Tanam tomat mini red robin dan micro tom dalam pot atau hidroponik.

Tomat micro tom menghasilkan 30—50 buah per tanaman.

Tomat micro tom menghasilkan 30—50 buah per tanaman.

Saat melihat foto tanaman tomat setinggi kurang lebih 20 cm di situs media sosial setahun silam, Tika Nilawati langsung jatuh hati. “Buahnya kecil tapi lebat,” kata warga Kota Palembang, Sumatera Selatan, itu. Tomat unik yang dimaksud Tika adalah red robin dan micro tom. Seperti namanya, warna buah red robin seukuran lengkeng pingpong itu merah, sedangkan micro tom kuning.

Arief Nurdiansyah di Kota Malang, Jawa Timur, juga jatuh hati pada kedua tomat baru itu. Kondisi terbaik untuk menyaksikan keelokan tomat itu ketika red robin sudah merah sempurna dan micro tom kuning semua. Arief yang menjadi kepala cabang sebuah bimbingan belajar di Malang itu memetik rata-rata 30—70 buah red robin, sementara micro tom 30—50 buah per tanaman.

 

Rasa enak

Arief Nurdiansyah membudidayakan tomat red robin dan micro tom dalam pot.

Arief Nurdiansyah membudidayakan tomat red robin dan micro tom dalam pot.

Red robi dan micro tom bukan hanya enak di mata. Dari segi rasa, menurut Arief, red robin lebih manis meski ada sedikit rasa asam. Tomat hasil pemuliaan J W Scott dan Harbaugh dari Universitas Florida, Amerika Serikat, itu tampil ngejreng dengan warna buah merah merona. Namun, warna micro tom lebih unik. Tomat hasil pengembangan produsen benih asal Jepang, Sakata Seed, itu tampil cantik dengan warna kuning maksimal yang masih jarang.

Pengalaman Arief, setelah panen, tomat red robin masih bisa berbuah lagi selang sebulan. “Saat panen, biasanya masih ada bunga yang belum menjadi buah. Itu bisa kita panen lagi,” ujar alumnus Manajemen Universitas Negeri Malang itu. Namun, produktivitas pada pembuahan kedua turun hingga 70% alias 30% dari produktivitas awal. Bagi pehobi yang mengejar produktivitas buah kondisi itu kurang cocok.

Baca juga:  Aral Apel di Pot

Arief mendapatkan red robin dari sesama pehobi dalam bentuk satu buah matang sempurna. “Satu buah isinya 15 biji yang kemudian saya semai dan tumbuh semua,” ujar Arief. Arief Nurdiansyah menanam red robin dan micro tom di pot plastik berukuran 20. Arief menggunakan media tanam campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingannya 1:1:1. Ia memanfaatkan media yang sama saat persemaian dengan rasio 1:2:1. Menurut Arief salah satu ciri media tanam yang baik yaitu saat disiram air tidak menggenangi pot.

Harap mafhum, kondisi media tanam yang lembap menjadi sarang bakteri dan cendawan. Menurut Arief bibit siap pindah tanam dari media persemaian ke pot saat berumur 1—1,5 bulan pascasemai atau tanaman memiliki 6—8 helai daun. Arief menyiram tanaman kerabat cabai itu sehari sekali sebelum pukul 10.00 agar penyerapan lebih maksimal. Pemupukan sepekan setelah pindah tanam.

Pemupukan
Arief menggunakan pupuk NPK 16-16-16 dosis 4 butir per tanaman sepekan sekali. “Pupuk saya pendam di sekeliling tanaman,” ujar Arief. Ia juga menyemprotkan 2 kali pupuk daun saat awal pindah tanam. Konsentrasinya 1—2 g per liter. Pupuk daun itu ia semprotkan di daun dan batang. Saat fase bunga atau 2,5—3 bulan pascatanam, Arief mengganti NPK dengan pupuk MKP dan KNO³.

Tomat red robin mulai berbunga pada umur 3 bulan pascatanam dan panen sebulan kemudian.

Tomat red robin mulai berbunga pada umur 3 bulan pascatanam dan panen sebulan kemudian.

Konsentrasinya masing-masing 1 sendok makan MKP dan 3 sendok makan KNO³ yang ia campur dengan 5 liter air. “Per tanaman mendapat 200 ml dalam sekali aplikasi sepekan sekali,” kata lelaki kelahiran Cirebon, 24 Januari 1986 itu. Kemudian Arief menambahkan kapur pertanian sebanyak 1 sendok makan per tanaman. Saat fase berbunga itu, ia juga menyemprotkan pupuk perangsang bunga dan buah.

Baca juga:  Sayuran Bunga: Elok di Mata Lezat di Lidah

“Waktunya sepekan sekali dengan konsentrasi 1—2 g per liter,” katanya. Penggunaan pupuk perangsang itu berselang seling dengan pupuk organik cair bonggol pisang dengan konsentrasi 200 ml per 5 liter air. “Per tanaman mendapat 200 ml,” ujar Arief. Untuk pengendalian hama dan penyakit Arief lebih banyak melakukan secara manual. Misalnya hama kutu putih, ia hanya membersihkan daun yang terserang dengan tangan langsung.

Jika serangan tinggi, Arief menggunakan insektisida kontak berbahan aktif abamektin. Namun, menurut Arief serangan hama dan penyakit pada dua tomat mini itu relatif sedikit. Pengalamannya saat menanam red robin, ia hanya dua kali menyemprotkan insektisida dalam satu siklus tanam yaitu saat tanaman mulai berbunga dan mulai pentil. Dua tomat itu mulai panen umur 4 bulan.

Para pehobi
Tika Nilawati yang hobi berkebun di halaman rumah langsung menanam tomat baru itu. Tika Nilawati menanam red robi dan micro tom secara hidroponik dengan teknik dutch bucket dengan media tanam hidroton. Red robin dan micro tom tumbuh subur dalam ember plastik sistem dutch bucket dan berbuah lebat saat berumur 4 bulan. Kunci keberhasilan menanam kedu atomat baru dengan sistem hidroponik itu pengaturan kepekatan larutan nutrisi alias electro conductivity (EC).

Tomat red robin bercitarasa manis dengan kulit buah yang lebih tebal dibanding dengan micro tom.

Tomat red robin bercitarasa manis dengan kulit buah yang lebih tebal dibanding dengan micro tom.

Saat fase vegetatif, Tika mengatur kepekatan larutan nutrisi pada angka 2, lalu naik menjadi 5 saat tanaman mulai berbunga. Ketika tanaman anggota famili Solanaceae itu berbuah, ia menaikkan kepekatan larutan nutrisi menjadi 6. Selain dutch bucket, teknik lain menggunakan campuran arang sekam dan serbuk sabut kelapa. Meskipun secara teknis berbeda, konsentrasi nutrisi sama.

Baca juga:  Model Setiap Zaman

Menurut pakar hidroponik di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, sistem irigasi tetes dengan media arang sekam dan serbuk sabut kelapa lebih produktif dibanding dengan dutch bucket. “Hal itu karena tanaman susah menyerap nutrisi yang masuk ke dalam hidroton, media tanam sistem dutch bucket,” ujarnya. Teknologi budidaya dutch bucket lebih cocok untuk pehobi yang ingin mempercantik halaman rumah karena sistem itu lebih bersih dan cantik dibanding sistem irigasi tetes.

Kedua tomat baru itu mencuri perhatian para pehobi pertanian perkotaan di berbagai wilayah. Arief Nurdiansyah yang menyediakan kedua benih tomat baru itu kerap melayani permintaan mereka. Arief menjual sepaket benih untuk pehobi berisi 25 biji seharga Rp25.000. Untuk pembelian dalam jumlah besar misalnya 400 biji, Arief mematok harga Rp150.000 dan Rp100.000 untuk 200 biji.

Setiap pekan ratusan benih meluncur ke berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surakarta, Tegal, Cirebon, Lampung, Samarinda, Batam, Bali, Mataram, Mojokerto, Surabaya, Purwokerto, Purwakarta, dan Palembang. Pada umumnya mereka menanam tomat baru itu di dataran rendah. Menurut kepala University Farm, Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Anas Dinurrohman Susila, MSi, tomat yang adaptif di dataran rendah sejatinya dapat ditanam di dataran tinggi, tetapi tidak berlaku sebaliknya. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d