Harga buah jabotikaba Rp 100.000 per kg

Harga buah jabotikaba Rp 100.000 per kg

Buahnya disukai, bibitnya diburu.

Dua orang datang memikul kardus sepanjang 2,5 m, lalu meletakkannya di atas sebuah timbangan duduk. Jarum timbangan segera berputar menunjukkan angka 68 kg.  Hendra Suhe, pemilik kotak itu, bermaksud mengirim paket itu ke Palembang, Sumatera Selatan. Sebelumnya kotak lain yang lebih kecil  berbobot 19 kg dikirim ke  Magelang, Jawa Tengah.

Kedua paket itu dijemput langsung oleh mobil ekspedisi ke kebun Hendra Suhe di Cibodas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.  Paket besar itu berisi 1 pohon jabotikaba setinggi 1,5 m dan belasan bibit ukuran kecil.

Dua jam sebelumnya, Trubus  menyaksikan 3 paket serupa disiapkan oleh Yanto Hidayat, juga di Cibodas, untuk pelanggannya di Bontang, Kalimantan Timur dan Sidoarjo, Jawa Timur.  Setiap hari, pemilik nurseri Andaman itu mengirim paket jabotikaba ke berbagai daerah. “Bila dijumlah, totalnya mencapai 100 pohon per minggu,” ujar Yanto.

Permintaan bibit jabotika meningkat pesat pada 2014

Permintaan bibit jabotika meningkat pesat pada 2014

Meningkat 100%

Hendra  Suhe dan Yanto Hidayat  sepakat sejak  awal 2014  permintaan  bibit  jabotikaba meningkat 100%. Tahun lalu, Hendra Suhe menjual sekitar 3.000 pohon jabotikaba atau rata-rata 250 pohon per bulan. Pada Januari—Maret 2014, permintaan yang masuk telah mencapai 500—600 pohon per bulan.

Yanto Hidayat menjual kupa landak—sebutan jabotikaba di Cibodas—secara konvensional sejak 3 tahun silam. Namun, permintaan tidak stabil. Ia pernah mengirim 37 pohon setinggi 1—1,5 m ke Surakarta, Jawa Tengah. Kali lain ia menjual 300 dan 500 bibit ke Kediri, Jawa Timur.

Setelah aktif melakukan penjualan lewat daring atau online pada awal 2014, Yanto bisa menjual 5 dus per hari, masing-masing berisi 5—20 pohon. Artinya dalam 1 bulan, total bibit anggur brasil yang dikirim mencapai 600 pohon. Hampir setiap saat ia memperbarui data atau status di akun jejaring sosial miliknya. Beberapa malam dalam sepekan ia membuat kuis dengan hadiah jabotikaba, bibit jambu brasil, atau kaus. Kuis efektif mendorong pesanan tanaman.

Baca juga:  Salak Turunkan Kolesterol

Menurut Yanto,  permintaan tinggi datang dari luar Pulau Jawa, yakni Bontang, Kalimantan Timur, Sumatera, dan Sulawesi. Hendra pun sepakat saat ini bibit anggur brasil—sebutan lain jabotikaba—laris manis diminta pedagang dan pehobi dari berbagai daerah di Indonesia.

Nun, jauh di Kertosari, Ponorogo, Jawa Timur, Sutrisno, pekebun bibit,  menikmati hal serupa. Dalam sebulan ia menerima permintaan 300—500 bibit. Namun, ia hanya sanggup memenuhi 30—50 tanaman per bulan. Bibit berasal dari biji asal 1 pohon induk miliknya yang menghasilkan 10 kg buah atau 1.000 biji.

Thedy Widjaya kembangkan 800 pohon jabotikaba

Thedy Widjaya kembangkan 800 pohon jabotikaba

Pehobi & pekebun        

Mengapa bibit jabotikaba begitu dicari? Harap mafhum sosok buah jabotikaba yang mirip anggur ungu unik rasanya, masam, manis dan sepat. Buah itu digadang-gadang memiliki khasiat sebagai antipenuaan dini karena kandungan antioksidannya tinggi.

Pemanfaatan buah di luar konsumsi segar pun memungkinkan. Misal di Amerika Selatan jabotikaba dipakai sebagai bahan pembuatan sampo. Pantas jika pehobi dan pekebun tertarik untuk menanam. Budi Tedjakusuma membeli 80 jabotikaba khusus untuk menghias vila pribadi di Batu, Jawa Timur. Kolektor lain pasangan suami istri Cuncun Wijaya dan Fifie Rahardja di Bandung yang membeli 3 jabotikaba umur 15 tahun pada 2009 dan pasangan Admi Umar dan Asma Admi (Jakarta) merogoh kocek belasan juta rupiah untuk sepohon jabotikaba.

Pemilik kebun anggur brasil yang mengelola 800 pohon di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Thedy Widjaya, tidak kesulitan menjual buah produksinya. Setiap musim panen tiba pada Mei dan Oktober ia tinggal menelepon pelanggan pasar swalayan, pengelola acara tertentu, dan konsumen perorangan. Selain itu konsumen juga datang langsung ke kebun yang ia buka sebagai lokasi agrowisata. Mereka bisa memetik langsung di pohon dan membawa pulang dengan membayar Rp100.000/kg.

Baca juga:  Terpesona Epifit Cantik

Sebuah perusahaan besar di Bali  menyodorkan kerja sama kepada Thedy Widjaya meminta dipasok buah jabotikaba sebanyak-banyaknya. Namun, “Saya takut teken kontrak. Pelanggan sudah cukup banyak dan saya tidak ingin mengecewakan mereka,” ujar Thedy.  Thedy juga mengolah buah menjadi selai. Selai yang dikemas dalam botol dan dijual Rp30.000 itu cukup disukai konsumen. Pantas ia berminat memperluas penanaman karena melihat prospek anggur brasil sangat baik. Namun, rencana itu terkendala mahalnya harga tanah di Lembang.

Bibit susah

Karena sangat banyak pehobi dan pekebun yang kepincut itulah bibit anggur brasil menjadi incaran. Untuk memenuhi permintaan konsumen, Yanto membuka tempat penampungan tanaman berkapasitas 5000—10.000 bibit di Jakarta Timur. Di situlah ia menyimpan hasil perburuan bibit jabotikaba dari pelosok Cibodas. Cibodas memang sentra utama penanaman jabotikaba sejak lama. Semula tanaman anggota famili Myrtaceae itu lebih dikenal sebagai bahan bonsai seperti dilakukan Solihin.

Yanto melakukan perburuan karena proses perbanyakan jabotikaba masih mengandalkan biji yang prosesnya lama. Dari biji hingga menjadi bibit siap jual butuh waktu 8—12 bulan. Selain itu banyak pohon induk di sentra sudah dijual para pemiliknya sehingga sulit mendapat biji. Kini para pembibit di Cibodas berharap pada 2 pohon Syzygium polycephalum koleksi Kebun Raya Cibodas berumur lebih 100 tahun sebagai sumber biji.

Meningkatnya permintaan yang tidak dibarengi peningkatan produksi itu menyebabkan bibit jabotikaba meningkat. Bila 3 tahun silam harga bibit setinggi 20 cm Rp 15.000—Rp20.000, saat ini untuk ukuran sama dijual Rp25.000—Rp50.000/pohon. Pohon setinggi 2—2,5 m semula dibanderol Rp3,5—5.juta, kini Rp10-juta—Rp20-juta. Bahkan, kecambah berumur 2—4 bulan dijual Rp2.000—Rp6.000.

Menurut Yanto, bibit yang paling diminati berukuran 25—40 cm dengan kisaran harga Rp35.000/bibit. Bibit ukuran 15 cm dijual  Rp20.000, tinggi 20 cm dijual Rp25.000. Selain bibit kecil, konsumen juga meminta pohon ukuran besar. Iir Rahdiana di Cibodas salah satu penyedianya. Pantas Yanto yakin, bisnis bibit anggur brasil bisa bertahan hingga 5—10 tahun ke depan. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments