Jamur Tiram Laba Rp42-Juta per Bulan 1
Pasar tiram terbuka lebar. Kebutuhan pada 2015 mencapai 17.500 ton per tahun

Pasar tiram terbuka lebar. Kebutuhan pada 2015 mencapai 17.500 ton per tahun

Penggunaan hormon tumbuh di kalangan pekebun kembali tren. Hormon mendongkrak produksi hingga 60%. Upaya itu belum cukup memenuhi permintaan tiram yang terus membubung.

Dua windu membudidayakan jamur tiram, baru kali ini Asep Permana memetik hingga total 800 gram per baglog berbobot 1,5 kg. Itu akumulasi dari 6 kali panen dalam satu periode penanaman. Pada panen perdana petani di Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu menuai 200—250 gram per baglog. Adapun volume panen kedua 150—200 gram per baglog. Empat panen berikutnya, ia memetik masing-masing 100 gram.

Artinya rasio efisiensi biologi (BER) alias perbandingan antara bobot tiram segar per bobot baglog basah jamur tiram mencapai 53%. Bandingkan dengan rasio efisiensi biologi rata-rata petani jamur tiram di tanahair yang hanya 35—40%. Sebelum Juni 2014, rasio efisiensi biologi di kumbung Asep juga sama. Petani itu hanya memetik total 500 gram per baglog. Peningkatan produksi mencapai 60% itu lantaran Asep menggunakan hormon perangsang tumbuh mengandung mikroorganisme. Konsentrasinya 100 ml per 12 l air.

Hormon perangsang meningkatkan rasio efisiensi biologi menjadi 53%

Hormon perangsang meningkatkan rasio efisiensi biologi menjadi 53%

Laba meningkat

Asep Permana menyemprotkan perangsang tumbuh sejak cincin baglog terbuka. Ia menyemprotkan larutan itu 3 hari sekali hingga baglog tidak dipakai lagi. Satu siklus budidaya selama 4 bulan. Satu bulan untuk masa inkubasi dan 3 bulan lagi masa produksi. Selama masa produksi itu ia 30 kali menyemprotkan hormon. Menurut peneliti jamur dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Iwan Saskiawan, nilai rasio biologi berpengaruh besar pada produksi jamur. “Semakin tinggi nilai BER semakin baik karena produktivitas per baglog semakin tinggi,” kata Iwan.

Asep menjual jamur tiram rata-rata Rp7.500 per kg. Dengan begitu ia memperoleh pendapatan tambahan Rp2.250 per baglog. Populasi kumbung Asep 10.000 baglog tersusun di 4 rak. Dengan 7.000 baglog produktif, ia mendapat tambahan penerimaan Rp15,7-juta. Setelah dikurangi biaya pembelian hormon Rp180.000, Asep pun memperoleh tambahan laba Rp15,5-juta. Penggunaan hormon perangsang jelas meningkatkan laba petani. Apalagi harga hormon relatif murah. Menurut Asep harga satu saset hormon 100 ml itu hanya Rp3.000. Untuk satu kumbung ia menghabiskan 200 ml hormon per sekali aplikasi.

Dengan hormon produksi tiram naik hingga 60%

Dengan hormon produksi tiram naik hingga 60%

Di Sumedang, Jawa Barat, Dudi juga menggunakan hormon untuk meningkatkan produksi jamur tiram. Menurut Dudi setelah menggunakan hormon itu pertumbuhan miselium lebih cepat. “Baglog akan putih menyeluruh sekitar 5—6 hari lebih cepat dibandingkan tanpa hormon,” kata Dudi. Pertumbuhan miselium yang cepat itu sejalan dengan produksi jamur. “Produksi jamur tiram saya bertambah 100 gram per baglog,” ujar ayah 2 anak itu. Dengan hormon Dudi memanen 400 gram per baglog, semula 300 gram per baglog berbobot 1,2 kg.

Kelebihan lain penggunaan hormon adalah biaya pembelian dedak berkurang. Sebelum memanfaatkan hormon, penggunaan dedak 20% dari media. Kini, ia cukup menggunakan dedak 10%. Itu sangat menguntungkan Dudi “Dedak sering sulit ditemui. Kalaupun ada harganya melambung,” kata petani yang membudidayakan 30.000 baglog jamur tiram itu. Harga dedak Rp2.000—Rp2.500 per kg.. Dudi menghemat biaya produksi Rp68,1 per baglog atau Rp2-juta per 30.000 baglog. Dedak berfungsi sebagai sumber karbon, vitamin B1, dan B2 yang berguna bagi pertumbuhan jamur.

Mikroorganisme dalam perangsang membantu memecah gula rantai panjang menjadi gula rantai pendek sehingga tiram lebih mnudah memanfaatkan

Mikroorganisme dalam perangsang membantu memecah gula rantai panjang menjadi gula rantai pendek sehingga tiram lebih mnudah memanfaatkan

Gula sederhana

Menurut peneliti jamur di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Ir Diny Djuariah, pemberian hormon perangsang memang meningkatkan produksi. Mikroorganisme dalam hormon membantu memecah atau memotong beberapa senyawa gula rantai panjang atau yang masih kompleks seperti hemiselulosa, selulosa, dan lignin menjadi senyawa gula yang lebih sederhana atau gula rantai pendek seperti glukosa dan xilosa. Setelah terurai atau terpecah jamur keluarga Tricholomatacea itu lebih mudah memanfaatkannya.

Baca juga:  Paket Hidroponik Lanjutan

Semakin tinggi gula reduksi tersedia di media semakin mudah dan cepat jamur menyerapnya. “Dengan begitu pertumbuhan tiram pun lebih cepat dan produksi yang dihasilkan lebih banyak,” kata Diny. Manfaat tersedianya gula rantai pendek terhadap produksi tiram memang logis. Riset ilmiah Susi Steviani dari Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, membuktikannya. Hasil penelitian menunjukkan penambahan molase dengan kandungan utama sukrosa (gula rantai pendek) dapat meningkatkan bobot segar jamur tiram. Penambahan 15 ml molase per baglog menghasilkan rata-rata 494 gram tiram. Bandingkan produksi baglog tanpa molase hanya 301 gram.

Menurut pakar jamur di Ciwidey, Kabupaten Bandung, NS Adiyuwono, beberapa petani jamur mengenal hormon pada 2000. “Namun, ketika itu petani masih belum menemukan ramuan dan aplikasi yang pas. Peningkatan jamur setelah penggunaan hormon pun tidak signifikan hanya 2—3%,” kata Adi Yuwono. Oleh karena itu petani pun berhenti menggunakan hormon. Ketika itu petani meramu hormon dari bahan baku seperti taoge, buah-buahan, dan air kelapa.

Pertumbuhan miselium lebih cepat dengan perangsang

Pertumbuhan miselium lebih cepat dengan perangsang

Sejak 3 tahun silam penggunaan hormon perangsang kembali marak. “Trennya baru sekitar 1—2 tahun ini,” kata Rian Hidayat, petani jamur di Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat yang juga pengguna hormon. Menurut Diny, semula hormon perangsang itu bertujuan untuk menghambat pertumbuhan jamur patogen seperti trichoderma. Namun, “Ternyata setelah diaplikasikan juga bermanfaat mempercepat pertumbuhan miselium dan meningkatkan produksi tiram,” ujar alumnus Jurusan Budidaya Tanaman Hortikultura Universitas Bandung Raya itu. Penggunaan hormon tumbuh menjadi salah satu cara untuk memenuhi permintaan jamur tiram yang tinggi.

Ayi Muhidin di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, misalnya, rutin memanen 200 kg tiram per hari dari 80.000 baglog. Volume itu tak sampai separuh permintaan sebesar 500 kg per hari. Nun di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Muhaimin juga kewalahan memenuhi permintaan. Petani tiram sejak 2012 itu memproduksi 500—100 kg per hari dari 10.000 baglog. Sementara permintaan yang datang mencapai 300 kg per hari. Wajar jika Muhaimin berencana menambah jumlah kumbung produksi. Muhaimin menjual tiram Rp24.000 per kg. Jika saja permintaan itu terpenuhi, omzetnya bertambah minimal Rp4,8-juta per hari.

Ir Diny Djuariah. Perangsang membuat tiram cepat tumbuh

Ir Diny Djuariah. Perangsang membuat tiram cepat tumbuh

Kendala

Sayang, untuk memenuhi permintaan tinggi itu bukan perkara mudah. Banyak aral menghadang. Contohnya Slamet Widodo di Sleman, Yogyakarta, yang berhenti memproduksi tiram segar sejak 2012. Musababnya, ia kekurangan tenaga kerja lantaran pemuda di sana lebih memilih bekerja di sektor lain seperti pariwisata. “Saya sudah cari pemuda sampai ke gunung tapi tetap tidak dapat,” katanya. Kini, ia hanya memproduksi bibit jamur dan menjualnya ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kendala lain adalah serangan jamur patogen alias cendawan yang membuat produksi gagal. Dudi di Sumedang pernah mengalami kerugian akibat serangan cendawan berwarna hijau yang membuat miselium tiram gagal berkembang. Modal pembuatan 10.000 baglog senilai Rp8-juta pun lenyap. “Itu baru biaya pembuatan baglog, belum kerugian waktu dan tenaga,” katanya.

Biaya produksi yang semakin tinggi juga menjadi hambatan petani membudidayakan jamur tiram. Ketua Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia (MAJI), Ir H M Kudrat Slamet, menuturkan tingginya biaya tenaga kerja, bahan bakar, dan media membuat petani tiram di Cisarua, Lembang, banyak gulung tikar. Bahkan, anggota MAJI yakni para pembudidaya tiram pun berkurang. “Dulu ada sekitar 300 petani, tapi kini tinggal 75 petani yang masih aktif memelihara,” katanya.

Asep Permana petik 800 gram tiram per baglog

Asep Permana petik 800 gram tiram per baglog

Sebelum 2009 biaya tenaga kerja di bawah Rp28.000 per orang per hari. Kini, minimal Rp35.000 per orang per hari. Padahal, budidaya tiram merupakan usaha padat karya. Selain itu program konversi bahan bakar dari minyak tanah ke gas elpiji pada 2007 juga menjadi kendala. Ketika itu mayoritas petani di Cisarua menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar selama proses sterilisasi baglog. Oleh karena itu petani jamur pun harus memodifikasi alat sterilisasi.

Baca juga:  Kompos Ampas Tebu

Sudah begitu biaya gas elpiji pun lebih besar daripada minyak tanah. Untuk sekali proses sterilisasi 750 baglog biasanya petani hanya menghabiskan 15 l minyak tanah atau Rp45.000. Sementara dengan bahan bakar gas menghabiskan 8 tabung gas elpiji 3 kg atau Rp128.000. Dengan demikian biaya produksi meningkat Rp110 per baglog. Padahal, harga jual tiram relatif stabil. (Lihat grafik)

Mengatasi tingginya biaya produksi di Cisarua, Lembang—yang pada 2000-an terkenal sebagai sentra tiram—petani di sana pun banyak membuka usaha tiram di daerah lain. Kudrat, misalnya, berencana membuka usaha tiram di Kota Banjar atau Ciamis, Jawa Barat. “Di sana banyak usaha kayu sehingga serbuk kayu mudah didapat,” katanya. Hal itu dilakukan untuk menekan biaya serbuk gergaji yang semakin sulit diperoleh dan harganya pun tinggi di Cisarua.

538_ 12

Rian Hidayat. Tren penggunaan hormon sejak 1—2 tahun silam

Rian Hidayat. Tren penggunaan hormon sejak 1—2 tahun silam

Pasar besar

Bila petani mampu melampaui aral itu, pasar jamur tiram terbuka lebar. Kudrat menuturkan permintaan pasar tiram di Jawa Barat pada 2013 sebesar 45 ton per hari, sedangkan produksi baru 30 ton per hari. Ia juga memprediksi pada 2015 kebutuhan tiram mencapai 17.500 ton per tahun. Dengan pasar membentang itu wajar jika petani tumbuh menjamur di berbagai daerah. Sekadar contoh di Cianjur, Jawa Barat, Yudi Permana dan Elan Jaelani akhirnya membudidayakan jamur tiram sejak 2012.

Triono Untung Priyadi yang menjalin kemitraan dengan para petani mengatakan jumlah plasmanya selalu bertambah. “Kini ada sekitar 50 petani yang menjadi plasma saya,” kata alumnus Universitas Gadjah Mada yang mengembangkan kemitraan sejak 2004 itu. Plasma tersebar di berbagai daerah seperti Cianjur (Jawa Barat), Palembang (Sumatera Selatan), dan Jambi. Total produksi Triono beserta plasma mencapai 6—8 ton per hari. Kapasitas itu baru memenuhi 30% dari total permintaan pasar.

Palembang, Palangkaraya, dan Jambi semula bukanlah daerah sentra jamur tiram. Ahli Agribisnis dari Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Dr Tomy Perdana SP, MM, menuturkan munculnya petani di berbagai daerah menunjukkan pasar jamur tiram memang berkembang. “Petani jamur tiram mulai berkembang di luar Jawa sejak 2010,” katanya. Pemerintah pun sangat mendukung budidaya jamur Pleurotus ostreatus itu. Buktinya pemerintah membentuk kelompok kerja nasional jamur Indonesia.

Industri olahan jamur turut menyebabkan permintaan tiram tinggi

Industri olahan jamur turut menyebabkan permintaan tiram tinggi

Muhammad Ikrom di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, pun menambah jumlah kumbung produksi untuk memenuhi permintaan yang tinggi. Saat ini ia baru memasok 30—40 kg jamur per hari dari 12.000 baglog, padahal kebutuhan mencapai 180 kg per hari. Ikrom menjual tiram Rp16.000—Rp18.000 per kg ke pengepul. Jika saja permintaan itu terpenuhi, maka omzetnya bertambah minimal Rp2,2-juta per hari.

Menurut Kudrat, skala ekonomis membudidayakan jamur tiram 40.000—50.000 baglog. Dengan jumlah itu petani bisa mempekerjakan tenaga kerja sehingga tugasnya hanya mengontrol. Omzet yang diperoleh pun lumayan. Dengan asumsi baglog produktif sebesar 80%, satu baglog menghasilkan minimal 400 gram dan harga jual Rp9.000 per kg, pendapatannya minimal Rp144-juta per siklus tanam. Setelah menyisihkan biaya produksi, laba bersih pekebun Rp36-juta per bulan. Jika petani memanfaatkan hormon, labanya pun kian besar (baca: “Fulus Pleurotus” halaman 16)

Tiram mengandung 9 macam asam amino, diantaranya lisin, metionin, triptofan, leusin, dan histidin

Tiram mengandung 9 macam asam amino, diantaranya lisin, metionin, triptofan, leusin, dan histidin

Tumbuhnya rumah makan, industri pengolahan jamur, serta kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat membuat cakupan pasar jamur tiram semakin luas. Ramadin Madani, pemilik Arsyad Mushroom di Tanahsereal, Kota Bogor, Jawa Barat, pernah mendapat permintaan jamur dari sebuah produsen makanan besar. “Mereka minta pasokan tiram rutin 7 ton per hari,” katanya. Ramadin menolak lantaran produksi belum mencukupi. Oleh produsen makanan itu tiram akan diolah menjadi camilan seperti keripik singkong dan tempe.

Rumah makan Jejamuran di Yogyakarta membutuhkan tiram segar 250 kg per hari. Itu untuk diolah menjadi beragam menu seperti rendang, tongseng, lumpia, sate, dan tiram asam manis. Dengan harga Rp8.000—Rp10.000 per porsi. “Untuk memenuhi itu saya bekerja sama dengan 7 petani plasma di Kaliurang,” kata Ratidjo Harjo Soewarno, pemilik. Itu indikasi pasar tiram terus tumbuh. Dengan permintaan pasar yang tinggi itu produksi tiram pun perlu ditingkatkan. Salah satunya dengan penggunaan hormon perangsang tumbuh. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Bondan Setyawan, Kartika Restu Susilo, Kiki Rizkika, Muhammad Awaluddin, Rizky Fadhilah, dan Syah Angkasa)

538_ 13-4

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments