Jahe: Panen Belipat Dua 1
Rimpang bongsor hasil panen umur 2 tahun pascatanam

Rimpang bongsor hasil panen umur 2 tahun
pascatanam

Volume panen jahe meningkat lebih dari dua kali lipat.

Tak tanggung-tanggung Budi Pangestu memanen 500 ton jahe dari lahan 2 ha. Pekebun di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu memperoleh 250 ton rimpang Zingiber officinale per ha. Jumlah itu jauh melebihi angka produktivitas rata-rata nasional, yang paling banter hanya 40 ton per ha.

Senyum Budi semakin lebar lantaran sebanyak 410 ton alias 82% jahe gajah berumur 2 tahun itu berukuran jumbo berbobot mencapai 2 kg per rumpun. “Jahe berbobot super mempunyai 2 lapis rimpang,” kata pria kelahiran Yogyakarta itu. Keruan saja rimpang super itu menjadi rebutan produsen jamu dan industri olahan. Mereka bersedia membayar Rp16.000 per kg untuk rimpang utuh tak terpotong berbobot 1—2 kg.

Sementara, 25 ton jahe berupa rimpang utuh berbobot 0,5—1 kg laku dijual ke pedagang herbal di pasar-pasar induk di Surabaya, Surakarta, dan Semarang dengan harga Rp5.000—Rp6.000 per kg. Sisanya, sebanyak 65 ton, berupa rimpang-rimpang kecil berbobot kurang dari 0,5 kg itu menjadi konsumsi penduduk Malang dan sekitarnya dengan harga Rp3.000—Rp4.000 per kg. Dari panen jahe gajah di lahan 2 ha pada Juli 2013 omzet Budi Rp6,97-miliar. Setelah dikurangi biaya bibit, pupuk, dan tenaga kerja, ia masih mengantongi Rp6,93-miliar.

Tumpangsari

Budi tergiur menanam lantaran lahan berketinggian 800 m di atas permukaan laut (dpl) itu cocok untuk pertumbuhan jahe. Menurut Ir Agus Ruhnayat, periset di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, jahe menyukai ketinggian 600—1.000 m dpl. “Suhu rendah dan sinar matahari kuat memacu pertumbuhan daun dan pengisian rimpang,” kata Agus. Pada Agustus 2010, Budi menanam jahe di lahan 0,5 ha. Ia panen 60 ton dalam 12 bulan. Itu membuat niatnya kian bulat untuk memperluas penanaman. Selang 12 bulan ia lantas menanam di lahan 2 ha.

Apa rahasia Budi panen melimpah itu? Ia memanen tanaman asli Nusantara itu pada umur 2 tahun pascatanam. Sejatinya ia bukan sengaja membiarkan rimpang-rimpang itu mengendap dalam tanah selama itu. “Saat akan panen di umur setahun, harga pasaran sangat rendah, rata-rata hanya Rp3.000 per kg,” tutur pria berusia 47 tahun itu. Padahal, ketika menanam pada Agustus 2011, ia berharap memperoleh harga setidaknya Rp5.000 per kg. Setelah berkonsultasi dengan Musikan Karyo Pranoto, kepala kebun, ia memutuskan menunda panen sampai harga membaik.

Baca juga:  Seri Walet (205): Amboi, Rumah Walet Menjamur

Menurut Dr Ir Sandra Arifin Aziz MS, dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, cara terbaik menyimpan jahe dengan membiarkan rimpang terpendam dalam tanah. “Jika dipanen lalu disimpan, jahe rentan serangan hama gudang,” kata Suseno Arianto ST, manajer produksi Javaplant, perusahaan pengolah herbal di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Serangga kecil itu menggerogoti cadangan karbohidrat dalam rimpang sehingga bobot susut. Dengan bobot rendah, otomatis pekebun merugi.

Seraya menanti harga membaik, Musikan dan petani plasma menanam cabai, kacang tanah, kubis, bawang daun, dan buncis sebagai tanaman tumpangsari. Tanaman sayuran itu yang menutup biaya operasional kebun sebelum jahe panen. “Jahe tetap terawat lantaran memperoleh pupuk dari tanaman tumpangsari,” kata Budi. Ia menanam jahe di bedengan setinggi 40 cm dan jarak antarbedengan 40 cm. Panjang bedengan bervariasi menyesuaikan permukaan lahan yang bergelombang.

Di bedengan selebar 80 cm itu, ia menanam 4 jahe berjarak 20 cm x 20 cm. Satu bedeng terdiri atas 4 lajur penanaman. Selanjutnya ia membenamkan 1 kg pupuk kandang per lubang tanam. Untuk lahan seluas 2 ha dengan populasi 32.000 tanaman, ia membenamkan 32 ton pupuk kandang kotoran sapi. Menurut Ir Agus Ruhnayat, jahe memerlukan bahan organik 0,5—1 kg per tanaman untuk pertumbuhan. “Bahan organik berperan untuk menggemburkan dan menyuburkan tanah,” kata Agus. Tanpa itu, nutrisi yang diserap rimpang cuma sedikit.

Penyiangan

Selang 10 hari pascapemupukan dasar, ia memasukkan bibit jahe berukuran rata-rata 5 cm, berbobot 300 g, berumur 1—2 tahun, dan mulai bertunas. Untuk bibit di lahan 2 ha, Budi memerlukan 6 ton rimpang. Ia menanam pada akhir kemarau sehingga tidak repot menyiram. Pada bulan ketiga pascatanam, para pekerja menyemprotkan 1,5 ton pupuk campuran per ha lahan. Mereka melarutkan 1 kg pupuk yang terdiri dari 5 bagian ZA dan 1 bagian TSP itu dalam 5 liter air lalu menyemprotkan di sela tanaman pada sore hari. Menurut Ir Yos Sutiyoso, ahli Fisiologi Tanaman di Tebet, Jakarta Selatan, pupuk ZA mengandung nitrogen yang memperbesar sel, sementara TSP mengandung fosfor yang membantu pertumbuhan akar.

Baca juga:  Rival Kanker Ovarium

Selanjutnya mereka berhenti memupuk sampai panen. Perawatan hanya berupa penyiangan gulma sebulan sekali tanpa penyemprotan apa pun. Menurut Agus Ruhnayat, tanaman jahe relatif bebas serangan hama dan penyakit. “Namun, kalau menanam di lahan bekas sawah, jahe kadang terserang layu bakteri akibat serangan bakteri Ralstonia solanacearum,” kata Agus.

Selama 23 bulan, Musikan menanam tanaman tumpang berupa kacang tanah sebanyak 1 kali di dalam bedengan; buncis (1 kali); dan jagung (2 kali) di sela bedengan jahe. Pada Juli 2013 ia memanen 500 ton jahe dari    2 ha lahan, setara 250 ton per ha. Pada penanaman sebelumnya pada 2010 panennya hanya 120 ton per ha. Artinya, hasil panen Budi meningkat lebih dari 2 kali lipat.

“Kalau dihitung-hitung panen 2 tahun lebih untung ketimbang  panen setahun sekali,” kata Budi. Pasalnya, ia hanya sekali mengeluarkan biaya olah tanah, bibit, dan panen dalam 2 tahun. Menurut Dr Ir Sandra Arifin Aziz MS, jahe lazimnya dipanen di umur 9—12 bulan dengan produktivitas 30—40 ton per ha. Ia menduga produksi berlipat ganda seperti di lahan Budi Pangestu karena pemupukan dan pemeliharaan yang tepat.

“Penundaan masa panen setahun lebih lama juga bisa meningkatkan bobot panen, asal dibarengi ketersediaan air dan pemupukan yang tepat,” kata Sandra. Artinya, kalau petani lain bisa mengikuti jejak Budi. Niscaya panen jahe berlipat ganda dengan kualitas prima. (Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

Jahe Tumpangsari

Jahe Tumpangsari

  1. Buat bedengan setinggi 40 cm selebar 80 cm dengan jarak antarbedengan 40 cm.
  2. Benamkan 16 ton pupuk kandang per ha sebagai pupuk dasar.
  3. Tanam bibit jahe 10 hari berselang.
  4. Semprotkan campuran pupuk ZA dan TSP 3 bulan pascatanam.
  5. Tanam tanaman tumpangsari di parit antarbedengan.
  6. Panen jahe di umur 23—24 bulan.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *