Janji Laba Talas 1
Talas memerlukan sentuhan dan polesan di sektor hulu.

Talas memerlukan sentuhan dan polesan di sektor hulu.

Peluang mengolah talas terbuka lebar. Bisnis olahan maupun segar sama-sama menguntungkan.

Ir. Tatag Hadi Widodo menggeser tuas persneling lalu menginjak pedal gas. Kendaraan bergardan ganda itu menjadi sarana vital menuju kebunnya di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Medan yang akan ia tuju harus melalui jalan tanah. Kalau sehari sebelumnya hujan turun, jalan menjadi lembek berlumpur. Di daerah berbukit-bukit itu, Tatag menanam talas di 3 lahan terpisah dengan luas total 10 ha. Luas ketiganya berbeda, yaitu 1 ha, 4 ha, dan 5 ha.

Tanaman talas memunculkan 5—6 anakan.

Tanaman talas memunculkan 5—6 anakan.

Umur tanaman Colocasia esculenta itu bervariasi dari 9 bulan sampai anakan yang baru pisah dari tanaman utama. Hampir setiap hari Tatag menyambangi kebun lantaran ia tidak menjual melalui jalur umum. Mengandalkan dunia maya, alumnus Jurusan Ilmu Tanah Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu memasarkan talas menggunakan ujung jari. Melalui fitur berkirim pesan di sosial media maupun aplikasi pesan instan, pembeli dari berbagai daerah setiap hari meminta kiriman.

Tiga talas

Tatag memilih pemasaran melalui media sosial lantaran harga jual tinggi, Rp15.000 per kg. “Biaya kirim pun pembeli yang membayar,” katanya. Bandingkan jika ia menjual kepada tengkulak, harganya hanya Rp2.000 per kg. Jika menjual kepada tengkulak, Tatag memang mendapat uang banyak seketika. Kemudian ia harus menunggu minimal 8 bulan sampai panen berikutnya. “Permintaan setiap pembeli tidak banyak, 10—20 kg. Hanya sedikit yang membeli lebih dari 1 kuintal per pembelian,” ujar pegiat agribisnis sejak 1986 itu.

Ir. Tatag Hadi Widodo, M.M. menanam dan mengolah talas di Sentul, Bogor.

Ir. Tatag Hadi Widodo, M.M. menanam dan mengolah talas di Sentul, Bogor.

Artinya, omzet harian dari talas Rp300.000, setara Rp9 juta per bulan karena hari libur pun ia meladeni pesanan. Pembeli—dari kalangan industri rumah tangga, restoran kelas ekspatriat, maupun hotel berbintang—menyukai talas Tatag lantaran baru panen. Tatag menanam talas sutra alias talas hawai sejak Juni 2017. Sejatinya ada 3 jenis yang ia tanam, yaitu talas hawai, bogor, dan jenis yang tidak ia ketahui namanya asal Lampung. Namun, lebih dari 90% adalah hawai. Hal itu lantaran bibit talas hawai banyak tersedia ketika ia mulai menanam.

Bibit itu ia peroleh dari pekebun talas di kawasan Puncak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sang pekebun harus segera mencabut semua tanamannya karena lahan itu dijual pemiliknya. Tatag membantu membongkar semua talas di sana dan membayar Rp2.000 per tunas talas yang ia boyong. Umbi talas tetap menjadi milik sang pekebun, yang lantas ia jual kepada tengkulak. Dari sana Tatag mendapat bibit untuk menanami lahan seluas 3 hektare. Sebelum tanam, ia membenamkan 7 ton per ha pupuk kandang terfermentasi ditambah batu fosfat alam dan dolomit masing-masing 0,5 kg per tanaman.

Semakin lama masa tanam, umbi talas semakin besar.

Semakin lama masa tanam, umbi talas semakin besar.

Pekerja kebun menanam bibit secara monokultur dengan jarak 0,5 m sehingga populasi 20.000 tanaman per ha. Selanjutnya setiap bulan ia mengocorkan pupuk dari lindi fermentasi pupuk kandang. Seliter lindi ia encerkan menjadi 200 liter pupuk cair. Setiap tanaman mendapat 1 l pupuk cair itu. Pemupukan sekaligus membumbun umbi yang semakin naik lantaran umbi talas hawai itu tumbuh ke atas. Umbi yang makin tinggi itu menjadi kekhasan talas sutra. Berbeda dengan talas bogor atau lampung yang pertumbuhan umbinya ke bawah.

Baca juga:  Sirsak Pendamping Kemoterapi

Tiga bulan sejak tanam, talas hawai asal Cianjur itu mulai memunculkan tunas anakan. Setelah daun membuka, anakan Tatag pisahkan dari tanaman induk lalu ia tanam di tempat lain. Eksportir beragam tanaman hias itu melakukannya sampai luasan tanam 9 ha. Talas bogor dan lampung ia tanam di lahan terpisah seluas 1 ha. Prosedur penanaman dan perawatan sama dengan talas hawai. Bulan ke-6 pascatanam, saat umur tanaman 5 bulan, pria 54 tahun itu mulai panen.

Bobot umbi rata-rata umur itu 1 kg. Umbi talas itu Tatag olah dan sajikan di restoran miliknya di Kompleks Taman Budaya Sentul City, Sentul, Kabupaten Bogor. Di restoran itu, ia mengolah umbi talas menjadi macam-macam penganan antara lain bakpao, donat, cake, atau kolak. Ia menyajikan olahan berbasis talas itu hanya pada akhir pekan sekaligus untuk menguji serapan pasar. “Ternyata selalu habis terjual,” kata alumnus Program Magister Marketing Internasional Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta itu.

Padahal setiap kali mengolah, Tatag bisa menghabiskan 50 kg umbi talas. Pengujian itu membuktikan bahwa olahan talas berprospek cerah. Ayah 3 anak itu menanam talas murni untuk bisnis lantaran melihat potensi pasar. Kebanyakan menanam talas sebagai sampingan di pekarangan sehingga hasilnya terbatas. Dengan budidaya intensif, menjual mentah saja sudah menguntungkan. Apalagi kalau mengolah sendiri.

Talas hitam

Talas hitam alias keladi hitam pontianak, hanya pangkal tangkai daun yang kehitaman.

Talas hitam alias keladi hitam pontianak, hanya pangkal tangkai daun yang kehitaman.

Jika masa tanam diperpanjang menjadi 8 bulan, pada bulan ke-9 bobot umbi rata-rata 2 kg. Bahkan, tanaman berumur setahun bisa menghasilkan umbi berbobot 5 kg. “Semakin tua tanaman, umbi semakin besar sehingga pendapatan semakin banyak,” ujar Tatag. Tidak seperti hewan ternak yang pertambahan bobotnya mandek di umur tertentu sehingga semakin lama pemeliharaan justru

menggerus keuntungan. Itu sebabnya pria yang menekuni produksi sayuran hidroponik sekaligus konstruksi rumah tanam itu menjual santai melalui media sosial.

Tanaman anggota famili Araceae itu relatif tidak disukai hama dan minim serangan penyakit. Kendala utama adalah kehadiran alang-alang Imperata cylindrica. Akar samping tanaman gulma itu mampu tumbuh menembus umbi atau pangkal tangkai daun talas. Umbi yang tertusuk akar alang-alang membusuk dan rusak sehingga tidak layak panen. Gulma daun sempit itu menjadi momok lantaran penyemprotan herbisida tidak efektif dan menyebabkan pembengkakan biaya. “Pengendaliannya mengandalkan penyiangan manual,” ungkap suami dari Rum Hera Ria itu.

Bobot umbi talas sutra umur 6 bulan baru 1 kg.

Bobot umbi talas sutra umur 6 bulan baru 1 kg.

Di Pontianak, Kalimantan Barat, olahan talas hitam—masyarakat setempat menyebutnya keladi hitam—menjadi jalan keluar bagi Benisius Kowira setelah bisnisnya di sektor konstruksi ambruk pada 2009. Dalam kondisi terpuruk, pasangan Beni dan istrinya, Ng Miauw Luan, mencari peluang yang bisa menjadi mata pencaharian. Mereka lantas teringat talas hitam, salah satu oleh-oleh khas Pontianak sejak 20 tahun silam. Untuk membedakan dengan produk yang ada, mereka mengolah talas hitam menjadi kripik berukuran kecil yang mereka sebut stik.

Baca juga:  Sabut Tempat Tanam Tiram

Stik talas hitam itu mula-mula Beni jual dari pintu ke pintu mengandalkan relasi dan kerabat. Luan mengolah talas hitam segar menjadi 5 kg stik lalu Beni bertugas menawarkan kepada calon pembeli. Setelah mencicip, hampir semua orang yang ia datangi ingin membeli. Luan lantas menyiapkan 20 kg stik talas hitam untuk memenuhi pesanan itu. Ketika Beni mengirim kepada pemesan pertama, pembeli baru juga minta kiriman berikutnya. Dalam seminggu, produksi meningkat 20 kali lipat dari 5 kg menjadi 100 kg stik. Sekilogram stik memerlukan 3,5 kg talas mentah.

Benisius Kowira menginovasi bentuk baru olahan talas hitam.

Benisius Kowira menginovasi bentuk baru olahan talas hitam.

Beni mengemas 120 gram stik talas hitam dalam paking plastik transparan dengan harga Rp12.000. Setiap hari mereka mengolah 500 kg umbi talas hitam menjadi 150 kg stik. Artinya, omzet harian Beni dan Luan dari produksi stik mencapai Rp15 juta. Ia hanya membeli untuk stok produksi seminggu karena talas hitam mentah hanya tahan simpan 10 hari. Ketika stok menipis, Beni segera menelepon pemasok langganan untuk mengirim. Pesaing bermunculan sehingga Luan berinovasi membuat berbagai varian rasa seperti pedas, barbekyu, atau keju.

Dari Sumatera sampai Papua ada setidaknya 20 varian talas edibel.

Dari Sumatera sampai Papua ada setidaknya 20 varian talas edibel.

Periset olahan pangan lokal di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Prof. Dr. Ir. Nur Richana M.S. menyatakan, talas menyimpan potensi besar untuk dikembangkan lantaran cocok dengan iklim tanah air dan minim perawatan. Sayang, pengembangannya kalah oleh komoditas pangan lain yang menjadi prioritas. “Sampai sekarang saja belum ada varian atau kultivar talas unggul,” kata Richana. Bandingkan dengan talas jepang satoimo yang sekarang justru banyak ditanam di tanah air sampai bibitnya diperbanyak dengan kultur jaringan.

Peluang di segmen pascapanen terbuka lebar, salah satu buktinya adalah popularitas lapis talas asal Bogor. Kelemahannya justru di sektor hulu. Data luasan tanam dan produksi talas nasional pun tidak tersedia. Padahal dari Sumatera sampai Papua, ada setidaknya 20 varian talas lokal yang bisa dimakan (edibel), masing-masing dengan penampilan dan rasa berbeda. Perlu sentuhan dan keberpihakan semua pihak agar talas sebagai sumber tepung lokal tidak punah tergeser tepung impor. (Argohartono Arie Raharjo)

Alang-alang di sela talas harus dicabut secara manual.

Alang-alang di sela talas harus dicabut secara manual.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *