Jagung manis produksi Matahari Seed

Jagung manis produksi Matahari Seed

Rasa manis, bertongkol dua, produktivitas tinggi, dan berumur genjah. Itulah  keunggulan jagung manis silo 12.

Tahun Baru 2014 berkah bagi Ujang, pedagang jagung manis di Puncak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Pria berusia 52 tahun itu menjual 100 kg jagung manis sehari sebelum pergantian tahun tiba. Harga beli di petani Rp8.000 per kg. Namun, Ujang menjualnya Rp5.000 per tongkol berbobot rata-rata 200 g. Sekilogram jagung manis terdiri atas 5 tongkol. Pasokannya berasal dari petani di Kabupaten Cianjur.

Tongkol jagung manis dengan biji kuning cerah dan tekstur lembut yang dijual Ujang itu bernama silo 12. Tinggi tanaman jagung bertongkol dua itu 170—180 cm. Tongkol muncul di ruas ke-4 dan ke-6. Bobot rata-rata tongkol utama 200—250 g per tongkol. Tongkol kedua biasanya berbobot 50 g lebih rendah daripada tongkol utama. Pantas bila produksi silo 12  mencapai 0,4 kg jagung per tanaman.

Tingkat kemanisan silo 12 mencapai 12—13o briks, lebih tinggi daripada jagung biasa yang hanya 9—11o briks. Varietas hasil pemuliaan Syngenta itu berumur genjah, panen umur 70 hari setelah tanam. “Jagung manis lain 75—80 hari,” ujar Abdul Rahim, pekebun yang menanam silo 12 di Cianjur. Jagung manis itu tetap segar selama 5 hari penyimpanan sehingga cocok untuk pengiriman jarak jauh.

Sugianto (tengah) mendapat harga bagus berkat menanam jagung manis billy seed

Sugianto (tengah) mendapat harga bagus berkat menanam jagung manis billy seed

Dua tongkol

Menurut Manajer Pengembangan Bisnis Sayuran PT Syngenta, Satria Bramanto, pedagang tradisional, seperti di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, lebih menyukai jagung berukuran medium seperti silo 12. Pun demikian pedagang jagung bakar di daerah wisata seperti Puncak. Pasalnya, jumlah tongkol per kg lebih banyak.

Baca juga:  Rangsang Gubal Gaharu

Memacu produksi jagung manis per tanaman menjadi tujuan utama PT Syngenta melahirkan silo 12. Berbeda dengan pendahulunya, sugar 75. Jagung yang dirilis pada 2008 itu berukuran besar dengan bobot 400—500 gram per tongkol. Sugar  75 cocok sebagai jagung pipil. Musababnya, selain berbulir besar, bobot per tongkol tinggi.

Abdul Rahim menanam 1.000 tanaman jagung di lahan 250 m2. Sebelum menanam, ia membuat bedengan selebar 50 cm dan panjang 3,5 m dengan arah timur barat. Parit selebar 45 cm memisahkan setiap bedengan setinggi 15 cm itu. Ia menanam 1 benih per lubang dengan jarak antartanaman 50 cm x 30 cm.

Sepekan pascatanam, ia mencampur pupuk SP-36 dan Urea lalu melarutkan dalam 100 ml air. Ia kemudian mengocorkan sebanyak 2 g per tanaman yang dilarutkan dalam 100 ml air. Dosis itu ia naikkan menjadi 5 g per tanaman ketika memupuk lagi 10 hari kemudian. Tujuannya memaksimalkan pertumbuhan vegetatif tanaman. Pupuk selanjutnya diberikan setiap 10 hari sekali hingga tanaman berbunga, pada umur 35 hari setelah tanam (hst), dengan dosis 5 g per tanaman.

Untuk mencegah serangan ulat penggerek batang dan penggerek tongkol, Rahim melarutkan 75 ml insektisida berbahan aktif tiametoksam dalam 15 liter air. Cairan itu untuk menyemprot batang tanaman. Pengendalian penyakit hawar daun dan busuk tongkol menggunakan 75 ml fungisida berbahan aktif difenokonazol. Ia menyemprotkan pestisida pada 10, 30, dan 45 hst.

Jagung silo 12 manis dengan kadar 12—130 briks

Jagung silo 12 manis dengan kadar 12—130 briks

Teranyar

Nun di Desa Kretek, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, Sugianto mendapat Rp2-juta dari 1.000 tanaman jagung manis pada Desember 2013. Pendapatan itu dua kali lipat dari biasanya. Pengepul menebas hanya Rp1-juta dengan jumlah tanaman sama di lahan milik pekebun sekitar. “Saya menanam jagung manis jenis baru,” ujar Sugiyanto.

Baca juga:  Pasar Besar Flora

Ia memanen jagung jenis billy sweet yang tahan serangan bulai. Di lahan milik pekebun lain sebagian besar terserang bulai sehingga harga tebas rendah. Guntur Sasono dari PT Matahari Seed menuturkan jagung manis billy sweet toleran serangan bulai dan adaptif  di ketinggian 100—700 m di atas permukaan laut.

Sugianto menanam billy sweet di lahan 3.500 m2.  Ia menanam tumpangsari dengan cabai. “Saya sengaja menanam tumpangsari sebab billy sweet masih baru. Jadi saya uji coba dulu. Ternyata hasilnya memuaskan,” kata Sugianto. Pria berusia 58 tahun itu memanen jagung manis saat berumur 60—70 hari setelah tanam (hst). Panen mencapai 250 kg dari 1.000 tanaman dengan bobot rata-rata 250 g per tongkol. Panjang tongkol 30 cm dengan diameter 5—6 cm.

Untuk kebutuhan benih, ia memerlukan sebungkus billy sweet berbobot 250 gram berisi 2.000 biji seharga Rp62.000. Untuk menanggulangi hama dan penyakit, Sugianto membutuhkan 2 botol fungisida seharga Rp49.000 per botol dan sebotol insektisida seharga Rp38.500. Total biaya selama menanam 1.000 batang billy sweet hanya Rp488.500. Dengan harga tebas Rp2-juta, ia meraup untung Rp1,5-juta.

Kehadiran silo 12, sugar 75, dan billy sweet merupakan jawaban atas naiknya permintaan jagung manis. Menurut ahli jagung dari Balai Penelitian Serealia (Balitsereal) Maros, Sulawesi Selatan, Ir A. Haris Talanca, kenaikan itu dipicu banyaknya industri rumah tangga yang membutuhkan jagung manis sebagai bahan baku, misalnya es krim dan puding.  Kebutuhan jagung manis untuk restoran, penyedia jagung bakar, dan hotel di sekitar Bogor, Jawa Barat, mencapai 20 ton per hari.  Apalagi di malam pergantian tahun, angka itu bisa melonjak berkali lipat. (Kartika Restu Susilo/Peliput: Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d