Jani Ginting: Tebang Sawit Pilih Salak 1
580-H042-1

Jani Ginting majukan desa lewat salak pondoh dengan menggusur lahan sawit.

580-H043-1

Desa Tigajuhar menjelma menjadi sentra salak pondoh.

Menebang ribuan kelapa sawit di lahan 25 ha lalu menggantinya dengan salak pondoh.  Produksi 30 ton sebulan jadi rebutan pedagang.

Kebun salak pondoh Jani Ginting di Tigajuhar, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara,  selalu ramai pada Jumat. Puluhan pedagang buah antre untuk mendapatkan salak pondoh. Meski telah memesan, bisa jadi para pedagang itu memperoleh buah lebih sedikit, tergantung produksi kebun. Oleh karena itu, mereka waswas buah tidak sebanyak harapan. Padahal, untuk mendapat buah, mereka pun harus menyetor uang muka 50% atau Rp20 juta—Rp30 juta.

Bila batal datang, Jani mengalihkan jatah mereka ke pedagang lain. Saingannya sesama pedagang, siap mengambil alih salak itu. Bahkan para pedagang buah siap membayar lunas asal  semua orderan buahnya  tersedia. Namun, Jani Ginting menolak  tawaran itu lantaran tidak ingin mengecewakan pedagang lain. “Semua harus mendapatkan buah secara merata,” ujar pemilik kebun Pondok Tigajuhar itu.  Harap mahfum, produksi kebun seluas 25 ha itu hanya 5—6 ton per panen atau 30 ton per bulan.

Lebih segar

Keruan saja produksi itu tidak mencukupi permintaan para pedagang yang mencapai 7,5 ton per hari atau 225 ton sebulan. Volume produksi tidak mencukupi permintaan konsumen. Bahkan saat puncak produksi, yaitu musim kemarau, panen 150 ton per 2 hari pun belum mencukupi permintaan konsumen. Itu belum termasuk permintaan dari  Malaysia dan Singapura. Pedagang  diuntungkan karena harga relatif rendah, Rp7.000 per kg.

580-H043-2

Salak pondoh tigajuhar lebih segar karena pemasaran cepat setelah panen.

Bila pedagang mengambil buah di Medan, harga Rp10.500 per kg. Konsumen membeli minimal Rp12.000 per kg. Apa kelebihan salak pondoh produksi Pondok Tigajuhar? Konsumen menyukainya karena bercita rasa segar, manis, dan renyah. Rasa sangat manis karena Jani memanen buah saat matang. Menurut pemerhati buah di Sumatera Utara, Chandra Tio, buah salak di kebun Jani Ginting lebih enak daripada salak sejenis bahkan dari daerah asalnya, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Untuk menghasilkan salak bermutu Jani menerapkan budidaya organik. Tigajuhar di kaki Bukit Barisan bertanah podzolik, lempung berpasir sehingga air mudah meresap. Salak berjarak tanam 2 m x 2,5 m di bedengan itu kini berumur 11 tahun, tanaman “mandiri”. Penjaga kebun hanya memangkas daun tua dan meletakkannya di lajur tanaman. Pemangkasan daun itu sekaligus memudahkan terjadinya perkawinan alami salak yang siap serbuk.

Baca juga:  Berbuah Sepanjang Tahun

Bunga salak terletak di sela-sela pelepah daun yang berduri. Kebun itu memang berharap pada serangga untuk membantu penyerbukan. Namun, petugas tetap membantu penyerbukan bila tidak ada bunga jantan matang di sekitar bunga betina matang.  Setelah mengawinkan bunga, ia atau petugas lain kemudian mencacah pelepah daun dengan mesin cacah. Setelah itu, Jani menyemprotkan larutan mikrob dan air gula untuk mempercepat pelapukan limbah pelepah.

Setelah 1—2 bulan, limbah melapuk menjadi pupuk organik. Tanaman pun senantiasa sehat dan berproduksi secara optimal. Sebelum ada salak pondoh di Tigajuhar, para pedagang di Medan dan sekitarnya, mendatangkan salak pondoh dari Sleman. Salak itu menempuh perjalanan 4 hari sebelum sampai ke konsumen. Perjalanan panjang menyebabkan kualitas rasa  menurun dan kurang segar, meski tetap manis.

Jani Ginting merebut celah pasar itu. Ia pun mengganti ribuan kelapa sawit di lahan 25 ha dengan salak. Bahkan kini ia juga mengembangkan salak madu atau varian dari salak pondoh di lahan seluas 5 ha. Jani Ginting mengembangkan salak pondoh pada 2006. Saat itu, ia melihat pekebun salak di Sleman hidup makmur meski luas lahan hanya 2.000 m². Ia pun tertarik mengembangkan di kebun kelapa sawitnya. Ia lalu  membeli 1.500 bibit dan memboyong 15 orang untuk merawat salak-salak itu.

Pada umur 2,5 tahun, salak-salak itu belajar berbuah. Semula hasilnya 800 kg per bulan, kemudian 1.000 kg, dan pada umur 3 tahun mencapai 1.500. kg. Ia menjual salak-salak itu Rp6.000 per kg. Kini produksi mencapai  30 ton per bulan dengan harga Rp7.000 per kg. Omzet Jani Rp210 juta per bulan. Lonjakan produksi terjadi seiring pertambahan umur tanaman dan populasi. Satu tanaman salak menjadi 3 individu karena Jani membiarkan dua anaknya tumbuh besar. Kini, tanaman-tanaman itu berbatang keras setinggi 1 m penuh daun setinggi 2—3 m.

580-H044-2

Produksi salak hingga 150 ton per 2 hari belum bisa memenuhi permintaan.

580-H044-1

Profil Jani Ginting

Sentra salak

Jani pun mengajak 10 warga Tigajuhar untuk mengunjungi kebun salak di Sleman. Ia ingin menunjukkan bahwa dengan lahan minim pun salak dapat menopang ekonomi warga. Setelah melihat langsung kebun salak di Sleman, mereka tertarik menanam salak dan mengganti kelapa sawit mereka secara bertahap. Warga di sekitar kebun Jani mengikuti jejak sukses itu. Mereka banyak membudidayakan tananam kerabat pinang itu. Kini Tigajuhar berkembang menjadi sentra salak pondoh di Sumatera Utara.

Sekitar 200 warga menanam salak di lahan 200 ha dan produksi 300—400 ton per bulan. Menurut alumnus Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung itu penghasilan dari kebun seluas 30 ha miliknya, 8 kali lebih banyak daripada hasil 100 ha kelapa sawit. Bila hasilnya 2 ton saja, pekebun bisa mendapat Rp15 juta. Dengan biaya produksi 30%, mereka masih mendapat laba Rp10 juta. Bandingkan dengan petani sawit, paling tinggi mendapat Rp1,2 juta per ha setiap bulan.

Baca juga:  Seri Walet (219): Perbanyak Sarang Walet

Menurut Jani Ginting perbandingan salak dan kelapa sawit 1 : 8 hingga 1 : 10. Jani menduga lokasi kebun berketinggian 800 meter di atas permukaan laut itu kurang cocok untuk kelapa sawit sehingga produksi sangat rendah, hanya 500 kg per bulan. Padahal, produksi kelapa sawit di lahan yang tepat dapat mencapai 2.500 kg per ha per bulan. Selain salak, Jani mencoba beberapa komoditas tanaman buah. Saat ini ia menanam 700 pohon  8 varietas kurma, dan 350 lengkeng merah.

580-H045-1

Kebun salak di lahan 25 hektare, semula kebun kelapa sawit.

580-H044-3

Produksi salak hingga 150 ton per 2 hari belum bisa memenuhi permintaan.

Selain itu Jani juga membudidayakan 5 varian lengkeng (new kristal, aroma durian, matalada, dan king long),   tin 400 varitas, avokad  850 batang (20 varitas), serta durian 40 jenis. Sebelum memutuskan menanam komoditas tertentu, ayah 4 putri itu mengunjungi pekebun sukses untuk belajar. Contohnya, sebelum menanam lengkeng merah, ia mengunjungi sumber pertama lengkeng merah atau ruby longan di Vietnam yang berjarak 200 km dari kota Ho Chi Minh.

Di sana ia membeli 4 bibit ruby longan dari pemilik pertama itu.  Saat akan bertanam kurma, ia mengunjungi  beberapa pekebun di kawasan Arab. Dan mengunjungi pekebun irwin di Jepang saat akan menanamnya. Meski demikian, beberapa komoditas tetap gagal. Ia terpaksa menebang 800 pohon mangga irwin yang bibitnya berasal dari Jepang. Padahal, umur pohon 5 tahun dan harga sebuah bibit Rp5 juta. Mangga berkulit merah itu produksi buahnya rendah, meski bunganya lebat. Apalagi ulat penggerek batang menggerogoti pohon itu.

Selain itu Jani juga menebang 1.000 tanaman buah naga lantaran produksi rendah dan hanya berbuah sekali setahun. Padahal, harga sebuah bibit Rp250.000. Investasi Rp250 juta pun tak menghasilkan. “Saya habis Rp250 juta, belum termasuk transpor dari Yogyakarta,” kata Jani. Sebelumnya, ia menanam jeruk siem 10 ha. Jeruk siem itu juga ditebang saat usia 3,5 tahun. “Biaya perawatan ngeri. Tiap bulan saya harus kirim Rp30 juta—Rp40 juta. Hasil nggak ada,” ungkap kelahiran Magelang 53 tahun silam itu.

Chandra Tio pun memuji keberanian Jani Ginting membuka kebun buah. Ia selalu melihat berbagai aspek dari berbagai tanaman yang dikembangkan. Bila tidak sesuai harapan, ia tidak ragu menggantinya. “Tidak banyak orang yang rela membabat kebun bila gagal produksi,” kata pemain tin di Medan itu.  Namun, Jani Ginting melakukannya. (Syah Angkasa)

580-H045-2

Penyerbukan Alami 70% Berhasil

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *