Jatuh Hati pada Palem Roti 1
Meski berukuran mini, taman tampil elegan dengan hadirnya encephalartos

Meski berukuran mini, taman tampil elegan dengan hadirnya encephalartos

Miliaran rupiah demi taman tampil elok.

Taman milik Waskita di Malang, Jawa Timur, itu memang tak terlalu besar. Luasnya 250 m2 saja. Namun, taman sempit itu tertata rapi. Rumput gajah mini nan hijau menghampar menutupi permukaan tanah. Di tengah taman terdapat sebuah gazebo beratap plastik ultraviolet untuk menyimpan beberapa tanaman sukulen seperti sansevieria, kaktus, dan chypostemma. Taman itu sejatinya halaman belakang rumah. Sejak dua tahun lalu, tempat itu menjadi persinggahan favorit Waskita selepas kerja.

Maklum, di sana ia bisa menikmati keelokan aneka jenis encephalartos hasil perburuannya selama 3,5 tahun. “Saya menyukai encephalartos karena bersosok eksotis,” kata Waskita. Salah satu klangenannya adalah Encephalartos horridus berdiameter bonggol 26,5 cm. Konsultan pertanian dan usaha tani itu membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk mendapatkan sang pujaan dari seorang kolektor di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.

Waskita terpikat pada sosok encephalartos yang eksotis

Waskita terpikat pada sosok encephalartos yang eksotis

Jenis langka

Sejatinya, pemilik Encephalartos horridus enggan melepas sebab tanaman anggota keluarga Cycadaceae itu berpenampilan unik. Warna daun hijau kebiruan dengan balutan warna keperakan dan duri yang tegas. Daun-daun itu tumbuh ke segala arah seperti air mancur. Selain itu, ukuran daun lebih lebar dan tebal dengan jarak antardaun rapat. Lazimnya, horridus berdaun sempit dan berduri halus. Pantas bila pemilik membanderol kerabat palem itu ratusan juta rupiah.

Namun, itu tak mengurungkan niat Waskita untuk memiliki palem roti—sebutan lain encephalartos—itu. Horridus memang populer di kalangan kolektor. Sejumlah nurseri di Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa berhasil membudidayakan. Tanaman purba itu diperjualbelikan dalam bentuk bonggol tanpa akar dan daun. “Memiliki horridus berkarakter menarik menjadi idaman sejak terjun ke dunia encephalartos,” kata Waskita.

Encephalartos horridus klangenan Waskita

Encephalartos horridus klangenan Waskita

Tanaman incaran itu tiba di kediamannya pada Desember 2013. Ia lantas meletakkan horridus di gazebo bernaung plastik ultraviolet agar terlindung dari hujan. Keesokan harinya, ia menyemprot tanaman lambat tumbuh itu dengan 5 ml fungisida dan 1,25 ml insektisida yang dicampur dalam 5 liter air. Selanjutnya, ayah dua anak itu memberikan pupuk cair dengan konsentrasi 1 ml per liter air setiap bulan. Selain E. horridus, Waskita juga mengoleksi E. heenanii.

Baca juga:  Cek Domba Sehat

Jenis itu terbilang langka. Di alam tanaman asli Afrika Selatan itu nyaris punah. Tanaman purba yang ditemukan oleh Aelen Dryer pada 1969 itu termasuk kategori E dalam Red List of Threatened Plant. Bagi kolektor encephalartos, semakin langka sebuah tanaman justru semakin diincar. Maklum, mengoleksi encephalartos adalah sebuah gengsi. Kerabat dekat sikas itu menempati takhta teratas di kalangan kolektor tanaman hias.

E. heenanii milik Waskita berdiameter bonggol 16 cm. Warna daun hijau terang dengan bulu halus kecokelatan. Lantaran berpenampilan cantik dan status langka membuat Waskita berhasrat untuk memiliki tanaman yang menghasilkan buah berwarna cokelat kehijauan itu. Negosiasi pada sang pemilik dilakukan selama 2 bulan. Tak tanggung-tanggung, ia berani merogoh kocek puluhan juta demi memboyong kerabat dekat Cycas revoluta itu.

E. heenanii jenis paling langka

E. heenanii jenis paling langka

Alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang, itu juga jatuh hati pada sosok E. hirsutus. “Di dunia sikas, hirsutus salah satu idaman,” katanya. Populasi di alam sudah sangat langka. Warna daunnya kebiruan. Pantas bila harganya pun menjulang. Waskita memperoleh hirsutus dari seorang kolektor di Jakarta 1,5 tahun lalu. Pertumbuhan hirsutus sangat lambat. “Saat dibeli, diameter bonggolnya 8 cm, kini 9 cm,” katanya.

Elegan

Waskita mulai mengoleksi encephalartos sejak 2010. Ia terpikat tanaman itu karena pohon roti cocok untuk menghias taman. “Dipandang dari dekat maupun jauh, encephalartos tetap indah,” katanya. E. lehmanii dan E. ferox, masing-masing berdiameter bonggol 25 cm dan 45 cm menjadi koleksi pertamanya. Kedua jenis itu diperoleh dari sebuah nurseri di Kota Batu, Jawa Timur. Karakternya yang saling berseberangan membuat Waskita kepincut. “Lehmanii terkesan kalem, sedangkan ferox lebih galak,” katanya.

E. hirsutus memiliki warna daun kebiruan

E. hirsutus memiliki warna daun kebiruan

Sejak itulah, pria berusia 37 tahun itu getol mendatangkan encephalartos. Ia mencari informasi mengenai tanaman yang sezaman dengan dinosaurus itu dari sejumlah pehobi di tanahair. Kini, ia mengoleksi 16 jenis palem roti. Beberapa masih di pot untuk proses adaptasi sebelum ditanam di tanah. Total jenderal biaya yang dikeluarkan mencapai miliaran rupiah. Selain encephalartos, ia juga mengoleksi zamia dan dioon.

Baca juga:  Dolar dari Abaka

Menurut Iwan Wirawan, ahli taman di Bandung, Jawa Barat, encephalartos cocok digunakan untuk membuat taman nan elegan tanpa repot memikirkan perawatan. Penanaman di tanah justru membuat encephalartos tumbuh cepat ketimbang di pot. Agar si palem roti tumbuh optimal, atur taman sesuai dengan habitat asalnya yang panas dan kering. Usahakan selalu terkena sinar matahari supaya tanaman tetap sehat. “Gunakan media porous agar akar tidak gampang busuk,” kata Iwan.

Waskita menuturkan kehadiran encephalartos membuat taman tampil lebih istimewa. Ia sengaja membuat taman itu berkontur mirip bukit agar pembuangan air lancar sehingga tidak menggenang yang memicu busuk akar. Dengan begitu palem roti pun tumbuh sehat. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *