Jawara dari Kandang Mini

Jawara dari Kandang Mini 1
Perkutut yang diasuh induknya sendiri memiliki kualitas lebih bagus

Perkutut yang diasuh induknya sendiri memiliki kualitas lebih bagus

Lukas Prasetyo sukses menangkarkan perkutut di kandang sempit.

Rezeki di depan mata itu akhirnya melayang. Sepekan sebelum transaksi, Lukas Prasetyo mendapati seekor piyik perkutut jatuh dari sarang di ketinggian 1 meter. Kaki kanannya patah sehingga piyik berumur 2 bulan itu tidak bisa berjalan. Lukas pun terpaksa membatalkan penjualan. Padahal, Lukas dan calon pembeli telah sepakat, harga piyik itu Rp10-juta. “Siapa yang mau membeli perkutut cacat?” ujar penangkar perkutut di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, itu.

Itu bukan kali pertama piyik perkutut miliknya jatuh dan mengalami patah kaki. Menurut Lukas itu terjadi karena jarak sangkar piyik dan dasar kandang sangat jauh. Harap mafhum, kandang perkutut miliknya berukuran 60 cm x 120 cm x 180 cm sehingga jarak sangkar ke dasar kandang sekitar 100 cm. Itu sebabnya piyik yang terjatuh hampir semuanya mengalami patah kaki. Tak ingin kejadian serupa terulang, Lukas pun menangkarkan perkutut di kandang kecil.

Lukas Prasetyo hobi perkutut sejak 1989

Lukas Prasetyo hobi perkutut sejak 1989

Sempit

Ide menangkarkan perkutut di kandang sempit itu datang saat ia melihat 2 kandang burung berukuran 60 cm x 40 cm x 30 cm yang menganggur di halaman rumahnya. Lukas lantas menempelkan dua kandang itu di dinding berjarak 100 cm dari lantai menggunakan 4 buah sekrup untuk setiap kandang. Selanjutnya Lukas menyekat setiap kandang dengan tripleks hingga menjadi 2 ruang. Artinya, semula dua kandang, kini Lukas memiliki 4 kandang penangkaran.

Dengan cara itu Lukas bukan hanya mencegah piyik terjatuh dan lumpuh, tapi juga memaksimalkan lahan untuk menambah koleksi perkututnya. Maklum, pada awal menangkarkan perkutut, 2009, Lukas memang hanya memanfaatkan pekarangan rumah seluas 15 m2. “Keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti menangkarkan perkutut,” kata ayah 2 anak itu. Di halaman itulah ia membuat 4 kandang besar untuk penangkaran yang menyebabkan piyik jatuh.

Ukuran kandang itu 60 cm x 120 cm x 180 cm, 2 kandang sedang berukuran 60 cm x 100 cm x 120 cm. Selain itu ia juga membuat dua kandang kecil berukuran 60 cm x 40 cm x 30 cm. Kandang besar digunakan untuk perkutut dewasa, sementara yang berukuran sedang untuk anakan perkutut yang sudah bisa makan sendiri.

Puter digunakan sebagai pengasuh piyik perkutut

Puter digunakan sebagai pengasuh piyik perkutut

Bebas lumpuh

Baca juga:  Karena Tarikan Buah Eksotis

Kandang sempit itu Lukas manfaatkan untuk merawat piyik beserta induknya. Selama 1 bulan piyik diasuh oleh induknya sendiri di kandang sempit itu. Untuk menjaga agar induk tidak merasa bosan akibat ukuran kandang kecil, Lukas selalu memindahkan indukan ke umbaran setiap hari selama 1 jam. “Dengan begitu induk akan merasa leluasa untuk terbang meskipun hanya sebentar,” katanya.

Ternyata cara itu membuahkan hasil. Sejak menggunakan kandang kecil pada awal 2010, piyik hasil tangkarannya bebas dari kelumpuhan. Ia pun menambah jumlah kandang kecil untuk piyik meski telah memperluas area penangkarannya. Lukas membeli lahan seluas 200 m2 untuk mengembangkan bisnis perkututnya pada 2014. Saat ini ia memiliki 8 kandang kecil.

Menurut Prof Johan Iskandar MSc PhD, ahli burung di Universitas Padjadjaran, tidak ada angka pasti terkait ukuran sangkar perkutut yang ideal. Namun, penggunaan kandang yang terlalu kecil bisa berpengaruh buruk pada kesehatan dan pertumbuhan piyik. “Sirkulasi udara di kandang yang kecil sangat terbatas sehingga bakteri mudah berkembang,” ujar Johan.

Perkutut yang jatuh dari ketinggian kandang lebih dari 100 cm berisiko patah kaki

Perkutut yang jatuh dari ketinggian kandang lebih dari 100 cm berisiko patah kaki

Untuk mengatasi hal itu, Lukas rutin membersihkan kandang setiap hari. Selain itu, ia pun menjemur piyik setiap hari selama 1-2 jam. Sejatinya menangkarkan perkutut di kandang sempit bukan hal baru. Namun, banyak penangkar enggan memilih cara itu lantaran produksi piyik perkutut relatif rendah. Itu karena indukan harus meloloh anaknya hingga bisa makan sendiri. “Saat ini hampir seluruh penangkar menggunakan burung puter sebagai pengasuh piyik,” kata pemilik Anugrah LP farm itu.

Sebab, orientasi para penangkar adalah bisnis. Dengan menitipkan piyik pada puter, induk perkutut bisa 10-12 kali bertelur dalam setahun. Sementara jika induk meloloh anaknya sendiri, ia hanya bisa bertelur 3-4 kali setahun. Menurut Johan Iskandar, burung yang bebas di alam hanya bertelur 2-4 kali setahun. “Idealnya burung yang ditangkarkan pun memiliki siklus yang serupa,” kata Johan.

Baca juga:  Warna warni Anggrek Lycaste

Produksi

Meskipun induk perkutut mampu bertelur hingga belasan kali, Johan menyarankan agar penangkar tetap memberi jeda. Pada masa istirahat itulah induk harus mengonsumsi pakan dan vitamin agar tetap subur. Sama dengan penangkar lain, Lukas tetap menggunakan 7 pasang puter untuk mengasuh piyik perkutut miliknya. Sebagai induk asuh, puter sangat perhatian sehingga pertumbuhan piyik menjadi lebih cepat. “Perbandingannya, 3 minggu diasuh puter sama seperti piyik berumur 1 bulan yang dirawat induknya,” ujar Muryono, pemilik Top Bird Farm di Depok.

Lukas menangkarkan perkutut di kandang berukuran 60 cm x 40 cm x 30 cm

Lukas menangkarkan perkutut di kandang berukuran 60 cm x 40 cm x 30 cm

Itu karena badan puter lebih besar. Dampaknya puter memberikan porsi pakan lebih banyak kepada piyik perkutut. Namun, menurut Lukas piyik yang dititipkan ke puter tidak sebagus asuhan sang induk. “Sama seperti manusia, bagaimanapun dirawat orangtua sendiri tentu jauh lebih baik,” katanya. Selain itu, piyik yang diasuh puter kurang lincah dan cenderung manja. Ia ingin selalu disuapi sampai besar sehingga baru bisa makan sendiri setelah berumur 1,5 bulan.

Pengalaman Lukas membuktikan, piyik-piyik perkutut bakal juara produksi Anugrah LP Farm justru lahir dari kandang kecil dan diasuh oleh induknya sendiri. Perkutut bernama Komedi Puter, misalnya, jawara di kontes di Salatiga pada awal 2014 itu merupakan keturunan Merah Putih yang dirawat di kandang sempit. Merah Putih memang induk andalan Lukas lantaran keturunannya banyak meraih prestasi. Sayang, Lukas tidak tertarik pada kontes sehingga anakan perkutut bertrah juara sudah berpindah tangan.

Kendati pengasuhan piyik menggunakan puter memiliki kekurangan, Lukas masih mempertahankan lantaran pertimbangan bisnis. “Jika semua diloloh induknya, saya tidak bisa memenuhi permintaan yang datang,” kata pria yang menekuni hobi perkutut sejak 25 tahun silam itu. Ia menambah jumlah piyik tanggungan puter dari 2 ekor menjadi 4 piyik. Tujuannya agar masing-masing piyik mendapat jatah pakan lebih sedikit sehingga ukuran tembolok normal. Tembolok besar menyebabkan suara perkutut menjadi “ngempos”.

Dengan memadukan 2 sistem pengasuhan, penangkaran milik Lukas mampu memproduksi 20-25 piyik setiap bulan. Namun, tidak semua piyik-piyik itu ia jual. “Hanya 15-20 ekor saja yang saya jual,” kata Lukas. Ia sengaja membatasi penjualannya itu agar sebagian piyiknya bisa dijadikan indukan. Dengan perawatan optimal, kualitas perkutut tetap terjaga meskipun ditangkarkan di kandang sempit. (Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x