Jawara Pedas dari Toraja 1

Bersosok elok, pedas, dan beraroma khas. Itulah cabai katokkon.

Binder1.pdf

Sosok cabai katokkon unik mirip paprika mini.

Cabai katokkon berpenampilan cantik salah satu kekayaan lokal Tanatoraja yang berpotensi untuk dikembangkan di tanahair. Katokkon bukan sembarang cabai. Bentuk buahnya unik, sekilas mirip paprika merah berukuran mini. Aroma daging buah katokkon sangat khas dan pedas. Harganya lebih tinggi dua kali lipat dibanding dengan cabai jenis lain di pasar lokal Tanatoraja.

Tingkat kepedasan katokkon sekitar 400.000 sampai 691.000 SHU.

Tingkat kepedasan katokkon sekitar 400.000 sampai 691.000 SHU.

Di dalam kehidupan masyarakat Toraja cabai katokkon memiliki nilai sosial sangat tinggi. Masyarakat setempat menggunakan katokkon sebagai bumbu masakan pada acara-acara tertentu seperti syukuran maupun perayaan hari besar. Selain itu masyarakat setempat acap memanfaatkan katokkon sebagai bumbu kuliner tradisional, misalnya pantollo’ lendong dan pantollo’ duku’ manuk.

Superpedas
Katokkon terdaftar resmi di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian dengan nomor publikasi 055/BR/PVL/02/2014. Salah satu sentra budidaya katokkon di Kecamatan Kapalapitu, Kabupaten Toraja Utara. Hasil pengamatan secara taksonomi menunjukkan katokkon termasuk dalam kelompok cabai merah besar dan cabai merah keriting alias Capsicum annum.

Orang awam kerap salah mengira katokkon sebagai habanero—salah jenis cabai pedas di dunia. Bila diperhatikan sekilas penampilan katokkon memang mirip habanero. Buah katokkon yang pendek dan gendut mengingkatkan pada sosok salah satu cabai terpedas di dunia itu. Apalagi katokkon juga memiliki tingkat kepedasan sangat tinggi, yakni 400.000—691.000 SHU (Scoville Heat Unit).

Fase perkembangan cabai katokkon hingga siap panen.

Fase perkembangan cabai katokkon hingga siap panen.

Bandingkan dengan cabai red savina habanero dan chocolate habanero masing-masing hanya 350.000—577.000 SHU dan 425.000—577.000 SHU. Katokkon berbobot 65—90 gram per buah dengan ketebalan daging 6—7 mm. Kandungan per 100 gram buah terdiri atas 16,84 mg vitamin C, 85,4% air, dan 9,20% gula. Buah tahan simpan hingga 7—10 hari pascapetik.

Baca juga:  Panen Cabai di Lahan Gersang

Apabila daging buah terbelah tampak biji-biji kecil berbentuk bulat pipih, jumlahnya sekitar 200—225 biji per buah. Pekebun biasanya menggunakan biji dari buah matang sebagai sumber benih untuk penanaman berikutnya. Bentuk tanaman katokkon berupa perdu dengan tinggi 100—120 cm. Batang berwarna hijau, berbentuk silindris, dan memiliki lingkar batang 10—20 cm.

Katokkon cocok ditanam di pot sebagai tanaman hias.

Katokkon cocok ditanam di pot sebagai tanaman hias.

Daun tanaman berwarna hijau tua, berbentuk jantung dengan ujung runcing, dan memiliki susunan tulang daun menyirip. Panjang daun sekitar 19—21 cm, sedangkan lebarnya 15—17 cm. Tanaman belajar berbunga saat berumumur 3—4 bulan pascatanam. Mahkota bunga berjumlah 5 dengan warna putih keunguan. Selang 40 hari buah-buah nan ranum pun siap panen.

Katokkon menyukai lingkungan hidup yang sejuk di tanah-tanah dataran tinggi. Di Toraja Utara panen raya katokkon berlangsung pada Maret sampai April dan September sampai Oktober. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Toraja Utara, Salvius Pasang SP MP, ketinggian lokasi penanaman, kondisi tanah, dan pemberian pupuk sangat berpengaruh bagi pertumbuhan katokkon.

Hias
Pekebun di Toraja Utara sudah membudidayakan katokkon secara intensif. Mereka menggunakan mulsa plastik untuk menjaga struktur tanah dan melindungi tanaman dari gulma. Layaknya pertanaman cabai, pekebun juga memberikan pupuk untuk mencukupi kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Mereka biasanya mengombinasikan pupuk organik dan kimia.

Penampilan bagian dalam daging cabai katokkon.

Penampilan bagian dalam daging cabai katokkon.

Hama dan penyakit yang mengintai pertumbuhan tanaman, yakni kutu putih. Pekebun menggunakan air rendaman beras untuk mengusir hewan mungil itu. Sementara penyakit yang kerap dijumpai di pertanaman katokkon adalah puru akar. Pekebun menanggulangi serangan dengan menyemprotkan trikoderma. Selain dikebunkan secara intensif, katokkon juga cocok dimanfaatkan sebagai tanaman koleksi.

Baca juga:  Gempita Tanaman Hias Thailand 2018

Bagi masyarakat perkotaan katokkon sangat cocok ditanam sebagai penghias rumah. Sosok tanaman yang menyerupai payung dengan bentuk buah yang unik menjadi daya tarik utama. Untuk menanamnya cukup mudah. Sediakan saja pot atau kantong tanam lalu isi dengan media tanam berupa tanah dan pupuk kandang, masing-masing dengan perbandingan 2:1. Lakukan perawatan seperti penyiraman dan pemupukan agar tanaman tetap sehat dan berbuah sempurna. (Reisky Megawati Tammu, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *