Lima tanaman hias memperelok ruangan sekaligus andal menyerap racun atau polutan.

Sansevieria trifasciata selama ini sohor sebagai tanaman penyerap polutan.

Sansevieria trifasciata selama ini sohor sebagai tanaman penyerap polutan.

Lebih dari 1,6 juta kematian per tahun akibat racun di dalam ruangan. Itulah laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2002. Masyarakat menganggap ruangan lebih bersih daripada di luar ruangan. Padahal, berdasarkan penelitian Stanley J. Kays dari Departemen Hortikultura, Universitas Georgia, Amerika Serikat, udara di dalam ruangan—rumah atau perkantoran—memiliki intensitas polusi lebih tinggi hingga 100 kali polutan di luar ruangan. Di dalam ruangan tak berasap rokok pun tersembunyi racun udara yang justru sangat berbahaya.

Senyawa organik volatil atau volatile organic compounds (VOCs) seperti benzena, toluena, oktan, dan trikhloroetilen (TCE) berkonsentrasi tinggi terdapat di dalam ruangan. Konsentrasi tinggi karena polutan di dalam ruangan lebih terkonsentrasi dan semakin bertambah. Zat–zat itu dapat terhirup terus-menerus tanpa disadari dan dapat menjadi penyebab berbagai penyakit berbahaya seperti kanker, asma, gangguan reproduksi, dan gangguan saraf.

Penyerap racun

Sambang  getih Hemigraphis alternata multimanfaat, sebagai tanaman obat dan tanaman hias.

Sambang getih Hemigraphis alternata multimanfaat, sebagai tanaman obat dan tanaman hias.

Mengapa begitu banyak racun berbahaya memenuhi udara dalam ruangan? Lihatlah perabot yang terdapat di dalam ruangan. Ada sofa, karpet, dan perabotan furnitur, plastik (vinil), pembersih ruangan, tembok dan cat tembok. Bahan perekat pun dapat mengeluarkan racun tak terlihat di dalam ruangan. Sebab, barang-barang tersebut semua menggunakan bahan bahan kimia yang menghasilkan emisi senyawa organik volatil.

Salah satu cara yang paling praktis untuk mengatasi racun berbahaya di dalam ruangan dengan meletakkan tanaman hias. Selain berfungsi mempercantik ruangan, tanaman juga menyerap racun. Tanaman mampu menyerap racun-racun VOCs. Selain itu VOCs tertentu yang berasal dari tanaman dapat memberikan efek positif. Jadi meletakkan tanaman hias di dalam ruangan selain dapat menghasilkan VOCs yang positif juga dapat menyerap VOCs negatif.

Universitas Georgia meriset 28 tanaman hias sebagai penghias ruangan, termasuk lidah mertua Sansevieria trifasciata yang sohor sebagai penyerap racun. Para periset mengetes efektivas penyerapan racun. Mereka menggunakan bak kaca kedap udara dalam percobaan itu. Sampel- sampel tanaman hias berada di dalam bak kaca kemudian ditambahkan berbagai komposisi zat VOCs berbahaya, yaitu benzena, toluena, oktan, dan a-pinene.

Ivi Hedera helix banyak tumbuh di dinding gedung, andal menyerap polutan dalam ruangan.

Ivi Hedera helix banyak tumbuh di dinding gedung, andal menyerap polutan dalam ruangan.

Hasilnya penelitian itu mengejutkan, terdapat lima jenis tanaman yang sangat tinggi menyerap racun. Kemampuan penyerapan racun yang sangat tinggi itu melalui proses fitoremediasi. Kelima tanaman hias yang unggul menyerap polutan di dalam ruangan adalah sambang getih, ivi, hoya, asparagus, dan ungu jantung. Sambang getih Hemigraphis alternata sebetulnya tidak asing lagi bagi masyarakat kita.

Baca juga:  Agar Ritus Tak Putus

Masyarakat Jawa Tengah menyebut tanaman itu remek daging. Adapun warga Jawa Timur biasa menyebutnya sambang getih. Orang Sunda menyebutnya reundeu beureum. Tanaman anggota famili Acanthaceae itu belum banyak digunakan sebagai tanaman hias dalam ruangan. Masyarakat lebih banyak memanfaatkannya sebagai tanaman pagar atau ground cover alias penutup lahan.

Tanaman multifaedah
Di Amerikat dan Eropa, tanaman purple waffle plant itu umum ditanam sebagai tanaman hias dalam ruangan. Pada masa kolonial dulu, Belanda membawa tanaman itu ke Eropa sebagai tanaman hias. Selain sebagai tanaman hias, sambang getih berfaedah sebagai obat peluruh urine (diuretik), penahan pendarahan, penurun demam, obat luka terbuka, dan diare. Sambang getih juga memiliki aktivitas antioksidan.

Hoya carnosa.

Hoya carnosa.

Selain itu, masyarakat juga memanfaatkan daun sambang getih sebagai pewarna merah tua pada kain katun, tikar, dan bahan anyaman supaya lebih tahan lama. Warna daun amat khas, hijau tua keunguan mengilap agak keabu-abuan di bagian atas, dan merah ungu di bagian bawah. Daun tunggal dan berbentuk bulat telur, berujung runcing, serta bagian tepi bergerigi. Tanaman hias lain yang andal menyerap polutan adalah ivi Hedera helix.

Tanaman hias merambat itu asli Eropa dan mampu beradaptasi di daerah tropis. Batangnya berkayu dan agak kaku, letak duduk daun berseling. Helai daun berbentuk bersegi lima dengan sedikit lekukan antarsudut. Daun tebal dan permukaannya mengilap, berwarna hijau gelap. Namun kini ada varietas variegata. Tanaman anggota famili Araliaceae itu lazim sebagai tanaman hias yang dipanjatkan di tembok atau pot gantung. Ivi mengandung alkaloid sebagai bahan obat.

Hoya carnosa juga andal menyerap polutan di dalam ruangan. Tanaman hias merambat itu kini kian populer. Hoya carnosa jenis pertama dari kelompok tumbuhan Hoya yang dideskripsi, berasal dari Tiongkok selatan yang tropis dan Jepang. Namun, tanaman anggota famili Apocynaceae itu dipopulerkan sebagai tanaman hias justru di Eropa. Masyarakat benua biru menyebut tanaman kerabat kamboja itu wax plant alias tanaman lilin.

Ekor tupai Asparagus densiflora berdaun jarum.

Ekor tupai Asparagus densiflora berdaun jarum.

Harap mafhum daunnya berbentuk elips, permukaan mengilap dengan lapisan lilin yang tebal. Daun bersilang berhadapan pada ruas batang. Tanaman kerabat bintaro itu berdaun sukulen. Bunganya majemuk berbentuk payung. Kelopak dan mahkota bunga terdiri atas helai termasuk mahkota tambahan atau korona. Kelopak ukuran kecil dan tersembunyi di balik mahkota. Mahkota berbentuk bintang dengan korona di bagian tengah yang juga berbentuk bintang.

Baca juga:  Berpesta di Tanjungbunga

Indonesia memiliki keanekaragaman jenis hoya paling tinggi di dunia. Masyarakat juga memanfaatkan beberapa jenis hoya secara tradisional sebagai bahan obat. Ekstrak daun Hoya carnosa berkhasiat sebagai pengganti insulin pada penderita diabetes. Selain itu ekstrak daun Hoya carnosa juga dipatenkan di Amerika Serikat pada 2014 sebagai bahan antipenuaan dini pada kosmetik terkenal.

Ekor tupai
Tanaman keempat yang superior menyerap racun adalah ekor tupai Asparagus densiflorus. Sosoknya mirip ekor tupai. Daun menjarum berukuran kecil dan pendek, tersusun dalam percabangan bertingkat. Tanaman anggota famili Asparagaceae itu masih berkerabat dekat dengan asparagus yang umum dikonsumsi sebagai sayuran. Pendatang dari Afrika Selatan itu tidak tahan beku, sehingga di Eropa ditanam di dalam rumah kaca.

Tradesceantia pallida.

Tradesceantia pallida.

Terdapat dua varietas yang terkenal, yaitu “sprengeri” dengan susunan daun berbentuk pipih seperti daun pakis. Varietas itu sudah lama terdapat di Indonesia sebagai tanaman hias. Para pendekor pengantin pada 1970-an acap kali memanfaatkan sprengeri. Varietas lain dengan susunan daun melingkar bak ekor tupai, sehingga dinamai asparagus ekor tupai. Varietas sebenarnya bernama “myers”, lebih banyak digunakan sebagai tanaman hias pot.

Tradescantia pallida sering disebut dengan nama purple heart, purple queen. Di Indonesia cukup disebut sebagai tradeskantia atau ada juga yang menyebut hati ungu atau ungu jantung. Tanaman dari Meksiko itu tumbuh menjalar di atas permukaan tanah dengan bagian batang yang memiliki banyak air. Hampir semua bagian tanaman anggota famili Commelinaceae itu berwarna ungu sehingga cantik sebagai tanaman hias.

Warna ungu itu karena kandungan pigmen antosianin yang berpotensi sebagai pewarna makanan yang efektif. Susunan daun berseling, daun lanset dan pada bagian pangkal daun memeluk batang. Bulu-bulu atau rambut halus tumbuh di permukaan batang dan daun. Perbungaan dalam malai yang keluar dari ketiak daun dengan daun pelindung berbentuk menyerupai cucuk burung. Kelima tanaman hias itu daya serap racun lebih tinggi daripada sansevieria.  (Sri Rahayu, peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d