.

Jeruk sunrise lime koleksi Bunder Hortikultura.

 

Dua jeruk baru dari Australia, sunrise lime dan finger lime.

Puluhan buah jeruk seukuran ibu jari orang dewasa itu memenuhi tajuk tanaman setinggi 2 meter. Menurut pemilik tanaman, Rudy Harianto, nama jeruk itu sunrise lime, hasil persilangan antara jeruk finger lime dan calamondin. “Selain berpenampilan menarik, sunrise lime juga bercita rasa manis,” kata Rudy yang mengelola Bunder Hortikultura di Wagir, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur.

Tanaman berumur satu tahun menghasilkan 30—50 buah sunrise lime saat panen perdana.

Tanaman berumur satu tahun menghasilkan 30—50 buah sunrise lime saat panen perdana.

Ia mendatangkan Citrus reticulata itu dari Australia dalam bentuk entres pada 2015. Rudy mengatakan sunrise lime tergolong adaptif di tanah air karena mulai berbuah ketika berumur satu tahun. Tanaman itu juga berbuah lebat lantaran menghasilkan 30—50 buah per pohon ketika magori atau panen perdana. Tingkat keberhasilan hidup 80—90% dan siap panen saat berumur 8—9 bulan pascabunga.

Finger lime

Fingerlime di kebun Rudy merupakan varietas rainforest pearl dengan warna kulit buah saat matang ungu kehijauan atau merah muda. Pulpi saat buah matang berwarna hijau hingga merah muda. Dalam label yang ia beli, jeruk itu cocok ditanam di halaman dan dapat ditanam di pot saat muda. Tanaman mulai berbuah pada umur 2—3 tahun. Agar pertumbuhan optimal, hilangkan bunga dan buah saat tahun pertama.

Adapun sunrise lime merupakan hibrida silangan fingerlime dengan calamondin yang memiliki karakter antara jeruk mandarin dan cumquat. Daun sunrise lime berwarna hijau berbentuk oval dengan panjang 40—50 mm lebar 20—30 mm. Sunrise lime memiliki warna buah yang menarik yaitu kuning cerah dengan tinggi tanaman 2—3 meter. Tanaman sunrise lime terseleksi pada 1990 oleh Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO), Merbein, Australia. Eksperimen blok di Merbein, buah sunrise lime mulai menua pada Agustus—September dan panen buah pada September.

Baca juga:  Parfum Bikin Walet Betah

Konsumen tanaman buah di Bunder Hortikultura menyukai kelebatan buah dan cita rasa masam manis. “Sunrise lime lebih cocok untuk tanaman buah hias,” kata Rudy Harianto. Alumnus Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Universitas Brawijaya, itu membudidayakan sunrise lime dalam media tanam campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 2 : 1. Ia memberikan satu sendok makan pupuk NPK untuk pohon setinggi 1 meter setiap bulan.

Saat fase generatif, tanaman mendapatkan 2 gram pupuk MKP per 1 liter air. Menurut peneliti di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Kotamadya Batu, Jawa Timur, Ir. Emi Budiyati, sunrise lime cocok untuk perayaan hari besar etnis Tionghoa seperti Imlek. Kini hanya sedikit kolektor yang memiliki jeruk itu. Emi Budiyati menuturkan, penampilan sunrise lime menyerupai nagami.

Sepintas penampilan jeruk itu mirip nagami asal Jepang yang juga berukuran mini. Masyarakat Indonesia telah lama mengenal nagami. Bedanya ukuran nagami lebih panjang dibandingkan dengan buah sunrise lime. Selain sunrise lime, jeruk anyar lain koleksi Rudy yaitu finger lime. Jeruk yang menyerupai jari manusia dewasa itu unik lantaran berbulir besar dan mudah terlepas dari buah.

Jeruk calamondin, salah satu tetua sunrise lime.

Jeruk calamondin, salah satu tetua sunrise lime.

Bentuk bulir seperti kaviar atau telur ikan sehingga banyak warga Amerika Serikat yang mengebunkan Citrus australasica. Rudy Harianto mendatangkan finger lime bersamaan dengan sunrise lime. Sayangnya jeruk itu belum pernah berbuah sejak 2015. “Berbunga pun belum pernah,” kata Rudy. Padahal ia membudidayakan tanaman itu secara intensif sama dengan sunrise lime. Penangkar buah di Bogor, Jawa Barat, Teddy Soelistyo juga mengalami hal sama.

Suhu

Puluhan finger lime hasil penanaman pada 2016 hingga kini belum pernah berbuah. Padahal, Teddy membudidayakan jeruk itu secara intensif. Ia menggunakan media tanam campuran 30% sekam, 30% tanah, dan 40% kompos. Teddy memberikan satu sendok teh NPK per kantong tanam bervolume 50 liter saban bulan. Meski Teddy dan Rudy merawat secara intensif, finger lime belum berbuah.

Belum ada yang bisa membuahkan finger lime di Indonesia.

Belum ada yang bisa membuahkan finger lime di Indonesia.

Pakar buah dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Roedhy Purwanto, mengatakan beberapa tanaman jeruk impor seperti kumquat tidak bisa berbuah di Indonesia. Musababnya, “Iklim di Indonesia tidak cocok untuk fase induksi bunga,” kata Roedhy. Menurut doktor Fisiologi Tumbuhan alumnus Ehime University, Jepang, itu untuk fase induksi pembungaan, beberapa jenis jeruk membutuhkan suhu kurang dari 15oC selama 3 bulan.

Baca juga:  Berkembang Bersama Herbal

Jeruk itu berproduksi baik di dataran rendah dan tinggi. Perbedaan hanya pada warna kulit. Tanaman di dataran tinggi menghasilkan buah berkulit lebih jingga. Itulah sebabnya tampilannya pun lebih seronok. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments