Maitake lezat dan berkhasiat.

Maitake lezat dan berkhasiat.

Penemu jamur maitake akan menari kegirangan karena mendapatkan rezeki besar.

Hidup di negeri orang dan jauh dari keluarga menyebabkan Destika Cahyana, S.P., M.Sc., mengolah bahan makanan yang praktis. Itulah sebabnya Destika acap memasak jamur maitake selama menempuh pendidikan di Jepang. Dua kali sepekan ia berbelanja maitake di gerai pasar modern. Di Negara Matahari Terbit itu, ia biasa membeli dengan harga 250 Yen—setara Rp30.000—per pak berisi 100 g jamur segar. Ukuran satu pak pas untuk konsumsi 1 orang sekali makan.

Berbagai olahan maitake seperti nasi tim jamur dan sayuran, sup jamur dan telur.

Berbagai olahan maitake seperti nasi tim jamur dan sayuran, sup jamur dan telur.

Menurut Destika tekstur maitake lembut seperti daging sapi. Destika menggemari jamur itu karena lezat dan harganya relatif terjangkau untuk kantong mahasiswa. Pria 38 tahun itu mengolah maitake segar. Menurut Destika pengolahan sederhana pun menghasilkan kuliner bercita rasa restoran kelas atas. “Ditumis, dicampur mi instan, atau sekadar direbus dengan sedikit penyedap pun enak,” ujar Magister Sains Penginderaan Jauh alumnus Universitas Chiba, Jepang, itu.

Menari
Wajar Destika Cahyana menggemari maitake. Tidak hanya lezat, maitake juga kaya nutrisi. Setiap 100 gram jamur segar mengandung 51 mg kolin, 9,1 mg niasin, 204 mg potasium, 10 mg magnesium, dan 1 mg kalsium. Kandungan 31 kalori memberikan energi cukup bagi konsumen yang menjalani diet pembatasan asupan karbohidrat. Menurut ahli jamur dari Amerika Serikat, Paul Stamets, rasa maitake sangat lezat. Terutama bagian tubuh jamur yang belum membuka.

Tingginya kandungan potasium membuat jamur itu efektif mengendalikan tekanan darah tinggi. Maitake berasal dari bahasa Jepang yang artinya jamur tarian. Sebab masyarakat yang menemukan jamur maitake di alam akan menari kegirangan. Menurut manajer pemasaran produsen suplemen maitake di Jakarta Barat, Gunawan, mereka menari karena akan mendapat imbalan berlimpah.

Gunawan menyatakan bahwa dahulu istana kaisar membayar jamur maitake dengan perak seberat bobot jamur yang diserahkan masyarakat. Pada zaman itu maitake memang hanya untuk konsumsi kalangan istana kekaisaran Jepang. Kaisar Jepang dan keluarga mengonsumsi maitake untuk menjaga kebugaran, mempertahankan vitalitas, dan memperlambat penuaan. Di zaman modern sekarang, siapa pun bebas menikmati maitake Grifola frondosa.

Nama ilmiah itu merujuk pada griffin yang bersumber pada grifon. Dalam mitologi Yunani grifon berarti singa rajawali. Sosok grifon memang bertubuh singa tetapi bersayap dan berkepala rajawali. Singa merupakan raja rimba, adapun rajawali raja udara. Griffin sejatinya penggambaran makhluk yang paling berkuasa atas kedua hal itu, yakni di darat dan udara. Maitake sohor dengan julukan raja jamur.

Baca juga:  Bermula Impian, Kini Berkibar

Upaya budidaya
Untuk mengonsumsi maitake berkelanjutan perlu ketersediaan jamur. Namun, lantaran mengandalkan pasokan di alam, ketersediaan di pasar tidak bisa diandalkan. Sebelum dekade 1980, maitake langka di pasaran. Musababnya, orang yang menemukan maitake di alam biasanya langsung menjual kepada pembeli yang berani membayar dengan harga tertinggi. Sejatinya maitake tidak hanya dijumpai di Jepang.

Maitake mengandung betaglukan sehingga cocok untuk suplemen kesehatan.

Maitake mengandung betaglukan sehingga cocok untuk suplemen kesehatan.

Di beberapa negara lain juga terdapat maitake. Masyarakat Tiongkok menyebutnya hui shu hua, warga Italia menyebutnya signorina, sedangkan di Amerika Serikat dijuluki hen of the woods. Masyarakat negara-negara itu lazim mengolah maitake menjadi makanan. Namun, hanya di Jepang dan Tiongkoklah maitake menjadi makanan super. Itu menarik Yoshinobu Odaira, pengusaha jamur di Jepang, untuk mempelajari budidaya maitake.

Di alam, jamur itu kadang tumbuh sendiri di sisa tonggak pohon mati dekat sumber air. Ukurannya bisa sebesar bola basket dengan bobot mencapai 25 kg kalau lingkungan tumbuhnya cocok. Namun, maitake nyaris tidak pernah tumbuh di tempat yang sama. Kalau hari ini menemukannya di suatu titik, belum tentu tahun depan maitake bisa tumbuh kembali di titik yang sama.

Setelah menguasai cara perbanyakannya, pada Juli 1983 Yoshinobu membangun instalasi budidaya jamur di kawasan Minami-Uonuma, Prefektur Niigata, Jepang. Di sana ia membudidayakan jamur maitake, eringii, dan bunashimeji, yang saat itu langka dijumpai di pasaran. Yoshinobu memilih Niigata lantaran iklim di sana menyerupai habitat asli maitake. Pada musim dingin, salju menutupi seluruh wilayah itu.

Niigata juga menyediakan sumber air alami yang mengalirkan air bersih berkualitas tinggi—cocok untuk budidaya jamur yang rentan terhadap paparan polutan. Meskipun maitake jamur yang “rewel”, Yoshinobu berhasil membiakkannya dengan media tanam buatan. Ia mencampur serbuk kayu khusus dan kulit gandum dengan perbandingan tertentu sebagai media tumbuh. Bibit jamur ia perbanyak dalam larutan gula kentang (PDA).

Baca juga:  Cara Panen Air Langit

Lebih singkat
Sepintas cara-cara itu mirip budidaya jamur konsumsi lain, seperti jamur tiram, jamur kuping, atau inokitake. Bedanya, suhu, kelembapan, dan pencahayaan dalam kumbung dibuat menyerupai habitat asli maitake. Dengan cara itu, setiap baglog berisi 2 kg media tanam menghasilkan 800 g jamur dalam 3 bulan sejak inokulasi. Rumitnya cara budidaya itu membuat Yukiguni Maitake, perusahaan yang Yoshinobu dirikan sejak 1983, tidak menjalin kerja sama dengan petani mitra.

Destika Cahyana S.P., M.Sc., dan istri kerap mengonsumsi maitake semasa kuliah di Chiba, Jepang.

Destika Cahyana S.P., M.Sc., dan istri kerap mengonsumsi maitake semasa kuliah di Chiba, Jepang.

Mereka memproduksi sendiri jamur bongsor itu dalam 5 kumbung berukuran masing-masing 8 ha dengan produksi 16.000 ton setahun. Masa budidaya jamur yang hanya 3 bulan jauh dari periode tumbuh maitake di alam yang bisa bertahun-tahun sampai ukurannya meraksasa. Namun, dengan waktu singkat itu, ukuran jamur yang tumbuh pas untuk dipotong-potong menjadi berbobot sekitar 1 ons per kemasan, seperti yang kerap Destika beli di Chiba.

Jamur produksi mereka kemas menjadi 3 produk yaitu jamur segar, jamur kering, dan suplemen kesehatan. Kini banyak perusahaan di Jepang mengikuti langkah Yukiguni membudidayakan maitake. Pasar terbesar adalah jamur segar yang sebagian besar untuk ekspor, salah satunya ke Indonesia. Itu sebabnya maitake segar mudah dijumpai di gerai pasar modern tanah air.

Yoshinobu menerapkan standar tinggi dalam memproduksi jamur. Ia menggunakan 100% bahan alami tanpa menambahkan bahan kimia. Itu sebabnya maitake produksi Yukiguni cocok dikonsumsi sebagai suplemen kesehatan. Pasalnya, maitake terbukti tidak hanya lezat dikonsumsi saat makan. Prof Hiroaki Nanba, periset di Universitas Kesehatan Kobe, Jepang, mengisolasi zat aktif bernama betaglukan dalam maitake. Zat itu berkhasiat menjaga kesehatan dengan cara menetralkan radikal bebas.

Radikal atau oksigen bebas memicu kerusakan berbagai jaringan dalam tubuh. Kerusakan jaringan itu kerap membuat sel bermutasi menjadi sel ganas penyebab kanker. Berbagai studi dan pengujian sejak 1998 mengungkap keampuhan betaglukan dalam maitake melawan kanker. Suplemen kesehatan berbahan maitake juga efektif mencegah penurunan kesehatan atau gangguan metabolisme selama proses kemoterapi.

Lazimnya pasien yang menjalani kemoterapi kerap kehilangan nafsu makan, mual, berdarah ketika berkemih, atau kerontokan rambut. Dengan konsumsi maitake, gejala-gejala itu tidak muncul sehingga mempercepat kesembuhan pasien pascapengangkatan sel kanker. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d