JALAN KELUAR KEDELAI

Tempe makanan khas Indonesia yang kini mendunia. Bahan baku tempe masih impor.

Tempe makanan khas Indonesia yang kini mendunia. Bahan baku tempe masih impor.

 

”Kita bukan bangsa tempe,” kata Presiden Soekarno. Sebutan bangsa tempe saat itu bermakna peyoratif, bahkan buruk. Tempe, makanan produk lokal itu dianggap bermutu rendah dan murahan. Ini juga tercermin dari ungkapan mental tempe, mental lemah. Tidak jelas apa pokok masalahnya. Barangkali ini tak lepas dari produksi tempe, yang dihasilkan melalui proses peragian dengan fermentasi memakai kapang.

Menurut almarhum Ong Hok Ham, tempe antara lain menjaga kesehatan atau menyelamatkan puluhan juta orang Jawa miskin pada masa kolonialisme Jepang. Riset-riset mutahir menunjukkan betapa tempe termasuk “makanan super”. Kandungan gizi dan vitaminnya amat tinggi. Ia bisa menjadi makanan diet. Profesor Hembing Wijayakusuma menjuluki tempe makanan super –karena tak tertandingi makanan sejenis.

Berkembang pesat

Dari sisi harga, protein dari tempe jauh lebih murah ketimbang telur dan daging. Oleh karena itu, tempe sebenarnya bisa menjadi solusi atas masalah kekurangan energi protein pada warga miskin. Tempe mengandung delapan asam amino esensial–di antaranya thianisin (vitamin B1), riboflavin (B2), asam pantotenat, asam nikotinat, pirodiksin (B6), dan vitamin B12—serta antioksidan isoflavon, vitamin D, E, dan sterol.

Tempe bisa diracik sebagai makanan diet, makanan antidegeneratif, antikanker dan antitumor. Oleh karena itulah, sejumlah negara tergiur mengembangkan makanan lokal hasil kreasi bernas nenek moyang itu. Penelitian ilmiah tentang tempe dirintis ilmuwan Belanda Prinsen Geeling. Pada 1946 tempe ditulis dalam jurnal Amerika yang amat berwibawa, The Clinical Nutrition.

Hingga kini tak kurang 2.500 buku ditulis secara internasional tentang produk kultural orisinal Indonesia itu (Panca Dahana, 2012). Dari posisi minor, bahkan hina, tempe kini merambah ke berbagai dunia, mulai Eropa, Asia, Afrika, Australia, hingga Amerika Serikat. Belanda, AS, Malaysia, Jepang dan Singapura mengembangkan tempe sejak 1980-an. Pada 1984, misalnya, ada 18 pabrik tempe di Eropa, 8 di Jepang, dan 53 di AS.

Jejak-jejak tempe di negeri ini merentang usia ribuan tahun. Dalam Encyclopedia van Nederlandsch Indie (1922) disebutkan, tempe ditemukan di Jawa. Bukan hanya Serat Centhini (awal abad ke-19) yang mencatat sayur santan tempe sebagai sajian Amongraga dalam kelananya, dalam Serat Sri Tanjung (abad ke-12) pun kedelai dan peragian telah disebutkan.

Dr. Sastroamijoyo dalam bukunya, The History of Tempeh, bahkan mencatat usia kultur tempe sudah 2.000 tahun (Panca Dahana, 2012). Angka-angka itu amat sahih menandai betapa budaya kuliner kita, kuliner berbasis kedelai, bukan adab kemarin sore. Sayangnya, peradaban orisinal nenek moyang itu terabaikan, bahkan sepertinya kita lupakan.

Mengabaikan tempe

Ketika negara-negara lain kepincut dan membangun riset serius, kita abai dengan tempe. Pengabaian itu, setidaknya bisa dilihat dari sedikitnya paten tempe yang dikantongi negeri ini. Sampai 2008, hanya ada tiga paten tempe yang terdaftar atas nama periset Indonesia. Sementara itu paten tempe yang dikantongi Jepang, Amerika Serikat, dan Jerman 15 buah paten.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x