Jeruk Baru Asal Batu 1
Sitaya agrihorti tahan hingga 2 bulan pascapanen.

Sitaya agrihorti tahan hingga 2 bulan pascapanen.

Dua jeruk unggul baru bercita rasa manis segar, rajin berbuah, berpenampilan menarik.

Menggerombol dengan kulit jingga kemerahan menjadi ciri khas jeruk bertipe siam ini. Tajuknya pendek dan rajin berbuah. Soal rasa, boleh diadu. Perpaduan manis segar menjadi keunggulan Citrus nobilis bernama sitaya agrihorti itu. Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) melepas jeruk baru itu pada 2014. Pada tahun-tahun mendatang, jeruk yang cocok menjadi tanaman buah dalam pot (tabulampot) itu bakal menjadi idaman pehobi untuk ditanam di pekarangan. Sitaya menjadi penghibur mata sekaligus penyejuk lidah.

Sitaya agrihorti sejatinya bukan berasal dari Kota Batu, Jawa Timur, lokasi Balitjestro. Jeruk itu dari kawasan Kalimantan Barat. Oleh karena itu lingkungan tumbuh yang optimal di dataran rendah. Namun, setelah Balitjestro mengoleksinya, buah yang kaya vitamin C itu juga adaptif di dataran tinggi mencapai 1.000 m di atas permukaan laut dengan suhu udara berkisar 25—30°C.

Krisma agrihorti memiliki rasa yang manis, tekstur renyah, dan berbiji sedikit kurang dari 4 biji per buah.

Krisma agrihorti memiliki rasa yang manis, tekstur renyah, dan berbiji sedikit kurang dari 4 biji per buah.

Awet
Sebelum dilepas, peneliti mengamati secara langsung baik morfologi tanaman maupun buahnya. Para peneliti kemudian menetapkannya sebagai Pohon Induk Tunggal (PIT). Adapun kriteria yang digunakan untuk menyeleksi calon PIT di antaranya vigoritas tanaman, kemampuan produksi entres, produksi buah, serta kualitasnya.
Tanaman dikatakan vigor bila terlihat subur, percabangannya kuat, tidak ada gejala serangan hama dan penyakit, warna daun hijau mengilap, dan membuka penuh. Selain itu percabangan tanaman juga menyebar merata di empat arah mata angin, serta berbunga dan berbuah normal. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) meregistrasinya dengan nomor Jr. Sitaya Agrihorti/JTM/0.010/401/2014.

Baca juga:  Sadar Lingkungan Sejak Belia

Selain sosok buah yang menarik, daya simpan sitaya agrihorti mencapai 2 bulan lebih pascapanen. Selama masa simpan itu kondisi buah masih bagus, warna daging buah hijau kekuningan. Walaupun kulit berkerut, sitaya masih layak konsumsi. Dengan keunggulan itu, kehadiran sitaya dapat mengurangi banjir buah yang membuat harga jatuh saat panen raya Juli­—Agustus karena buah bisa disimpan lama.

Krisma agrihorti memiliki keunikan bentuk buah yang menyerupai pir.

Krisma agrihorti memiliki keunikan bentuk buah yang menyerupai pir.

Krisma agrihorti
Selain sitaya, Balitjestro juga melepas jeruk unggul baru lain bernama krisma agrihorti. Jeruk jenis keprok itu mudah dikupas dengan rasa manis segar karena mengandung asam yang cukup terasa di lidah. Balitjestro mendapatkan bahan tanaman dari kebun Dr Lutfi Bansir di Kabupaten Bulungan, Propinsi Kalimantan Utara. Tim eksplorasi plasma nutfah Balitjestro mengambil bahan tanaman dalam bentuk mata tunas pada 2007.

Selanjutnya para pemulia menyambung mata tunas itu dengan japan citrus (JC) sebagai batang bawah. Penyambungan di dalam screen house Kebun Percobaan (KP) Tlekung Balitjestro. Ketika bibit berumur 8 bulan, pemulia membersihkan dari beberapa penyakit utama melalui teknik Shoot Tip Grafting (STG). Setelah uji kebebasan dari penyakit, pada 2009 pemulia menyerahkan bibit dengan status negatif ke KP Punten Balitjestro untuk ditanam dalam pot dan dipelihara secara intensif. Pohon itulah yang menjadi pohon induk dengan nomor registrasi JR.Krisma Agrihorti/JTM/0.009/401/2014.

Krisma agrihorti memiliki keunikan bentuk buah yang menyerupai buah pir. Dalam
kondisi masak sempurna, kulit buah berwarna kuning cerah. Demikian juga dengan daging buah, krisma agrihorti manis renyah dan berbiji sedikit kurang dari 4 biji per buah. Selain itu, kandungan vitamin C dalam tiap 100 g krisma agrihorti mencapai 22,52 mg.

Pekebun maupun pehobi dapat menanamnya di lahan atau tabulampor dengan kualitas buah yang sama baiknya. Pada kondisi optimal, krisma agrihorti mulai berbuah pada umur 1,5—2 tahun. Produktivitas tiap pohon mencapai 36 – 45 buah per tanaman dengan bobot per buah rata-rata 238 g. Idealnya populasi per hektar cukup 450 pohon, sehingga mampu memproduksi 3,8 – 5,6 ton/ha. Jika pekebun mengelolanya secara intensif, seiring bertambahnya umur tanaman, produktivitas terus meningkat.

Jeruk Baru Asal Batu 2 ” width=”245″ height=”300″>

Sitaya agrihorti cocok dijadikan tabulampot sebagai pengisi pekarangan.

Tabulampot
Sitaya agrihorti dan krisma agrihorti layak dikembangkan di lahan kebun dan pekarangan rumah sebagai bagian dari program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Luas pekarangan di Indonesia pada 2011 mencapai 10,3-juta hektar atau sekitar 14% dari luas lahan pertanian. Pekarangan memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi, mengurangi pengeluaran, dan menambah pendapatan keluarga.

Baca juga:  Jeruk dekopon, si manis tanpa biji asal Jepang

Namun, dalam upaya pengembangan lahan pekarangan, muncul permasalahan. Salah satunya pilihan komoditas yang terbatas, terutama komoditas buah-buahan tahunan yang berumur lama dan berukuran besar. Dengan hadirnya jeruk siam varietas sitaya dan jeruk keprok krisma agrihorti permasalahan itu dapat teratasi.

Sejatinya Indonesia memiliki beberapa jeruk lokal yang sangat potensial baik dari kualitas maupun kuantitas buah. Balitjestro merilis keprok batu 55, siam pontianak, dan pamelo magetan yang sudah dikenal masyarakat luas. Masih banyak lagi jeruk-jeruk yang berpotensi, tetapi pengembangannya di tingkat petani dan penangkar terhambat. Mereka masih belum memiliki legalitas untuk memperbanyak. (Dr Chaireni Martasari SP, MSi, peneliti jeruk di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Kota Batu, Jawa Timur)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *