Made Ayu Aryani mengajak semua orang bangga minum jamu.

Made Ayu Aryani mengajak semua orang bangga minum jamu.

Bisnis dan idealisme bersatu di usaha herbal Made Ayu Aryani. Ia menyasar anak muda sebagai konsumen herbal, hasilnya jutaan rupiah per bulan.

Menikmati jamu yang berkhasiat kini semudah memesan ayam goreng di restoran cepat saji. Made Ayu Aryani yang membuka Rumah Herbal Reina memang melayani pembelian lewat telepon atau media sosial. Konsumen tinggal memesan black tea ginger, kunyit asam sirih siap minum, atau wedang uwuh minuman kesukaan raja-raja Jawa melalui media sosial atau telepon. Ayu pun segera mengantarkannya.

“Konsep penjualan melalui daring sangat mempermudah dan menekan biaya produksi. Apalagi saat ini usaha dijalankan dari rumah,” ujar Ayu. Omzet penjualan minuman herbal itu pun melejit hingga Rp25 juta per bulan. Menurut Ayu penyumbang pendapatan terbesar jamu siap minum. Ia mampu menjual minimal 200 botol ukuran 250 ml setiap bulan. Harga per botol Rp15.000, sedangkan kemasan saset berbentuk bubuk Rp12.000.

Lewat daring
Ayu mengatakan, “Semua bahan semaksimal mungkin diusahakan organik. Komposisi bahan juga dibuat pas sesuai resep jamu yang turun-temurun.” Biasanya setelah konsumen mencecap rasa jamu Reina, berkomentar rasanya jauh berbeda daripada jamu yang selama ini mereka minum. Sudah begitu, mereka malah kembali membeli dan memesan ulang sebagai oleh-oleh. Ayu berprinsip untuk mempertahankan kualitas tinggi.

Jamu Reina terkenal sebagai ramuan herbal yang bermutu tinggi melalui dari proses pembuatan sampai pengemasan yang selalu terkontrol

Jamu Reina terkenal sebagai ramuan herbal yang bermutu tinggi melalui dari proses pembuatan sampai pengemasan yang selalu terkontrol

Kualitas tinggi dan layanan daring menjadi terobosan Ayu menciptakan produk jamu. Ayu menerapkan inovasi itu pada Januari 2017. Semula sejak April 2012 ia membuka kafe herbal di Kleco, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Ia mengawali dari sebuah kios kecil seluas 28 m2. Untuk meminimalkan penggunaan modal, Ayu membeli furnitur bekas dan memoles ulang. Konsumen harus datang jika hendak menikmati minuman herbal yang lezat lagi menyehatkan itu.

Baca juga:  Mangga Top Zaman Now!

Setelah konsumen makin banyak, setahun kemudian Ayu pindah ke pusat kota, di Jalan Ronggowarsito, Kota Surakarta. Namun, lantaran sewa tempat melonjak, pada 2015 Ayu memutuskan untuk menutup kafe itu. Saat itu omzet penjualannya mencapai Rp15-juta per bulan. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada itu kemudian membuka Rumah Herbal Reina dengan modal Rp10 juta.

“Reina itu singkatan dari Retno, nama ibu, Indra, nama adik, dan Ayu nama saya. Ibu sebagai penasihat produksi sedangkan adik yang mengurusi laman, promosi dan penjualan via daring,” ujarnya. Sejak membuka Rumah Herbal Reina Ayu bekerja sama dengan perusahaan kurir melayani permintaan konsumen di Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, hingga radius 25 km.

Di tangan Ayu jamu atau herbal tetap terasa lezat. Harap mafhum target konsumen Rumah Reina adalah anak-anak muda perkotaan. Itu upaya mewujudkan idealisme dan impian besarnya. Ayu ingin jamu tetap lestari dan caranya mendekatkan kepada generasi muda sebagai calon penerus warisan budaya itu. Perempuan kelahiran September 1984 itu memperoleh “ilmu” dari sang ibu meracik ramuan herbal agar herbal tersaji enak.

Kunyit salah satu bahan baku jamu yang terbukti berpotensi antikanker.

Kunyit salah satu bahan baku jamu yang terbukti berpotensi antikanker.

Bahan bermutu
Menurut Ayu tantangan lain berbisnis herbal adalah anggapan masyarakat bahwa mengonsumsi jamu itu hanya saat sakit. Ayu menuturkan, “Padahal jamu bisa berfungsi untuk menjaga kecantikan dan kesehatan kita.” Melalui anggapan orang lain yang menggoncangkan keteguhannya itulah yang semakin membuatnya gencar dalam meracik jamu menjadi minuman yang disukai masyarakat luas.

Penjualan herbal mayoritas melalui daring. Namun, Rumah Herbal Reina masih menerima pelanggan yang datang untuk menikmati jamu secara langsung.

Penjualan herbal mayoritas melalui daring. Namun, Rumah Herbal Reina masih menerima pelanggan yang datang untuk menikmati jamu secara langsung.

Ayu terus berinovasi dengan menciptakan beragam varian produk seperti ekstrak siap seduh dalam kemasan, minuman siap konsumsi, dan bahan rempah wedang uwuh kering sehingga awet. Ia memperoleh bahan baku herbal dari petani tanaman rempah di Kemuning, Kabupaten Karanganyar dan Ampel, Kabupaten Boyolali, keduanya di Provinsi Jawa Tengah. Ia mensyaratkan bahan baku harus segar, panen pada umur yang pas seperti kunyit berumur 12 bulan, bebas dari gerekan hama atau penyakit dan ukurannya sebesar jempol orang dewasa.

Bahan baku jamu pilihan menjamin produk berkualitas tinggi.

Bahan baku jamu pilihan menjamin produk berkualitas tinggi.

Pengolahan bahan baku dilakukan oleh orang-orang yang terseleksi untuk membantu penumbukan hingga mengekstrak bahan. Pengemasan dengan bahan alumunium foil berkualitas tinggi. Itulah sebabnya jamu bertahan lama meski tanpa bahan pengawet. Kini produk jamu Reina tersebar di toko penjual oleh-oleh. Bahkan, pasar swalayan elite di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, menyediakan jamu produksi Ayu. Sebab, banyak ekspatriat Jepang yang menyukai dan menjadi langganan pembeli harian.

Rumah Herbal Reina dengan produk jamu upaya untuk mengajak generasi muda melestarikan ramuan herbal asli tanah air.

Rumah Herbal Reina dengan produk jamu upaya untuk mengajak generasi muda melestarikan ramuan herbal asli tanah air.

Kiprah Ayu dalam menjaga warisan kebudayaan mendapat perhatian dari berbagai pihak. Ia mendapat penghargaan antara lain sebagai 4 besar tingkat nasional Creative Young Enterpreneur Award Indonesia 2012 dan Wirausaha Pemula Kementerian Koperasi 2015. Ayu juga meraih Young Enterpreneur SCCN Award 2015 dan 10 Outstanding Young Person dari Junior Chamber International.

Baca juga:  Langkah Juara Jacko

Semuanya mengganjar penghargaan Ayu berkat usahanya di Rumah Herbal Reina. Saat ini bukan hanya dikenal sebagai peracik jamu, Ayu juga sering diundang berbagai instansi pemerintahan maupun pendidikan untuk mengisi lokakarya atau pentas bincang membuat minuman dan makanan sehat. Ia juga sebagai salah satu pendiri di Natural Living Community (Nalico) dan semakin menggaungkan hidup sehat bersama komunitasnya. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d