Upaya bersama meningkatkan produksi jagung dan memasok industri peternakan.

Jagung merupakan komoditas pangan yang penting baik untuk pangan dan pakan.

Jagung merupakan komoditas pangan yang penting baik untuk pangan dan pakan.

Menurut Ketua Pusat Kajian Pangan Strategis (PKPS), Siswono Yudo Husodo, permasalahan jagung dalam negeri meliputi produksi belum memenuhi kebutuhan konsumen, kualitas rendah, dan harga tidak rasional. Sebenarnya produksi jagung nasional meningkat, tetapi permintaan juga bertambah tinggi melebihi produksi jagung. Akibatnya memicu impor untuk memenuhi kekuranganya.

Pemerintah pun membuat kebijakan untuk membatasi impor jagung sekaligus menggalakkan program perluasan tanam. Namun, hal itu tidak spontan memenuhi kebutuhan, tetapi melalui strategi membangun masa depan komoditas jagung. “Indonesia dapat membangun kemandirian pangan dengan memenuhi kebutuhan untuk jenis-jenis yang bisa diproduksi di tanah air,” kata Siswono.

Komitmen pemerintah

Bupati Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H. Bambang M. Yasin (kanan).

Bupati Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H. Bambang M. Yasin (kanan).

Untuk mencapai swasembada jagung perlu komitmen bersama. “Pelaksanaan kebijakan komprehensif dan sinergis dengan melibatkan pihak terkait yaitu legislator, pemerintah, penegak hukum, akademisi, dan masyarakat,” kata anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dr. Ir. E. Herman Khaeron, M.Sc. Herman meminta pemerintah berkomitmen memberikan dukungan fasilitas dan akselerasi pelaksanaan teknologi maju.

Lahan petani lebih produktif, berdaya saing tinggi, serta meningkatkan kesejahteraan petani sehingga masyarakat mau mendukung kemandirian pangan dan kedaulatan pangan. Luas panen jagung di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 2010 mencapai 6.412 hektare dengan total produksi 30.912 ton. Harga jagung saat itu masih rendah, Rp700 per kilogram dan memberikan pemasukan sebesar Rp21,63 miliar.

Namun, berkat program “Menanam Jagung” dari pemerintah, maka Kabupaten Dompu melesat meninggalkan kabupaten-kabupaten lain di NTB. Kini, pendapatan per kapita paling tinggi dan daya beli masyarakat paling tinggi kedua setelah Kota Bima. Menurut Bupati Kabupaten Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin, pada Agustus 2017 luas panen di Dompu meningkat menjadi 81.169 hektare dengan target produksi 604.706 ton.

Dr. Ir. E. Herman Khaeron, M.Sc., anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat.

Dr. Ir. E. Herman Khaeron, M.Sc., anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat.

Harga jagung pun meningkat menjadi Rp3.500 per kilogram sehingga pendapatan meningkat menjadi Rp2,11 triliun. “Pemerintah perlu mengupayakan peningkatan produksi benih jagung dan percepatan perbanyakan benih jagung berkualitas untuk peningkatan produksi. Misalnya melalui penggunaan teknologi dan inovasi pendukung serta penguatan sistem perbenihan yang dapat mendukung kemandirian benih,” ujar Bambang.

Baca juga:  Ikan Nila: Muda Hiasan, Tua Konsumsi

Perkembangan itu diikuti dengan perkembangan teknologi. “Masyarakat Dompu berhasil membuat mesin pemipil. Namun, masih terdapat permasalahan dalam pengembangan jagung di Dompu,” ujar Bambang. Kendala itu pada pengadaan benih dan pupuk. Bambang mengatakan, benih sering kali tak sesuai dengan kondisi lahan serta distribusi pupuk tidak merata.

Turunkan kemiskinan
Jagung berpotensi menurunkan angka kemiskinan. Semua lini harus berdasarkan pada kebijakan yang fokus, berkesinambungan, serta memiliki komitmen kuat dengan dukungan kerja yang berkualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

Peternak ayam di tanah air sangat bergantung pada persediaan jagung untuk pakan.

Peternak ayam di tanah air sangat bergantung pada persediaan jagung untuk pakan.

Indonesia lumbung jagung dunia, yakni peringkat ke-8 dengan kontribusi 2,06%. Sentra produksi jagung nasional tersebar di 45 kabupaten di 12 provinsi. Namun, tata niaga jagung belum efisien karena rantai pasok terlalu panjang. “Oleh karena itu, perlu intervensi pemerintah menangani tata niaga jagung,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), Desianto B. Utomo.

Menurut Utomo pemerintah mengambil kebijakan untuk membangun pola kemitraan permanen antara petani dengan industri pakan ternak. Pola kemitraan antara industri pakan ternak dengan petani jagung diwujudkan pada tahap pertama dengan mengembangkan lahan jagung seluas 724.000 hektare, tersebar di 29 provinsi. Dengan tambahan anggaran Rp1,3 triliun dengan target produksi 3,5 juta ton jagung kering pipil.

“Produksi ini akan diserap oleh GMPT dan pada 2017 tidak diperlukan impor jagung,” ujar Desianto. Menurut Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Dr. Ir. Gatot Irianto, M.S., luas lahan pertanian di Indonesia saat ini hanya 7,78 juta hektare. Bila dihitung lahan per kapita, luas lahan di Indonesia hanya sebesar 358,5 m² per kapita,” ujar. Akibat sempitnya lahan, pertanian di Indonesia tidak bisa berkembang.

Baca juga:  Di antara Dua Dunia Pengobatan

Bila ada peningkatan produksi jagung, maka akan ada penurunan produksi beras. Petani Indonesia pun dinilai masih banyak yang mengelola lahan kecil. “Terdapat beberapa petani yang tidak memiliki lahan. Rata-rata kepemilikan lahan petani Indonesia sebesar 360 m²,” ujar Gatot.

Suasana seminar rembuk jagung nasional 2017.

Suasana seminar rembuk jagung nasional 2017.

Komitmen untuk memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesejahteraan petani dan memperbaiki semua hambatan yang ada serta mencari keseimbangan yang saling menunjang menuju swasembada pangan nasional.  “Petani harus terkumpul di satu titik agar memenuhi volume atau skala ekonomis transportasi dengan membangun pascapanen dan infrastruktur transportasi,” tutur Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI), Sollahudin.

Menurut Sollahudin biaya produksi jagung tinggi karena produktivitas rendah, rata-rata hanya 5,1 ton pipil kering per ha. Produktivitas yang rendah juga disebabkan pengolahan tanah dan penggunaan pupuk organik yang minim. Upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi jagung nasional yaitu mencetak lahan baru agar luas tanah garapan menjadi 5 hektare per petani, sekaligus tidak mengganggu produksi komoditas lain.

Selain itu, perlu mendorong mekanisasi untuk menjawab keterbatasan sumber daya manusia yang berkutat di sektor pertanian. Menurut Sollahudin perlu evaluasi tentang akurasi data produksi jagung nasional. Penghentian impor jagung diduga menyebabkan jagung langka dan harganya meningkat drastis hingga Rp5.000 per kg. Akibatnya produsen pakan mengimpor gandum pakan untuk mengkompensasi kekurangan jagung.

Pasokan jagung yang sulit dan harga jagung yang tinggi, berpotensi memaksa produsen impor pakan ternak. Oleh karena itu, Sollahudin memerlukan pembangunan antarmitra antara petani jagung dengan pabrik pakan. Sinergi yang apik antara berbagai pelaku bisnis jagung serta pemerintah solusi untuk mengatasi persoalan jagung nasional. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d