Biaya pakan ikan hias terus meningkat. Cacing sutra, misalnya, harganya kini mencapai Rp15.000 per liter

Biaya pakan ikan hias terus meningkat. Cacing sutra, misalnya, harganya kini mencapai Rp15.000 per liter

Aral melintang dari hulu ke hilir bisnis ikan hias air tawar membuat ekspor ikan hias air tawar Indonesia melemah.

Puluhan akuarium berukuran 120 cm x 50 cm x 50 cm di Taufan Fish Farm kosong. Tak ada ikan berenang ke sana ke mari. Puluhan akuarium kosong lainnya berdebu dan menumpuk di sudut ruangan. Pemandangan itu tentu sangat berlawanan ketika Trubus berkunjung 5 tahun lalu. Seluruh akuarium berisi berbagai jenis ikan hias air tawar. Bahkan, sebuah catatan panjang berisi pesanan puluhan ribu ekor ikan hias air tawar dari beberapa eksportir pun tersusun rapi di meja kerja Euis S Djohan, pemilik Taufan Fish Farm di Bogor, Jawa Barat, itu.

“Pesanan ikan yang datang saat ini menurun hingga 95%. Paling banter eksportir hanya meminta 100 ekor per bulan. Itu pun untuk jenis-jenis tertentu,” ujar Euis. Merosotnya jumlah permintaan yang datang itu berimbas pada keterbatasan Euis untuk menampung ikan dari para peternak binaannya. Peternakan berumur 20 tahun itu pun terpaksa menekan biaya produksi dengan menyeleksi jenis ikan yang diternakkan.

Jenis tetra terutama neontetra menempati peringkat teratas ekspor ikan hias Indonesia

Jenis tetra terutama neontetra menempati peringkat teratas ekspor ikan hias Indonesia

Efek domino
Euis tetap mempertahankan ikan-ikan yang permintaannya relatif stabil seperti neon tetra Paracheirodon innesi dan karasin. “Jika tidak ada perubahan, 2 bulan lagi saya terpaksa gulung tikar,” ujarnya. Selain menurunnya jumlah pesanan, Euis pun mengeluhkan harga jual yang cenderung statis. Padahal, biaya produksi semakin besar. Sebagai gambaran harga pakan ikan berupa artemia saat ini mencapai Rp650.000 per liter dan cacing sutera Rp15.000 per liter.

Harga itu meningkat 400% dari 10 tahun lalu. “Sementara harga ikan tidak pernah naik lebih dari 100%. Bahkan saat ini cenderung turun,” kata Euis. Kenaikan biaya produksi itu juga dirasakan peternak binaan Taufan Fish Farm, Arifin Wangsadireja di Ciluar, Kotamadya Bogor, Jawa Barat. Arifin kini memasarkan beragam ikan seperti black ghost Afteronotus albifrons dan kissing gourami Helostoma temminckii di pasar lokal.

Baca juga:  Menjual Keindahan di Balik Kaca

Di pasar ikan hias domestik Arifin mengeluhkan persaingan harga yang sangat ketat antarpeternak sehingga harga jual sangat berfluktuasi. “Sebaiknya ada pihak yang khusus mengatur harga jual ikan hias air tawar,” katanya. Euis dan Arifin hanya sebagian kecil dari pelaku bisnis ikan hias yang berada di ujung tanduk. Bahkan pemasok dan pengepul besar seperti Yohannes Fish Farm yang luas peternakannya mencapai 3,5 ha pun sudah lebih dahulu menutup peternakannya di Ciseeng, Kabupaten Bogor, sejak 3 tahun lalu.

Permintaan ikan kissing gourami Helostoma temminckii di pasar lokal mengalami peningkatan

Permintaan ikan kissing gourami Helostoma temminckii di pasar lokal mengalami peningkatan

Menurut Bima Saksono dari Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI), hal itu merupakan efek domino dari rendahnya daya beli eksportir ikan hias air tawar. Harwin S, eksportir ikan hias di Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengatakan daya belinya terhadap peternak memang terus menurun sejak 2 tahun lalu. “Harga beli ke peternak memang semakin kecil. Hal itu karena mahalnya ongkos transportasi dan perizinan yang kami keluarkan sehingga berimbas pada harga beli ke peternak,” ujar pria yang akrab dipanggil Kikim itu.

Dari kiri: Bima Saksono (Bendahara Umum PIHI), Harwin S (eksportir ikan hias), dan Ir Maxdeyul Sola MBA MM (ketua PIHI)

Dari kiri: Bima Saksono (Bendahara Umum PIHI), Harwin S (eksportir ikan hias), dan Ir Maxdeyul Sola MBA MM (ketua PIHI)

Pasar ekspor
Menurut Harwin harga ikan hias air tawar di pasar internasional sebetulnya terus meningkat. Namun, panjangnya rantai birokrasi di Indonesia menyebabkan harga jual yang tinggi itu terpotong hampir 70% nya untuk perizinan dan ongkos transportasi. “Seharusnya pemerintah meniru cara Singapura yang memberikan dukungan dan kemudahan kepada para eksportir,” ujar Bima Saksono.

Singapura memang sohor memiliki manajemen ekspor yang terorganisasi secara baik. Melalui Agri-ood & Veterinary Authority (AVA), pemerintah Singapura mempermudah perizinan, karantina, bahkan mereduksi biaya transportasi dengan menyediakan pesawat khusus untuk ekspor ikan hias. Sementara para eksportir di Indonesia justru merasa dipersulit dengan panjangnya rantai perizinan. “Setidaknya kami harus melewati 27 tahap perizinan untuk bisa ekspor. Sementara Singapura hanya 2 tahap,” ujar Harwin.

Baca juga:  Hari Pangan Sedunia ke-36: Ajang Pameran Produk Unggul

Menurut Bima menurunnya volume ekspor ikan hias ini juga karena banyaknya perusahaan asing yang masuk dengan menggunakan bendera Indonesia. “Mereka membeli ikan langsung dari peternak lalu menjual ke negara tujuan sehingga harga yang ditawarkan lebih rendah daripada eksportir Indonesia,” ujar Bima. Harap mafhum selama ini Indonesia memang masih sangat bergantung pada Singapura dalam hal penjualan ikan hias untuk pasar internasional. Rantai penjualan lebih panjang dan harga yang ditawarkan menjadi tinggi.

Ikan hias air tawar yang sudah dikemas dan diberi oksigen akan dimasukkan ke dalam kotak stirofoam untuk dikirim ke luar negeri

Ikan hias air tawar yang sudah dikemas dan diberi oksigen akan dimasukkan ke dalam kotak stirofoam untuk dikirim ke luar negeri

Iming-iming pembayaran secara tunai membuat para peternak terpaksa menjual ikannya kepada perusahaan asing tersebut meski dengan harga rendah. Lesunya pasar ikan hias air tawar terutama untuk ekspor mendorong Ir Maxdeyul Sola MBA MM, ketua PIHI, untuk memperbaiki rantai industri ikan hias air tawar di Indonesia. “PIHI akan menjembatani kepentingan seluruh pelaku bisnis ikan hias mulai dari peternak hingga eksportir,” ujar Sola.

Sola merencanakan beberapa program kerja seperti memaksimalkan pemanfaatan Pusat Ikan Hias Raiser di Cibinong, Kabupaten Bogor, membuat situs resmi penjualan ikan hias air tawar Indonesia melalui daring (online), dan memetakan wilayah budidaya sesuai komoditas. Program kerja lain adalah memberikan informasi kejelasan pasar kepada peternak agar tidak terjadi banjir ikan pada waktu-waktu tertentu. Artinya peternak akan mengetahui berapa volume yang dibutuhkan pasar di setiap bulannya. PIHI yang akan berperan mengatur pembagiannya kepada masing-masing peternak. (Rizky Fadhilah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d