Jahe merah kerap diolah menjadi serbuk instan.

Jahe merah kerap diolah menjadi serbuk instan.

Pekebun meraup untung miliaran rupiah dari fluktuasi harga jahe merah. Jika tidak jeli, malah rugi.

Senyum lebar menghiasi wajah Nugroho Tjahyo Widodo. Pekebun jahe merah di Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, itu baru saja membeli mobil baru keluaran Jepang senilai Rp189-juta secara tunai. “Mobil itu saya beli setelah untung banyak dari penjualan jahe merah,” ujarnya mengenang kejadian pada 2013 silam. Ia memanen jahe merah dari 25.000—30.000 kantong tanam yang tersebar di Pasuruan, Jawa Timur serta Klaten dan Pati, Jawa Tengah.

Ibarat menemukan durian runtuh, ketika panen pada Mei 2013, ia memperoleh harga fantastis. Saat itu, produsen jamu di Semarang, Jawa Tengah, membeli jahenya Rp42.750 per kg. Padahal, dari setiap kantong tanam, Nugroho memperoleh sedikitnya 5,3 kg rimpang. Dengan biaya produksi Rp12-juta per 5.000 kantong tanam alias Rp2.400 per kantong tanam, labanya Rp224.175 dari setiap kantong tanam alias total Rp6-miliar.

Nugroho Tjahyo Widodo meraup untung miliaran rupiah saat harga jahe merah melejit tajam.

Nugroho Tjahyo Widodo meraup untung miliaran rupiah saat harga jahe merah melejit tajam.

Musim hujan
Produsen jamu bersedia membeli jahe merah milik Nugroho dengan harga tinggi karena dua faktor. “Saat itu pasokan sedikit dan jahe saya organik,” ujar pria berusia 49 tahun itu. Menurut lelaki kelahiran 23 Februari 1966 itu, saat itu sedikit sekali orang yang membudidayakan jahe merah ditambah lagi sedang musim hujan. Menurut Kepala Bagian Budidaya Tanaman PT Sidomuncul, Bambang Supartoko, saat hujan kualitas jahe merah rendah lantaran memasuki fase vegetatif.

“Saat musim hujan tanaman fokus memunculkan tunas-tunas baru, sehingga rendemen atau ekstraknya pun lebih sedikit,” ujar Bambang. Oleh karena itu PT Sidomuncul selalu menyimpan ekstrak cadangan untuk dipakai saat pasokan dari pekebun berkurang. Selain itu, agar menghasilkan kualitas yang terstandar, PT Sidomuncul tak segan-segan untuk menambah kuantitas bahan segar hingga 2 kali lipat.

Baca juga:  Kulit Rambutan Jaga Hati

Sidomuncul hanya sedikit menggunakan jahe merah. “Jahe merah hanya digunakan untuk sebuah produk, yaitu pereda rematik,” ujar Bambang. Sidomuncul membutuhkan sekitar 300 kg jahe merah kering per bulan. Bandingkan dengan penggunaan jahe emprit atau jahe putih kecil yang mencapai 6—7 ton kering per bulan. “Jika ditotal hanya sekitar 10% dibanding jahe putih kecil,” ujar Bambang.

Darul Mahbar, produsen jahe merah serbuk di Kota Tangerang, Provinsi Banten, mengungkapkan hal senada. Ia kesulitan memenuhi kebutuhannya saat musim hujan. Setiap bulan ia membutuhkan 16 ton jahe merah segar. “Separuh untuk diolah menjadi serbuk dan minuman jahe instan, separuh lagi kami jual segar,” ujarnya. Selama ini pemilik UD Tri Agro Sukses itu mendapat pasokan dari pekebun di Sumatera.

Namun, sejak Maret 2015, ia kesulitan memenuhi kebutuhannya. “Yang terpenuhi baru 50% atau 8 ton per bulan,” ujarnya. Menurut Darul penyebabnya musim hujan yang berkepanjangan. Pada Maret 2015 di Sumatera sedang panen raya kopi sehingga sedikit tenaga pemanen jahe. Darul menerima rimpang Zingiber officinale yang sudah tua dengan umur panen diatas 10 bulan dan bersih dari kotoran maupun tanah. “Toleransi kotorannya 5%,” ujarnya.

Harga jahe merah fluktuatif di pasaran.

Harga jahe merah fluktuatif di pasaran.

Fluktuatif
Menurut Bambang naik-turunnya harga jahe merah di tingkat petani dipengaruhi oleh permintaan dan pasokan. Darul menuturkan hal senada. “Titik tolaknya dari 2008 harga jahe merah cukup tinggi lantaran yang menanam baru sedikit, sementara produsen jamu rumahan berbahan dasar jahe merah mulai banyak,” ujar Darul. Pada 2009, harga jahe merah turun lantaran banyak pembudidaya sementara pasar olahan masih melebarkan sayap.

Baca juga:  Buktikan Sukses Berkebun Paprika

Begitu seterusnya hingga 2013 saat harga diatas kewajaran. Hal itu pula yang mendorong Dwi Wahyudi membudidayakan jahe merah. Pekebun di Yogyakarta itu membeli 2 kg jahe merah segar dari pasar sebagai permulaan menanam pada 2013. Sayang, pertumbuhan tanaman kurang bagus karena rimpang jahe yang ia beli bukan untuk bibit melainkan jahe konsumsi.

Kini Yudi fokus memproduksi bibit. “Saya mendapat permintaan rutin dari produsen jamu skala nasional,” katanya. Perusahaan itu membeli 2.000 bibit jahe merah per pekan selama Agustus 2013—Desember 2014. Saat itu Yudi sanggup menjual 10.000 bibit jahe merah saban bulan. Kini sekitar 6.500 bibit jahe merah terjual ke konsumen yang berasal dari berbagai daerah seperti Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Sumedang (Jawa Barat), Boyolali (Jawa Tengah), dan Madiun (Jawa Timur).

Ia menjual bibit seharga Rp2.500 per tanaman. Artinya omzet Yudi mencapai Rp16,2-juta per sebulan. Jika ongkos produksi per tanaman Rp1.500, maka Yudi mendapat laba Rp2,5-juta. Kini permintaan bibit berkurang karena banyak yang menyediakan bibit. Harga tinggi pada 2013 mendorong orang beramai-ramai menanam jahe merah. Efeknya pada 2014, pasokan berlebih sehingga harga anjlok.

Saat itu, Taufik Hidayat pekebun di Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, memulai budidaya 300 kantong tanam jahe merah di pekarangan rumahnya. “Saat ini sudah berumur 5—6 bulan,” kata Taufik. Ia tak berambisi mendapat untung besar. “Sekadar untuk mengisi waktu. Syukur-syukur kalau harga tinggi dan bisa mendapat untung,” kata Taufik.

Jahe merah di pasar induk modern Puspa Agro, Sidoarjo, Jawa Timur, cenderung stabil di harga Rp13.000—Rp16.000 per kg.

Jahe merah di pasar induk modern Puspa Agro, Sidoarjo, Jawa Timur, cenderung stabil di harga Rp13.000—Rp16.000 per kg.

Permintaan besar
Di pasar induk modern Puspa Agro, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, harga jahe merah saat ini mencapai Rp15.000—Rp16.000 per kg. Sujiati, penjual jahe merah di pasar itu, menuturkan bahwa permintaan jahe merah masih kalah dengan jahe gajah. “Jahe gajah sehari 15—20 kg, sementara jahe merah rata-rata 5—10 kg,” ujarnya. Menurut Sujiati harga jahe merah lebih tinggi dibandingkan jahe gajah.

Baca juga:  Udang di Kolam Terpal

“Jahe merah Rp15.000—Rp16.000, kalau jahe gajah Rp11.000—Rp12.000, sementara jahe emprit Rp14.000. Jahe merah paling mahal,” ujar penjual jahe sejak 2013 itu. Pedagang lain, Yuliati, mengungkapkan permintaan jahe merah sejatinya cukup besar, tetapi pedagang kerap kekurangan pasokan. “Saat stok sedikit harga jahe merah bisa Rp20.000 per kg, tetapi ketika pasokan berlebih bisa anjlok menjadi Rp10.000,” ujarnya. Yuliati menjual jahe merah per pekan 50 kg.

Harga itu terbilang normal. Bambang Supartoko menuturkan harga ideal jahe merah di pasaran Rp13.000—Rp16.000. “Pekebun untung, produsen juga bisa untung,” ujarnya. Menurut Bambang, harga tertinggi yang pernah PT Sidomuncul tawarkan untuk jahe merah Rp25.000. “Jika harga sudah tidak wajar, misalnya di atas Rp30.000 atau bahkan di atas Rp50.000, kita harus waspada ada kepentingan di sana,” ujar Bambang Supartoko.

Bambang mengingatkan agar pekebun mewaspadai fluktuasi tren jahe merah. “Itu mirip juga dengan batu akik sekarang. Barangnya sedikit sementara konsumennya bukan sembarang orang alias eksklusif,” ujarnya. Nugroho juga mengungkapkan hal senada. Harga jahe merah cenderung spekulatif dan sangat fluktuatif. Menurut Nugroho lebih aman berniaga jahe gajah atau emprit yang pasarnya sudah jelas.

Oleh karena itu, seperti hukum pasar, jika ingin mendapatkan keuntungan tinggi tanamlah jahe merah saat pekebun lain tidak menanam. Pasokan sedikit, sementara permintaan stabil. Alternatif lain buat kontrak dengan produsen jamu agar harga jelas dan tidak menjadi objek spekulan atau tengkulak. (Bondan Setyawan/Peliput: Riefza Vebriansyah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d