Penjurian koi show berlangsung sengit

Penjurian koi show berlangsung sengit

Pameran dan kontes menjadi barometer tren ikan hias Indonesia.

Kerja keras Herry Susanto Wibowo selama setahun tak sia-sia. Koi berjenis taisho sanshoku miliknya meraih gelar grand champion (GC) di 1st Nishikigoi Niigata Direct Keeping Contest (NND KC) pada 21 Februari 2015. Herry merawat sang jawara sejak Maret 2014 ketika panjang tubuhnya baru 23 cm. “Ini pertama kali ikan ikut show dan langsung juara,” ujar pehobi koi di Yogyakarta itu.

Menurut Herry kunci keberhasilannya adalah mengondisikan lingkungan ikan seperti di habitat asalnya. “Di Jepang peternak koi menggunakan air sungai yang terus-menerus mengalir. Kalau saya sering mengganti air kolam. Sehari bisa mengocorkan air 6—7 jam,” ujarnya. Pehobi koi sejak 2010 itu memberikan 3—4 genggam pelet sebanyak 6 kali secara otomatis setiap hari.

Taisho sanshoku dengan panjang tubuh 53 cm peraih grand champion 1st Nishikigoi Niigata Direct Keeping Contest

Taisho sanshoku dengan panjang tubuh 53 cm peraih grand champion 1st Nishikigoi Niigata Direct Keeping Contest

Grand champion
Pada Februari 2015 panjang ikan mencapai 53 cm dengan kualitas warna dan pola yang terbentuk. Menurut Reynaldo Vidella, juri dari Asosiasi Pencinta Koi Indonesia (APKI), kualitas warna koi milik Herry lebih cerah dan jelas. Datta Iradian, juri lain, berpendapat serupa. “Peraih grand champion paling banyak perkembangannya dari setahun lalu dibanding peserta lain, terutama soal warna,” ujar Iradian.

Selain Herry pehobi lain yang juga beruntung hari itu adalah Aditya dan M Sebastian. Ikan koleksi kedua pehobi asal Jakarta itu meraih gelar bergengsi yaitu melati grand champion dan cempaka grand champion. Menurut Bimwardi Gunawan, juri kontes, koi berjenis kujaku milik Aditya unggul dari pertumbuhan tubuh mencapai 55 cm dan warna yang lebih kinclong. Sementara koi milik M Sebastian berjenis hi utsuri unggul dari kesiapan ikan yang sampai pada tahap top form.

“Secara umum kualitas perawatan para pehobi sudah cukup bagus, tapi sebenarnya masih bisa ditingkatkan lagi baik dari segi pertumbuhan maupun warna,” ujar Bimwardi. Sehari kemudian, di lokasi yang sama yaitu Food Centrum, Sunter, Jakarta Utara, dewi fortuna lagi-lagi menghampiri koi Herry Susanto Wibowo. Kohaku berwarna merah dan putih dengan panjang tubuh 49 cm miliknya meraih gelar tertinggi di ajang 4th Red and White Go.

Baca juga:  Ikan Cupang Berkelir Koi

“Grand champion unggul dari tubuh ikan yang padat atau kekar dan warna yang lebih cerah. Selain itu, badan ikan bersih dari warna kuning yang memang tak boleh muncul di tubuh ikan berjenis kohaku,” ujar Suwira Susanto, juri dari APKI. Herry berhak mendapat tiket pulang pergi Jakarta-Jepang-Jakarta setelah koleksinya meraih gelar grand champion.

Tren ikan hias
Semarak koi show itu mengawali dibukanya 1st Jakarta Ornamental Fish Festival yang diselenggarakan oleh Jakarta Koi Centre (JKC) bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia. Menurut Sugiarto Budiono, ketua Komisi Ikan Hias Indonesia (KIHI), ajang pameran dan kontes ikan hias kali ini adalah upaya untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap ikan hias.

“Tren ikan hias semakin hari semakin meningkat. Terutama sejak 2010, ketika KKP membentuk Direktorat Pengembangan Produk Non-konsumsi (PPN) yang salah satu bidangnya menangani ikan hias,” kata pemilik Jakarta Koi Centre di Sunter, Jakarta Utara, itu. Menurut Sugiarto kini saatnya semua pihak yang berkecimpung di dunia ikan hias bersama-sama membangun kerja sama yang solid dan kompak.

Pentas bincang peran media untuk perkembangan ikan hias diisi oleh penanggung jawab rubrik satwa Trubus, Imam Wiguna (kedua dari kiri)

Pentas bincang peran media untuk perkembangan ikan hias diisi oleh penanggung jawab rubrik satwa Trubus, Imam Wiguna (kedua dari kiri)

“Salah satunya melalui promosi ikan hias dengan mengadakan pameran dan show,” papar Sugiarto. Lelaki yang juga menjabat sebagai ketua APKI itu, mencontohkan, di tahun 2015 akan ada 20 kontes koi di berbagai daerah di seluruh Indonesia. “Kami menyelenggarakan 15 kontes, sisanya dari selain APKI,” kata Sugiarto. Selain dua kontes koi, acara yang berlangsung dari 21 Februari 2015—1 Maret 2015 di Food Centrum, Sunter, Jakarta Utara, itu juga diramaikan pameran dan lelang ikan arwana, cupang, diskus, maskoki, dan neon tetra.

Hadir pula kontes taman air atau akuaskap. Giri Maruto, pelaksana kontes dari program keahlian teknologi produksi dan manajemen perikanan budidaya diploma Institut Pertanian Bogor (TPPB-IPB), menuturkan, kontes kali ini untuk meningkatkan animo masyarakat terhadap akuaskap. “Agar semakin banyak juga ruang-ruang publik yang menggunakan properti akuaskap. Sebagai contoh di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta, yang kini ada akuaskap,” ujar dosen pengajar diploma Institut Pertanian Bogor itu.

Penjurian Indoaquascape

Penjurian Indoaquascape

Aquascaping
Peserta kontes taman air itu terdiri dari 2 orang per tim. Mereka mendesain akuarium berukuran 60 cm x 30 cm x 40 cm selama 4 jam. “Untuk tema dan komponen yang digunakan bebas,” kata Giri. Akuaskap karya Yahya dan Rashid MH dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran (FPIK-UNPAD) sebagai juara pertama. Menurut Bryant Pribadi, juri dari Sunter, Jakarta Utara, taman air bertemakan Gunung Gede itu unggul lantaran memberi kesan deep atau tampak jauh kebelakang. “Kesesuaian dengan tema juga bagus didukung komponen tanaman dan ikan serta batu yang menambah nilai harmonisasi,” ujarnya.

Karya Yahya dan Rashid MH bertemakan Gunung Gede

Karya Yahya dan Rashid MH bertemakan Gunung Gede

Karya Dian Margantara dan Muhammad Randhika dari Bekasi Aquascape Community (BAC) meraih peringkat kedua dengan tema Green Canyon. “Dari segi tema agak kurang pas, tetapi masih masuk ketika muncul tebing. Keunggulannya lebih unik lantaran ada ranting yang di atasnya diberi moss sehingga tampak seperti pohon di tengah-tengah tebing,” ujar Franky Mainza, juri asal Jakarta Timur.

Baca juga:  Riau Dukung Lumbung Pangan Dunia

Sementara Maulana Akbar Putra dan Reyhan Innantio S dari FPIK UNPAD, yang mendesain aquascaping bertema Gua Sunyaragi meraih juara ketiga. “Secara umum para peserta menampilkan usaha yang bagus tapi masih belum ada ide segar, sehingga terkesan mengikuti tema-tema yang ada,” ujar Wendy Kurniawan, juri Indoaquascape asal Mampang, Jakarta Selatan.

Suasana 1st Jakarta Ornamental Fish Festival pada 21 Februari 2015—1 Maret 2015 di Food Centrum, Sunter, Jakarta Utara

Suasana 1st Jakarta Ornamental Fish Festival pada 21 Februari 2015—1 Maret 2015 di Food Centrum, Sunter, Jakarta Utara

Tak hanya pameran dan kontes, ada pula pentas bincang di panggung utama dengan tema peran media untuk perkembangan ikan hias Indonesia pada 28 Februari 2015. Duduk bersama para pelaku ikan hias dari Perhimpunan Ikan Hias Indonesia diwakili Ir Achmad Raharjo, Sriyadi dari PT Citra Arwana, dan Imam Wiguna selaku penanggung jawab rubrik satwa majalah Trubus. “Para pelaku ikan hias sangat senang ketika muncul tren dan promosi yang media lakukan,” ujar Ir Achamd Raharjo. Menurut Imam Wiguna gambaran tren ikan hias sejalan dengan banyaknya pameran dan kontes yang terselenggara di tingkat nasional maupun internasional. (Bondan Setyawan)

545_ 30

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d