Jejak Kehidupan di Sebongkah Batu 1
Koleksi batu di kediaman Drs Ali di Bandarlampung, Provinsi Lampung.

Koleksi batu di kediaman Drs Ali di Bandarlampung, Provinsi Lampung.

Telepon genggam dalam saku H Asari bergetar keras. Seorang rekan mengabarkan keberadaan sebongkah batu yang unik di daerah Gunungkencana, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Esok harinya, Asari pun melesat dengan motor sport kelas menengah berumur 7 tahun. Pengusaha kuliner dan lanskap itu memilih menunggangi motor itu lantaran ingin menikmati perjalanan.

Meskipun demikian, jarak yang cukup jauh dari kediamannya di Jagakarsa, Jakarta Selatan—sekitar 90 km—Asari memilih motor yang mampu melaju cepat. Selepas tengah hari, Asari tiba di lokasi dan langsung jatuh hati.

Batu asal fosil pohon berbobot 5,8 ton di kediaman Ir Susanto Wijaya di Bandarlampung. Butuh 30 orang untuk mengangkatnya.

Batu asal fosil pohon berbobot 5,8 ton di kediaman Ir Susanto Wijaya di Bandarlampung. Butuh 30 orang untuk mengangkatnya.

Sepintas sosok batu itu jauh dari menarik. Berbentuk memanjang dengan ukuran panjang kira-kira 1,5 m, lebar 0,5 m, dan tinggi 0,7 m, permukaan kasar, dan warna putih kusam dengan lumut yang tumbuh di sana-sini. Namun bagi Asari, batu itu sangat menarik. “Jika permukaannya digosok baunya masih amis, menandakan proses pembentukan
fosil masih berjalan,” kata Asari.

Pada kesempatan lain, seorang teman di Provinsi Sumatera Barat mengabarkan keberadaan batu-batu unik di sekitar Kota Padang. Sebagai penggemar batu sejak duduk di bangku SMP, Asari paham betul kualitas batu dari Ranah Minang itu. Setelah beberapa kali berbalas telepon untuk memastikan jenis dan jumlah batu, pria 47 tahun itu segera mentransfer uang. Nilainya setara harga sebuah motor matik terbaru.

Selang beberapa hari, sebuah truk berhenti di rumah Asari dan menurunkan 12 ton bongkahan batu. “Sampai sekarang belum semua selesai ditata,” kata Asari. Ketertarikan Asari terhadap batu muncul sejak usia belia. “Waktu kecil saya senang melihat batu besar di perbukitan tepi jalan. Saya sering menyempatkan berhenti kalau ada bebatuan besar di tepi jalan untuk sekadar melihat,” ujar pria kelahiran Sungailiat, Provinsi Bangka belitung, itu.

Pantas ornamen di rumah dan restorannya pun merefleksikan kecintaan Asari pada batu. Di rumah singgah yang tengah ia bangun, batu-batu besar terserak menunggu ditata. Di bagian lain rumah yang sudah rampung, batu-batu tertata rapi di hampir seluruh penjuru rumah. Di sudut rumah, Asari membuat kolam dengan menata batu berbagai bentuk dan ukuran. Batu seharga motor sport dari Lebak pun ia masukkan sebagai elemen pembentuk kolam.

Batu senilai motor sport di latar depan menjadi komponen kolam di kediaman H Asari.

Batu senilai motor sport di latar depan menjadi komponen kolam di kediaman H Asari.

Di teras belakang, ia menata batu fosil menjadi taman sukulen dengan berbagai jenis kaktus sebagai elemen lunak. Saat memasuki bangunan rumah dari belakang, sebongkah batu fosil pohon berdiri di pojok kanan pintu masuk. Batu setinggi lebih dari 2 m itu ia poles mengilap sehingga indah dipandang. “Kebanyakan orang tidak menyukai
rumah berisi terlalu banyak batu karena menimbulkan kesan seram atau magis. Kuncinya tepat penataan dan penempatan,” kata Asari.

Alumnus Universitas Nasional Jakarta Selatan itu menempatkan batu bukan sebagai tambahan, melainkan justru sebagai unsur utama pengisi ruangan. “Dengan demikian, ketika memasuki ruangan perhatian langsung tertuju kepada batu dan membuat kita ingin duduk di dekatnya. Kesan seram hilang, ruangan pun tetap terasa longgar meskipun banyak dijejali batu besar,” ungkap Asari.

Suiseki, seni batu indah bertema bola dunia koleksi Soeroso Soemopawiro.

Suiseki, seni batu indah bertema bola dunia koleksi Soeroso Soemopawiro.

Asari tidak sekadar menggunakan batu sebagai aksesori. Ia memanfaatkannya untuk mempertahankan kualitas air kolam koi karena batu mengandung beragam mineral. “Di alam, bebatuan sungai atau sumber air membantu menyerap polutan dan melepaskan mineral. Itu yang coba saya tiru,” kata pehobi olahraga bersepeda yang telah menjelajahi banyak negara itu. Maklum, kolam koi termasuk bagian lanskap yang kerap ia kerjakan. Dengan menambahkan bebatuan alam, kolam hanya perlu dikuras setahun sekali.

Baca juga:  Raja Buah Tanpa Aroma

Soal kegemaran fanatik terhadap batu alam, Asari tidak sendirian. Di Bandarlampung, kakak beradik Drs Ali Wijaya dan Ir Susanto Wijaya juga gandrung mengoleksi batu besar bercorak menawan. Jika Asari rela menukarkan motor sport demi mendapatkan batu, Santo—panggilan Susanto—tidak berpikir panjang menjebol dinding untuk memasukkan batu porselen asal fosil pohon seberat 5,8 ton.

Ragam batu akik. Dari kiri: safir hitam, raffles, giok, kecubung bungur, mata kucing, kecubung kalimantan, kelawing.

Ragam batu akik. Dari kiri: safir hitam, raffles, giok, kecubung bungur, mata kucing, kecubung kalimantan, kelawing.

“Ambang pintu tidak cukup, terpaksa dinding dijebol,” kata Santo. Bagaimana tidak, diperlukan 30 orang untuk menggotong batu berdiameter hampir 1 m setinggi 2,5 m itu. Batu yang masih memperlihatkan urat mirip kayu asli itu diboyong masuk rumah demi mempercantik pemandangan di tepi kolam renang pribadinya. Di sudut lain kolam, Santo membuat taman sikas dengan tanaman purba, encephalarthos, sebagai elemen lunak dan batu fosil untuk pembentuk elemen keras.

Batu juga menjadi ornamen dua kolam koi di samping dan seberang kolam renang. Kegemaran ayah dua anak itu terhadap batu tumbuh lantaran batu menjadi perpaduan yang pas dengan berbagai elemen taman. Selain untuk lanskap, Santo juga membuat bangku dari batu-batu fosil yang dipoles halus untuk duduk santai di tepi kolam. Ali memilih memadukan batu fosil dengan bonsai koleksinya.

Kehadiran batu di kolam sekaligus sebagai filter alami sehingga kolam cukup dikuras setahun sekali.

Kehadiran batu di kolam sekaligus sebagai filter alami sehingga kolam cukup dikuras setahun sekali.

Batu fosil besar ia jadikan pengganti penopang untuk berbagai jenis bonsai koleksinya seperti beringin, lohansung, atau asam jawa. Ali dan Santo juga memboyong batu fosil sebagai ornamen di Rumah Kayu, restoran milik keluarga. Mereka tidak mencari sendiri batu ke tempat asalnya. Mereka memperoleh batu-batu koleksinya dari jaringan
pertemanan. “Kalau mencari sendiri tidak akan sempat,” ujar Santo.

Meskipun menggemari batu, mereka bertiga tidak terbawa tren batu cincin yang kini tengah marak. “Jarang sekali penggemar batu besar yang memakai batu di jarinya,” kata Asari. Menurut Asari penggemar batu besar dengan cincin berbeda jauh. Kebanyakan penggemar batu besar memilih batu dalam bentuk asli, paling banter menambahkan guratan atau polesan untuk mempertegas bentuk.

Batu alam koleksi Soeroso Soemopawiro di Pondokindah, Jakarta Selatan.

Batu alam koleksi Soeroso Soemopawiro di Pondokindah, Jakarta Selatan.

Sementara itu, penggemar batu cincin tidak segan-segan memotong, menggosok, dan menggerinda batu agar pas dengan cincin pengikatnya. Menurut Asari, tujuan lain perlakuan terhadap batu cincin adalah mempertegas bagian terindah dari batu. Sebut saja batu pancawarna, yang memiliki lima warna. Asari sejatinya juga mengoleksi akik
pancawarna, tetapi dalam bentuk bongkahan. Ia enggan memotongnya.

Baca juga:  Tunggal Jadi Mahal

“Jika bongkahan itu dipotong-potong menjadi cincin, hasilnya bisa menjadi menjadi lebih dari 1 potongan. Tetapi pasti ada bagian yang dibuang karena tidak memunculkan sifat pancawarna,” ujar Asari. Asari lebih memilih menghaluskan permukaan batu dan memotong sedikit agar dapat diletakkan di atas tatakan yang pas. Kesamaan penggemar batu besar dan cincin adalah menggemari batu indah.

H Asari mengagumi batu sejak kecil.

H Asari mengagumi batu sejak kecil.

Secara umum batu indah terbentuk lantaran tersusun dari berbagai zat berbeda. Menurut Kepala Museum Geologi, Bandung, Jawa Barat, SR Sinung Baskoro, ada berbagai proses pembentukan batu. Proses paling umum adalah pembekuan magma atau lava menjadi batuan beku, yang kerap dijumpai di gunung atau sungai. “Batuan beku adalah jenis batuan tertua, terbentuk bersama pembekuan kerak bumi menjadi permukaan tempat kita berdiri sekarang,” kata Sinung. Umur batuan beku sama dengan bumi, sekitar 4,6-miliar tahun.

Sementara fosil adalah sisa hidupan yang terawetkan oleh proses alam. Tanpa proses itu, makhluk hidup yang mati akan terurai menjadi unsur-unsur penyusunnya. Makhluk hidup pertama di muka bumi adalah ganggang alias alga, makhluk liliput bersel satu yang hidup dalam air dan mampu berfotosintesis. “Ganggang baru muncul 1-miliar tahun lalu. Itu sebabnya fosil tertua berasal dari jenis ganggang. Sementara fosil tumbuhan tertua paling berumur ratusan ribu tahun,” kata Sinung.

Batu pancawarna koleksi Asari. Kini batu pancawarna diincar penggemar batu akik.

Batu pancawarna koleksi Asari. Kini batu pancawarna diincar penggemar batu akik.

Fosil terbentuk oleh proses silifikasi alias reaksi dengan silika (SiO2). Proses silifikasi itu kadang mengikat mineral yang ada di sekitarnya sehingga muncul warna berbeda. “Mineral pemberi warna itu sejatinya pengotor,” kata Sinung. Beda mineral, beda pula warnanya. Mineral yang terikat dalam fosil pun tidak murni karena di alam
tidak ada mineral yang berbentuk unsur murni. Pengikatan mineral tidak hanya terjadi dalam pembentukan fosil.
Pembentukan batuan beku pun kerap mengikat mineral. Itu sebabnya muncul batu berwarna. Corak dan perbedaan warna itulah yang membuat memperindah penampilan batu.

Batu fosil untuk menopang bonsai koleksi Drs Ali.

Batu fosil untuk menopang bonsai koleksi Drs Ali.

Warna-warni itu sekaligus membuktikan bahwa Bumi ini dan kaya akan berbagai unsur. Buktinya, batu meteorit dari luar angkasa tidak ada yang berwarna-warni apalagi bercorak. Dalam Kemilau Batu Mulia, Ahmad Suratie, pengusaha batu mulia di Surabaya, Jawa Timur menyatakan, berdasarkan asal kejadian atau bahan penyusunnya ada batu mulia anorganik dan organik.

Drs Ali memadukan batu fosil dengan bonsai.

Drs Ali memadukan batu fosil dengan bonsai.

Contohnya batu amber yang berasal dari getah pohon tergolong batu mulia organik. Sejatinya dunia batu mulia mengenal batu mulia dan batu semimulia. Menurut Sinung, batu mulia memiliki tingkat kekerasan minimal 7 skala mohs. Skala mohs menyatakan tingkat kekerasan suatu bahan. Tingkat kekerasan tertinggi yaitu permata, yang
memiliki nilai 10 skala mohs. Sementara batu semimulia biasanya memiliki tingkat kekerasan 7 atau kurang.

Standar batu mulia yang beredar di masyarakat adalah transparansi. Menurut Asari, batu yang transparan atau tembus cahaya dianggap mempunyai nilai lebih tinggi sehingga harganya pun lebih mahal. “Istilahnya akik es karena bisa ditembus cahaya seperti es,” ujar asari. Terlepas dari berbagai standar itu, nilai keindahan adalah
relatif. Seorang kolektor bisa fanatik mengoleksi jenis batu tertentu yang harganya tidak terlalu tinggi semata-mata karena suka. Asari, Santo, dan Ali tergolong kolektor itu. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *