Matali merawat 500 jenis tanaman air untuk memasok pasar mancanegara dan pasar domestik

Harga sebuah echinodorus atau melati air sejatinya amat murah, hanya Rp3.000 per batang. Namun, permintaan importir di mancanegara sangat besar lebih ratusan ribu batang. Matali mendapat pesanan hady red pearl—salah satu jenis echinodorus—10.000 batang per bulan dari Thailand. Namun ia hanya sanggup memenuhi 5.000—6.000 tanaman per bulan. Jenis itu hanya satu dari belasan varietas echinodorus yang diekspor Matali. Petani tanaman hias air di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu mengoleksi 200 echinodorus.

Lebih dari 10.000 baskom dipakai untuk menanam tanaman air.
Lebih dari 10.000 baskom dipakai untuk menanam tanaman air

Matali juga mengoleksi ambulia Limnophila indica, tanaman air asli Indonesia, Aponogeton crispus dan A. undulates. Pasar Thailand meminati jenis itu. Adapun Korea Selatan rutin meminta pasokan 10—20 tanaman air senilai Rp40-juta. Matali mengatakan secara umum pasar ekspor menghendaki tanaman sehat, daun mulus tanpa gerekan serangga, dan bebas penyakit.

Wadah berbeda
Matali mengekspor tanaman hias air itu ke beberapa negara seperti Belanda, Jerman, dan negara-negara di Asia. “Belanda yang paling rutin meminta, sedangkan Jerman baru mulai,” ujar eskportir itu. Matali memang memasok tanaman hias air itu kepada beberapa eksportir ikan di Surabaya, Jawa Timur dan Jakarta. Dari perniagaan itu omzet Matali mencapai Rp40-juta—Rp70-juta per bulan.

Tanaman air Echinodorus sp mengharumkan nama Matali hingga mancanegara. Koleksi Matali terlengkap di dunia

Menurut Matali permintaan tanaman air meningkat dari tahun ke tahun, terutama pada dua tahun terakhir. Lonjakan permintaan yang signifikan itu terasa sejak ia berpameran di Tiongkok pada 2013. Matali membudidayakan tananam air seperti cryptocoryne, anubias broad leaf, dan lanceolata leaf. Di lahannya seluas total 6 hektar terdiri atas 0,8 ha rawa atau perairan dan 5,2 ha tanah darat.

Tanah darat berupa lahan terbuka, lahan yang tertutup jaring peneduh dan lahan sengon. Di situlah ia menata tanamannya dalam bak dan baskom. Sebagian didirikan bangunan untuk tempat etalase dan bangunan pengemasan. Matali menanam echinodorus di bak beton untuk memaksimalkan pemakaian lahan darat. Bak beton itu berukuran 100 cm x 100 cm x 40 cm. Populasi di sebuah bak beton mencapai puluhan rumpun. Sebuah rumpun terdiri atas puluhan batang.

Matali membudidayakan sebagian tanaman air di bawah pohon sengon.
Matali membudidayakan sebagian tanaman air di bawah pohon sengon

Sementara itu Matali menanam 1—5 rumpun di sebuah baskom plastik berdiameter 60 cm. Setiap wadah hanya untuk satu varietas. Padahal untuk echindodorus, Matali mengoleksi lebih 200 jenis. Matali memanfaatkan lapisan tanah bagian atas atau top soil yang telah dibersihkan rumputnya. Ia memasukkan media itu ke dalam baskom dan menambahkan air hingga 5 cm di bawah bibir wadah.

“Saya sudah membeli 10.000 baskom senilai Rp300-juta untuk menampung semua tanaman,” kata Matali. Lokasi penanaman berbeda karena jenis baru ditanam di baskom, sedangkan yang sudah massal di rawa. Tanaman yang tumbuh di rawa, cenderung cepat besar sehingga dapat diproduksi secara massal. Saat mendapat 1 tanaman baru, dalam tempo singkat atau 3—5 tahun, ia sudah dapat ratusan ribu batang.

Setiap bulan panen

Red pearl salah satu di antara 50 varian melati air.
Red pearl salah satu di antara 50 varian melati air

Sejatinya Matali belum mengembangkan semua jenis tanaman air secara besar-besaran. Contohnya kabomba. Sebab, jenis itu telah diperbanyak oleh petani di Jawa Barat. Harga kabomba hanya Rp40—Rp50 per tanaman. Namun, permintaan kabomba mencapai 1 juta batang per bulan, sehingga nilai permintaan pun menjadi Rp50-juta. Kebun berketinggian 520 meter di atas permukaan laut itu mempunyai sumber mata air dengan debit 300 l/detik. Sumber air itu tak pernah kering meski kemarau.

Tanaman air siap panen ketika berumur rata-rata 90 hari. Meski demikian echinodorus dipanen hanya saat ada permintaan. Ia memanen dengan mencabut setiap rumpun. Kemudian Matali memilih tanaman besar dan menanam kembali tanaman kecil di antara rumpun itu. “Jadi panen bukannya membuat tanaman jadi sedikit, tetapi malah tambah banyak beberapa waktu kemudian,” kata Matali.

Etalase tanaman air di akuarium.
Etalase tanaman air di akuarium

Panen dilakukan hanya bila ada permintaan, lazimnya setiap bulan. Untungnya tanaman air tidak mengenal masa kadaluwarsa. Baru-baru ini ada permintaan 15.700 batang echinodorus. Untuk memenuhinya Matali panen selama 3 hari, membersihkannya 1 hari, serta pengepakan 2—3 jam. Tanaman pun siap kirim. Kini Matali yang mengelola Golden Leaf Aquatic Farm mengoleksi lebih 500 jenis tanaman air, spesies lokal dan introduksi.

Karena kelengkapan koleksinya, nama Matali dan farmnya sohor di dalam negeri hingga mancanegara. Farm di Malang itu dikenal sebagai kolektor melati air atau echinodorus terlengkap di dunia dengan memiliki lebih 200 spesies dan varian. Sebanyak 50 varian lahir secara alami di farm itu. Contohnya varian echinodorus singasari, arjuna, bima, dan krisna. Seorang rekannya dari Thailand datang ke kebun dan terkejut dengan kelengkapan tanamannya.

Tanaman yang sudah bersih dipangkas akarnya, siap dikemas untuk ekspor.
Tanaman yang sudah bersih dipangkas akarnya, siap dikemas untuk ekspor.

“Anda kolektor terlengkap echinodorus,” ujar rekannya itu sebagaimana ditirukan Matali. Dahulu pada 1996 Matali membeli beberapa echinodorus Rp150.000—Rp300.000 per batang. Sekarang setelah jumlah melimpah, ia menjual Rp3.000—Rp7.000 per batang. Saat ini para pehobi memburu dua jenis echinodorus, yaitu robin dan hady red pearl. Di luar negeri echinodorus sulit tumbuh berumpun karena anakan tidak banyak. Di tempatnya melati air bisa tumbuh berumpun dengan lebih 50 anakan.

Hidupi banyak orang

Tanaman yang dipanen dibersihkan di sungai berair air jernih. Matali dibantu 22 pekerja.
Tanaman yang dipanen dibersihkan di sungai berair air jernih. Matali dibantu 22 pekerja.

Matali bertani tanaman air sejak 1990-an. Semula ia berbisnis ayam petelur selama 6 tahun, bersama ayah dan saudaranya. Namun, peternakan ayam yang memelihara 170.000 ekor itu ditutup usai ayah wafat dan saudaranya membuka bisnis lain. Ia tidak sanggup menangani peternakan seluas 60 ha itu sehingga ia menutupnya. Ia pun memilih tanaman air, hobi lamanya saat remaja. Semula ia hanya memelihara beberapa jenis tanaman air, misal teratai, acorus, dan echinodorus.

Setelah berhasil tumbuh dan mampu memasarkan, ia pun menambah jenis baru seperti red sun kery, banana plant, cryptocoryne, anubias, broad leaf, lanceolata leaf, dan 500 jenis lain. Setelah tumbuh dan berkembang biak, Matali menguji coba dengan menanam dalam akuarium yang dilengkapi sinar buatan dan karbondioksida. Bila tanaman tumbuh baik dan daun baru bertambah, berarti cocok sebagai tanaman air.

Matali menerapkan teknik itu untuk tanaman darat yang akan dicoba menjadi tanaman air. Menurut pemilik Aqua Zone, Lucas, tanaman air bersifat amfibi—bisa tumbuh di tanah dan air. Setiap hari ayah 4 anak itu mengontrol pertumbuhan tanaman di lahan 6 ha. Pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 74 tahun silam itu kuat dan gesit berkeliling lahan di Karanglo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Padahal, kontur lahan itu naik turun sehingga sulit dilalui. Ketika Trubus ke sana, para pekerja tengah panen, membersihkan gulma di rawa dan di darat, serta rombongan pekerja yang mencuci hasil panen di sungai. Ada pula yang menanam hasil perbanyakan di bak beton. Kegiatan selanjutnya adalah mengontrol pekerja di bagian pengemasan. Untuk mengelola usahanya, ia dibantu 2 putranya dan 22 pekerja.

Wadah baskom untuk membudidayakan tanaman jenis baru.
Wadah baskom untuk membudidayakan tanaman jenis baru.

Begitulah aktivitas Matali dalam 20 tahun terakhir berniaga beragam tanaman hias air. Tanaman hias bukan hanya menghidupi dirinya dan keluarga, tetapi juga para karyawan, dan pedagang kecil. Amirul Mukminin, pedagang tanaman air, kerap mengambil tanaman dari Matali kemudian menata dalam akuarium. Mirel—panggilannya—menata tanaman itu dalam bentuk akuaskap untuk memenuhi permintaan konsumen.

Keuntungannya berlipat ganda karena sudah ada nilai estetika. Mirel pun kerap membesarkan tanaman tertentu. “Saya paling suka tanaman echinodorus dan mengoleksi semua yang siap jual, sekitar 60 jenis,” ujar Amirul. Ia membuat tanaman itu menjadi menarik dan tumbuh sempurna. Dengan penampilan sempurna, orang berani membeli 10—20 kali lipat harga beli.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d