Muhamad Yusron Ismail berganti-ganti komoditas sebelum menggeluti bisnis jambu getas.

Muhamad Yusron Ismail berganti-ganti komoditas sebelum menggeluti bisnis jambu getas.

Layaknya mahasiswa semester awal, Muhammad Yusron Ismail ingin berbisnis untuk memanfaatkan waktu luang. Pada 2010, bersama 2 rekan, ia mencoba berbagai bidang usaha. Mula-mula mereka menerima jasa pencucian kendaraan bermotor roda 2 dan roda 4. Tidak bertahan lama, Yusron banting setir menekuni budidaya lele. Ia memilih kedua bidang itu lantaran Jember kota pelajar di wilayah timur Jawa Timur. Universitas Jember dan berbagai perguruan tinggi swasta mengundang mahasiswa dari luar daerah.

“Pasti banyak yang membawa kendaraan dan perlu dicuci,” kata ayah 1 putri itu. Pemikiran serupa mendasari keputusan Yusron menerjuni budidaya lele. Usaha itu pun tidak bertahan lama lantaran ia tidak menguasai teknis budidaya meski pasar terbuka. Pada 2012, anak kedua dari 3 bersaudara itu banting setir lagi dan memilih komoditas jamur tiram. Saat itu pilihannya tepat, budidaya jamur tiram itu sukses. Harga jamur tiram di Jember cukup tinggi, mencapai Rp13.000 per kg.

Dari kumbung berisi 2.000 baglog jamur, setiap hari ia memperoleh 200 kg jamur tiram untuk memasok pasar tradisional dan produsen makanan kecil di Kota Jember. Sayang, berjalan hampir 2 tahun, kedua rekan Yusron mengundurkan diri karena masa studi mereka usai. Usaha yang sedang berkembang itu pun pupus. Telanjur semangat berbisnis, ia melirik lapak-lapak penjual jus yang ia lalui setiap hari. Yusron berpikir, berapa banyak buah yang mereka perlukan setiap hari.

Saat itu ia memilih jeruk semboro yang banyak ditanam di wilayah dekat rumah. Maklum, Kecamatan Umbulsari dan daerah-daerah sekitarnya adalah sentra buah. Selain jeruk siam semboro—jeruk khas Jember, di sana juga banyak yang menanam getas merah, belimbing, dan berbagai tanaman buah lain. Dari sanalah Yusron memperoleh pasokan. Seiring waktu, Yusron menambah komoditas dengan jambu getas merah. Ia mengirim ke lapak-lapak pedagang buah di Jember. Sejak itu pelapak buah mulai mengenal namanya. (Argohartono Arie Raharjo)

Baca juga:  Pioner Efervesen Temulawak

Tags: bisnis, jatuh bangun

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d