Jejak Berdarah Naga Purba 1
Pertarungan antarpejantan ketika musim kawin sulit terelakan. Populasi jantan lebih banyak daripada betina

Pertarungan antarpejantan ketika musim kawin sulit terelakan. Populasi jantan lebih banyak daripada betina

Yohanes Awe tengah berpatroli menyusuri Lohbuaya, Pulau Rinca, bagian dari Taman Nasional Komodo seluas total 173.300 ha ketika menyaksikan komodo betina menjaga sarang. Tak lama berselang komodo jantan mendekatinya. Awe, polisi hutan di Taman Nasional Komodo itu terus mengawasi gerak-gerik kedua satwa purba itu. Sayang, ketika kedua komodo dewasa hendak kopulasi, datang komodo jantan lain. Jadilah duel maut itu tak terelakkan.

“Sama seperti manusia, kalau lagi berahi diganggu bisa baku pukul,” kata Yohanes Awe sembari terkekeh. Para pejantan itu berkelahi. Semula tetap melata, tetapi kemudian sambil berdiri tegak dengan bersandar pada kedua kaki belakang serta ekor. Mereka saling cakar hingga berdarah-darah demi memperebutkan seekor betina. “Bahkan biasanya ada yang mati,” kata Awe. Ketika seekor jantan itu kalah dan menyingkir, barulah pasangan komodo itu berkopulasi hingga dua jam lamanya.

Komodo mampu menghabiskan pakan hingga 80% dari bobot tubuh

Komodo mampu menghabiskan pakan hingga 80% dari bobot tubuh

Menurut Awe musim kawin komodo jatuh pada Juli—Agustus. Sebulan berselang banyak komodo betina bertelur. Betina menggali lubang, bertelur, menimbun, dan meninggalkan telur di bawah tanah hingga menetas menjadi individu baru. Siklus itu terus berulang hingga ora—sebutan komodo Varanus komodoensis di Manggarai Barat—lestari di kawasan yang menjadi salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia pada 11 November 2011 itu.

Sabana Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo dengan sabuk hijau mangrove

Sabana Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo dengan sabuk hijau mangrove

Ahli satwa liar dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Hadi S Alikodra MS, mengatakan perkelahian komodo ketika musim kawin itu memang sulit dihindari. Harap mafhum, populasi jantan jauh lebih banyak ketimbang betina dengan perbandingan 3 : 1. Menurut Alikodra normalnya di alam liar jumlah betina lebih banyak dibanding jantan. “Jika kondisinya terbalik artinya populasi di area itu tidak normal,” kata doktor Ilmu Kehutanan alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Mengapa jantan dominan? Alikodra mengatakan, “Ada dua kemungkinan jantan lebih dominan. Pertama karena memang telur yang menetas kebanyakan jantan. Kedua komodo betina muda dimangsa induk. Komodo bisa memangsa pasangan atau anaknya jika pasokan pakan sedikit,” kata Alikodra. Jika telur yang menetas kebanyakan jantan, juga masih misteri.

Menurut guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor itu perlu penelitian lebih lanjut apakah suhu “pengeraman”, kelembapan, dan genetik yang mempengaruhi jenis kelamin komodo. Dampak ketidaknormalan itu terjadi persaingan memperebutkan betina saat musim kawin.

Ir Sustyo Iriyono MSi kepala Taman Nasional Komodo

Ir Sustyo Iriyono MSi kepala Taman Nasional Komodo

Kepada reporter Trubus Riefza Vebriansyah, pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 5 Februari 1949 itu mengatakan lazimnya musim kawin satwa liar tergantung ketersediaan pakan di alam. Tujuannya agar asupan pakan saat anak-anak komodo itu menetas nanti terjamin. Semakin liar hewan, maka musim kawinnya pada waktu tertentu menyesuaikan ketersediaan pakan di alam.

Trubus mengunjungi Pulau Rinca bersama Yohanes Awe setelah menempuh perjalanan 2,5 jam berperahu motor dari pelabuhan Pelni, Labuanbajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Rahman mengendarai perahu motor sepanjang 5 meter itu dengan kecepatan rata-rata 7 knot. Menjelang tengah hari Rahman menepikan perahu motor di dermaga Pulau Rinca.

Baca juga:  Pilih Jadi Petani Jahe

Dari dermaga kami berjalan kaki menuju lokasi pengamatan komodo dan menyusuri hutan. Kami tiba di pulau seluas 211 km2 itu ketika matahari tanpa ampun menghujani sabana dengan sinar terik. Harap mafhum curah hujan kurang dari 800 mm per tahun. Pada waktu tertentu suhu siang mencapai 43°C yang menyengat kulit sekaligus menderaskan keringat.

Prof Dr Ir Hadi S. Alikodra MS, ahli satwa liar Institut Pertanian Bogor

Prof Dr Ir Hadi S. Alikodra MS, ahli satwa liar Institut Pertanian Bogor

Daerah itu amat kering karena angin pasat tenggara yang berembus pada April—Oktober dari Australia membawa sedikit uap air. Sementara pada November—Maret angin muson dari Asia memang membawa sedikit uap air. Namun, biasanya jatuh di wilayah Indonesia barat sebelum sampai Taman Nasional Komodo. Pantas di punggung bukit yang menghampar luas itu rerumputan berubah warna menjadi kecokelatan.

Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Ir Sustyo Iriyono MSi, mengatakan, “Tujuh puluh persen berupa sabana bukan karena daerah kritis, tapi karena alamnya begitu.” Karena panas terik itu, sesekali Trubus berteduh di bawah rindang pohon untuk mengurangi terik. Yohanes Awe yang siang itu memandu Trubus terus berjalan. Ia lantas mengambil tongkat kayu walikukun Schoutenia ovata yang ujungnya bercabang dua.

Tongkat bercabang untuk mengamankan pengunjung dari serangan komodo

Tongkat bercabang untuk mengamankan pengunjung dari serangan komodo

Pengelola Taman Nasional Komodo mengambil kayu walikukun dari dataran Flores. Awe dan para polisi hutan lain wajib membawa tongkat 2 meter bercabang dua sepanjang 20 cm itu ketika berpatroli atau mendampingi tamu. Itu sarana pengamanan dari serangan komodo. Tongkat bercabang dua berguna untuk menahan leher atau menyentuh hidung komodo. Hidung bagian paling sensitif.

Tongkat itu juga berfaedah untuk menghalau satwa lain yang membahayakan seperti ular kobra Naja naja, ular kakbotek Daboia russeli, dan ular hijau ekor merah Cryptelitrops insularis. Ketiga ular berbisa itu hidup di Taman Nasional Komodo. Awe baru berhenti berjalan ketika menemukan empat komodo dewasa di halaman rumah panggung. Aroma ikan goreng menguar dari bangunan itu. Di dapur sesorang tengah memasak. Awe mengatakan komodo memang senang memangsa ikan, tulang-tulang ayam, atau sisa makanan.

Perairan Taman Nasional Komodo juga kaya akan ikan

Perairan Taman Nasional Komodo juga kaya akan ikan

Awe berjaga-jaga, ketika wartawan Trubus hendak menaiki tangga rumah itu. Tak lama berselang kami berjalan menyusuri hutan Pulau Rinca. Beberapa pohon kepuh Sterculia foetida tumbuh berdekatan menjulang hingga 6—7 meter. Keberadaan kepuh di pulau kerontang itu memang menguntungkan. Akar pohon kepuh menahan air tanah sehingga menjaga siklus hidrologi.

Tanaman anggota famili Malvaceae itu juga sumber pakan beragam satwa seperti burung kakaktua kecil jambul kuning Cacatua surphurea parvula. Burung itu biasanya membuat sarang di rongga pohon kerabat jauh randu Ceiba pentandra. Kayu kepuh yang putih keruh memang relatif lunak. Kakaktua relatif mudah membuat lubang di batang kepuh. Itulah sebabnya masyarakat memanfaatkan kayu kelumpang nama lain kepuh sebagai peti kemas, biduk, atau korek api.

Taman Nasional Komodo menjadi destinasi wisata

Taman Nasional Komodo menjadi destinasi wisata

Adapun daun dan kulit batang berfaedah mengatasi rematik, memperlancar urine atau diuretik, dan diaforetik atau peluruh keringat. Bijinya yang kaya minyak—mengandung 40% minyak—dapat dkonsumsi. Buahnya bergerombol berwarna hijau di ujung ranting. Namun, setelah matang buah itu berubah warna menjadi jingga dan terbuka sehingga tampaklah biji di dalamnya. Dahulu pada 1990-an masyarakat di Jawa Tengah lazim menganologikan orang yang melongo ketika dinasihati dengan buah kepuh matang. Jika itu terjadi, para orang tua berujar, “Plampang-plompong kaya kepuh (melongo seperti buah kepuh, red).”

Baca juga:  Kendali Joran Panjang

Penelusuran berikutnya menemukan seekor komodo dewasa yang berteduh di bawah rindang pohon asam Tamarindus indica. Pada siang nan terik itu komodo harus berteduh. Harap mafhum, reptil raksasa itu hewan berdarah dingin, suhu tubuh harus di bawah 42oC. Pada siang nan terik itu ia berteduh untuk menghindari panas berlebih. Sebaliknya pada pagi hari pukul 06.00—10.00 ia memanaskan tubuh. Jika suhu tubuh terlampau rendah membahayakan karena bisa menyebabkan kematian.

Hunian penduduk di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

Hunian penduduk di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

Mendapati satwa purba yang muncul sezaman dengan dinosaurus itu di Rinca relatif mudah. Populasi komdo di Pulau Rinca pada 2013 mencapai 3.271 ekor. Populasi itu meningkat 30% ketimbang tahun sebelumnya. Itu populasi terbanyak dibanding di lokasi lain di Taman Nasional Komodo. Populasi reptil purba di Pulau Komodo pada 2013 mencapai 3.271 ekor, Gilimotang (66), dan Nusakode (100).

Kera Macaca fascicularis salah satu mangsa komodo

Kera Macaca fascicularis salah satu mangsa komodo

Satwa yang dipublikasikan pertama kali oleh Kepala Zoologi Kebun Raya Bogor, Peter Ouwens pada 1912 dalam buletin du Jardin Botanique de Buitenzorg itu bertahun-tahun hidup di Pulau Rinca. Sebaliknya Taman Nasional sempat menyatakan komodo menghilang di Pulau Padar. Kepala Taman Nasional Komodo Ir Sustyo Iriyono MSi mengatakan komodo memang semula menghuni Pulau Padar seluas 16 km2.

Namun, sejak 1990—2009 komodo menghilang dari wilayah itu. Sustyo Iriyono menduga sumber pakan komodo hilang lebih dahulu akibat perburuan liar. Para pemburu mengincar rusa timor Cervus timorensis. Rusa salah satu pakan komodo dewasa. Menurut Sustyo ketika sumber pakan menipis, maka komodo pun bermigrasi ke pulau lain di sekitarnya seperti Rinca, Komodo, atau Gilimotang.

Alikodra sependapat. Namun, ia juga menduga hilangnya komodo boleh jadi karena para pemburu biasanya membakar sabana untuk melokalisir rusa. “Pakan komodo berupa rusa berkurang itu pasti. Namun, bisa saja komodo menjadi korban pembakaran karena lahan itu tempat komodo menunggu mangsa dan lainnya,” kata Alikodra. Setelah para pemburu itu ditembak mati, populasi rusa makin meningkat.

Yohanes Awe

Yohanes Awe

Ketika itulah komodo “kembali” menghuni Padar. “Saat pakan tersedia, komodo bisa saja muncul lagi. Komodo mampu berenang dan menyelam hingga kedalaman 4—6 m. Cara lain satwa itu pindah tempat yakni dengan mengandalkan kayu yang terapung di lautan,” tutur Presidium World Wildlife Fund Indonesia pada 2009—2010 itu. Kemungkinan lain, “Saat terjadi perburuan massal terhadap rusa itu kemungkinan masih ada populasi komodo di pulau itu yang keberadaannya tidak terdeteksi,” kata Alikodra.

Apa pun alasannya komodo-komodo itu kembali muncul di Pulau Padar. Mereka meninggalkan jejak berdarah di sabana setiap kali musim kopulasi itu tiba. Barangkali itulah cara mereka mengontrol populasi karena sumber pakan terbatas. Dengan demikian naga purba itu tetap lestari. (Sardi Duryatmo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments