Sekilas tidak ada yang istimewa dengan rendang jengkol itu. Bedanya hampir tidak ada bau khas jengkol pada hidangan itu. Padahal lazimnya bau khas buah Pithecellobium lobatum tercium meski sudah diolah. Menurut Ketua Komunitas Republik Petai dan Jengkol, Puji Purnama, jengkol itu berbeda dari buah sejenis karena bau khasnya tidak terlalu menyengat, bahkan ketika dikonsumsi segar.

Banyak orang menghindari konsumsi jengkol karena berbau menyengat sehingga muncul bau khas jengkol saat berbicara dengan orang lain. Air seni pecinta jengkol pun berbau khas sehingga orang lain dapat merasa terganggu. Sejatinya jengkol salah satu makanan yang cukup populer di Indonesia, apalagi jika tidak bau. Padahal, jengkol kaya gizi karena mengandung protein dan asam amino.

Bekas tebangan

Puji mengatakan untuk menentukan kualitas, jengkol mesti dikonsumsi. Berbeda dengan petai yang mutunya dapat dinilai dari penampilan luar. Tingkat kegurihan dan keempukan tolak ukur penilaian kualitas jengkol. Buah jengkol nirbau berukuran lebih kecil daripada jengkol lainnya. Puji kali pertama menjumpai jengkol tanpa bau itu saat mengikuti pertemuan Komunitas Petai dan Jengkol di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Agustus 2017.Bahkan jengkol berpeluang menjadi sumber protein nabati menggantikan protein hewani. Buah tanaman anggota famili Fabaceae itu juga bermanfaat untuk kesahatan seperti mencegah anemia dan menangkal radikal bebas. Adanya jengkol nirbau kabar gembira bagi penggemar buah tanaman kerabat petai itu karena bisa makan sepuasnya tanpa menimbulkan bau. Meski tanpa bau, cita rasa jengkol itu sama dengan buah sejenis yaitu gurih dan empuk.

Saat itu salah satu anggota komunitas, Asri Aditya, membawa rendang jengkol nirbau itu. Pria itu pun pun baru mengetahui jengkol kepunyaannya tidak berbau saat menghadiri pertemuan itu. Warga Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu memang memiliki satu tanaman kerabat petai itu di halaman depan rumah. Asri menduga jengkol nirbau itu anakan dari tanaman sejenis yang ditebang karena tidak berbuah dan menempel dengan tanaman lain.

Tanaman jengkol nirbau milik Asri Aditya di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Tanaman jengkol nirbau milik Asri Aditya di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Dari bonggol tanaman yang ditebang itulah muncul jengkol nirbau yang kini berumur 5 tahun. Asri membiarkan jengkol itu tumbuh karena tetangganya banyak yang meminta untuk dimasak. Selama ini Asri tidak merawat tanaman itu. Namun, Puji menyarankan agar Asri memberikan pupuk kandang seluas tajuk pohon jengkol agar tanaman tumbuh optimal. Penyiraman pun disesuakan kondisi cuaca.

Tanaman polong-polongan setinggi sekitar 10 meter itu magori atau berbuah perdana pada umur 4 tahun. Panen perdana menghasilkan sekitar 4—5 kilogram jengkol. Mantan redaktur sebuah majalah wanita di Jakarta itu memanen buah jengkol sekali setahun pada Juli—Agustus. Selain untuk konsumsi sendiri, Asri juga membagikan hasil panen kepada para kerabat dan tetangga.

Variasi

Sosok daun dan buah jengkol nirbau sama dengan jengkol pada umumnya.
Sosok daun dan buah jengkol nirbau sama dengan jengkol pada umumnya

Asri mengatakan, “Tetangga menyebutnya jengkol padi.” Sebab, bentuk buah jengkol itu lebih kecil daripada jengkol lainnya. Buah jengkol ini berupa polong, berbentuk pipih berbelit seperti spiral, dan berwarna lembayung tua. Biji buah berkulit ari tipis dan berkelir cokelat mengilap. Ketika Trubus mengunjungi kediaman Asri pada Agustus 2017 hanya tersisa beberapa buah jengkol di pohon.

Puji yang jatuh hati pada jengkol nirbau memperbanyak tanaman itu dengan cara mencangkok dan okulasi. Saat ini terdapat tiga cangkokan di pohon. Rencananya Puji akan mengembangkan tanaman di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Tujuan penanaman untuk memperbanyak dan menyebarkan jengkol nirbau itu.

Ahli botani di Kota Bogor, Jawa Barat, Gregori Garnadi Hambali, mengatakan bahwa jengkol nirbau hanya variasi atau keberagaman jengkol di Indonesia. Greg Hambali—sapaan akrab Gregori Garnadi Hambali—pun mempunyai jengkol nirbau di Desa Kalijurang, Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kini tanaman itu berumur sekitar 5 tahun. Sosok tanaman relatif sama dengan pohon jengkol lainnya.

Perbanyakan jengkol nirbau agar tanaman itu tetap lestari dan menyebar

Menurut Greg perbedaan jengkol nirbau dan jengkol lain pada ketebalan keping buah. Jengkol tanpa bau lebih pipih. Lebih lanjut Greg menuturkan mayoritas masyarakat menanam jengkol dari biji sehingga hasilnya sangat bervariasi. Tidak ada jengkol yang sama persis. Dari seribu tanaman bisa muncul seribu pohon berbeda. Jengkol termasuk buah polong-polongan dan tumbuh subur di daerah berketinggian 500—700 meter di atas permukaan laut (m dpl).

Meski begitu jengkol lebih mudah beradaptasi di daerah berbukit-bukit dan pegunungan. Tidak cocok di daerah pantai, rawa, dan tempat berelevasi lebih dari 1.000 m dpl. Jadi tidak ada daerah spesifik yang disebut sentra jengkol. Asalkan curah hujan cukup lokasi itu cocok untuk budidaya tanaman yang diidentifikasi kali pertama oleh ahli botani asal Inggris, George Bentham, itu.

Jengkol dapat diolah menjadi aneka makanan khas Indonesia

“Sebetulnya Bogor tempat ideal membudidayakan jengkol,” kata Greg. Puji berharap nantinya jengkol terkenal sebagai makanan khas Indonesia seperti rendang dan nasi goreng. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto merencanakan anggaran untuk pengembangan kawasan jengkol dan petai di Indonesia.

Rencana itu terlihat dari matriks Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara – Perubahan (APBN-P). Kedua tanaman sayur itu mendapatkan porsi berturut-turut Rp6.5 miliar dan Rp8 miliar. Khusus untuk jengkol, Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) akan mempersiapkan 200.000 bibit jengkol. Balitbu juga mempersiapkan 425.000 bibit petai.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d