Jambu Manis Asal Taiwan 1

Dua jambu air baru: manis dan besar tanpa seleksi buah.

Dompolan jambu air itu lebat terisi 5—6 buah. Hebatnya, buah yang bergerombol dalam dompolan itu seluruhnya berukuran besar dengan bobot 350 g per buah. Sudah begitu, “Manisnya melebihi jambu madu deli hijau dan renyah,” kata pekebun sekaligus penangkar tanaman buah-buahan di Indramayu, Jawa Barat, H Urip. Yang ia maksudkan adalah jambu air baru koleksinya yang berasal dari Thailand. Pertama kali mencecap buah dari pohon milik seorang rekan sesama kolektor tanaman buah di Jakarta, Oktober 2016 lalu, Urip langsung terpincut.

Buah lebat tetapi tetap besar adalah salah satu keunggulan yang membuat Urip kagum. “Biasanya untuk menghasilkan buah besar, pekebun menyeleksi buah sejak pentil dan hanya menyisakan 2—3 buah per dompol,” ujar ayah 2 anak itu. Bulan berikutnya, Urip memboyong 15 bibit khio jok—julukan jambu air itu—setinggi 50 cm asal cangkokan ke kebunnya di Indramayu. Ternyata reputasi jambu air istimewa itu telah dikenal banyak pehobi tanaman buah. Terbukti dalam waktu singkat cangkokan-cangkokan itu segera menemukan pemilik baru.

Cangkokan

Surya Waskita menanam white taiwan sejak setahun silam
Surya Waskita menanam white taiwan sejak setahun silam

Februari 2017 lalu, hanya 5 bibit khio jok tersisa di kebun Urip. Toh, pekebun jambu air sejak 2014 itu kalem saja lantaran perawatan jambu air itu tidak sulit. Urip menanam di kantung tanam berukuran 100 cm dalam media tanam berupa campuran kompos, sekam mentah, dan tanah dengan perbandingan 1:4:2. Dua pekan pascatanam, Urip memupuk dengan pupuk NPK plus pupuk organik cair ramuannya sendiri. “Dosis pupuk NPK sebanyak satu sendok makan sedangkan pupuk organik cair 700 ml per tanaman,” ujar Urip.

Urip memberikan campuran pupuk itu 3 minggu sekali. Kakek 1 cucu itu membuat pupuk organik cair dari fermentasi urine kambing plus tetes tebu. “Tetes tebu sebagai makanan bakteri fermentor,” ujar lelaki kelahiran 12 Agustus 1966 itu. Kini khio jok rimbun dan subur. Urip menunggu masa berbuahnya sekitar Agustus 2017.

Baca juga:  Panduan teknis budidaya pisang

Nun di Malang, Jawa Timur, Surya Waskita menanam jambu air baru asal Taiwan. Jambu itu bernama white taiwan lantaran warna buahnya hijau pucat cenderung putih dan berasal dari negeri Formosa. Waskita mendapatkan jambu air itu dari penangkar buah di Wagir, Kota Malang, Jawa Timur pada pertengahan 2016. Ia mendatangkan bibit itu dalam bentuk bibit sambung setinggi 40 cm. Saat membeli, kedua bibit itu belum berbuah.

H Urip terkesan dengan rasa jambu air khio jok yang manis
H Urip terkesan dengan rasa jambu air khio jok yang manis

Dua pohon itu lantas ia tempatkan terpisah. Satu di Tumpang, Kabupaten Malang, lainnya di Dieng, Kotamadya Malang. Begitu berbuah 3 bulan kemudian, rasa dan kelebatan buah kedua tanaman itu berbeda. Waskita menduga perbedaan agroklimat di kedua tempat itu yang menyebabkan perbedaan karakter. Untuk merawat sekaligus membuahkan white taiwan, kolektor tanaman batu Encephalartos itu menggunakan media tanam campuran 40% sekam, 10% cocopeat atau serbuk sabut kelapa, 10% sekam bakar, 30% tanah gembur, dan 10% kotoran sapi matang.

Semua bahan itu ia campur dengan rata dan ia fermentasi sebulan penuh dalam kondisi tertutup. Setelah sebulan, media tanam itu ia buka penutupnya dan dibiarkan selama 3 hari sambil sesekali diaduk agar kematangannya merata. Alumnus Jurusan Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Malang itu memberikan pupuk yang mengandung zat perangsang tumbuh plus multivitamin khusus yang ia datangkan dari Amerika Serikat.

Jambu Manis Asal Taiwan 2
Jambu air white taiwan cocok untuk tabulampot

Pupuk cair yang mengandung 0,09% vitamin B1, 0,048% 1-naftil asam asetat, dan 50 bahan rahasia lain itu ia encerkan dengan konsentrasi 3 ml per 10 liter air. Di dalam larutan itu, ia juga menambahkan satu sendok makan pupuk NPK berimbang. Semua pupuk itu ia berikan sepekan sekali pada pagi hari sekitar pukul 6. “Dosis per tanaman untuk pot ukuran 80 cm sebanyak 7,5 liter, sedangkan pot ukuran 100 cm sebanyak 10 liter,” ujar Waskita.

Baca juga:  Macam-Macam Jenis Tanah untuk Menanam Kelapa Sawit

Intensif
Untuk meningkatkan kesuburan tanah, Waskita menambahkan pupuk sesuai dosis di kemasan. Pupuk yang ia larutkan dalam air dengan konsentrasi 1—2 gram per liter itu ia semprotkan di atas media tanam. “Semua pupuk itu saya berikan hingga pekan ke-5,” ujarnya. Pada pekan ke-6, Waskita mengubah komposisi pupuk. Ia tak lagi memberikan pupuk yang mengandung zat perangsang tumbuh plus multivitamin itu, ia hanya menggunakan pupuk NPK dan pupuk daun yang mengandung unsur P dan K lebih tinggi dibanding unsur N. Dosis pemberian sama.

Ukuran jambu khio jok tetap besar meski banyak buah dalam satu dompolan.
Ukuran jambu khio jok tetap besar meski banyak buah dalam satu dompolan.

Selang 5 pekan lagi, Waskita mengganti pupuk itu dengan pupuk mono potassium phosphate (MKP). “Pupuk MKP berguna untuk mencegah kerontokan bunga,” ujarnya. Perawatan intensif itu tak sia-sia. Sebulan setelah didatangkan, tanaman itu langsung berbunga. “Selang sebulan berbunga lagi, karena saat datang sejatinya dalam kondisi berbunga tetapi rontok saat di perjalanan,” ujarnya. Jambu air manis itu mulai berbuah sekitar 3 bulan setelah ia tanam.

Saat panen pertama, Waskita mendapat sekitar 10—12 dompol dan tiap dompol dihuni sebanyak 7—8 buah. Rasa white taiwan, menurut, Waskita manis dan renyah. “Dari segi rasa, white taiwan yang di Dieng lebih manis dibanding taiwan super green,” ujarnya. Dua tanaman itu menghasilkan karakter yang berbeda. “White taiwan di Tumpang lebih lebat tetapi kalah manis dengan yang di Dieng, karena yang di Tumpang lebih banyak terkena hujan,” ujarnya. Dua jambu air asal Thailand dan Taiwan itu unggul dari segi rasa dan produktivitas, sehingga cocok mengisi kebun-kebun para pekebun jambu air di tanah air.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *