Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan DIY meriset pengembangan nilasa sejak 2004

Balai Pengembangan Teknologi Kelautan
dan Perikanan DIY meriset pengembangan
nilasa sejak 2004

Masa panen tiga bulan lebih cepat, ikan pun bongsor sekaligus hemat pakan.

Sarimin biasanya menanti 6—7 bulan untuk memanen nila di karamba jaring apung. Peternak di Waduk Kedungombo, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, menebar benih 10—15 gram per ekor. Namun, sejak awal 2013 ia tak perlu menanti setengah tahun untuk panen nila. Sarimin hanya perlu waktu 4 bulan. Percepatan itu setelah peternak berusia 40 tahun itu memelihara nilasa. Nama itu pemberian Gubernur Yogyakarta,  Sri Sultan Hamengkubuwono X akronim dari nila satria. Kata satria merujuk pada tataran nilai yang dianut dalam tata pemerintahan Yogyakarta.

Selain lebih cepat, nila merah pun lebih bongsor.  Sarimin memanen nilai berbobot 500—600 g per ekor hasil pembesaran selama 4 bulan. Padahal, Sarimin menebar benih berukuran 10—15 gram per ekor. Sebelumnya, untuk mencapai bobot itu, Sarimin memerlukan 7 bulan. Itulah dua kelebihan nilasa hasil pemuliaan Ir Heri Sulistio Hermawan SPi MT dari Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pertumbuhan nilasa bongsor umur 4-5 bulan mampu capai bobot 500-600 g dari tebar 10-15 g per ekor

Pertumbuhan nilasa bongsor umur 4-5 bulan mampu capai bobot 500-600 g dari tebar 10-15 g per ekor

Pilihan peternak

Kelebihan lain nilasa memiliki rasio konversi pakan (FCR feed conversion ratio) hanya 1 : 1 sampai 1 : 1,2.  Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging nilasa hanya memerlukan 1—1,2  kg pakan. Nila merah biasa yang sebelumnya diternakkan Sarimin,  memiliki FCR:1,5—1,8.  Semakin rendah nilai FCR, keuntungan peternak kian tinggi. Berkat nilasa, yang pertumbuhannya cepat, bongsor, dan hemat pakan, laba Sarimin pun makin menggembung.

Peternak nila itu membudidayakan nila merah di 10 karamba masing-masing berukuran  4 m x 4 m x 3 m. Peternak ikan sejak 2004 itu mengatakan tingkat kelulusan hidup mencapai 70%. Ia memberikan pakan berupa pelet. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Empat bulan berselang ia panen nila merah berbobot rata-rata 400 gram.

Heri Sulistio Hermawan SPi MT, "Nilasa memperoleh sambutan antusias dari peternak"

Heri Sulistio Hermawan SPi MT, “Nilasa memperoleh sambutan antusias dari peternak”

Menurut  Heri Sulistio Hermawan SPi MT, nila merah memang menjadi fokus unggulan. Sebab, para peternak di Yogyakarta dan Jawa Tengah banyak yang membudidayakan nilasa. “Konsumsi nila yang paling banyak jenis nila merah,” kata Heri.  Indra Eka Prabowo dari Yogyakarta mengungkapkan masyarakat lebih menyukai nila merah daripada nila hitam lantaran tekstur lebih lembut, kenyal, dan warna daging lebih putih. “Menyerupai kakap merah,” ungkap Indra.

Baca juga:  Penyakit Jeruk: Cepat Melacak Naga Kuning

Heri mengatakan lembaganya meriset nila baru itu karena budidaya nila merah lokal selama ini menemui hambatan. Pertumbuhan nila lambat, yakni memerlukan waktu 6—7 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi 350—400  g. Peternak di Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, menyebut nila yang lambat tumbuh sebagai nila jengkol. Sebab, bentuknya kuntet menyerupai penganan jengkol.

Empat indukan

Lamanya waktu budidaya berakibat banyak hal bagi peternak. Selain biaya pakan membengkak, perputaran uang pun lebih lambat. Menurut Heri, salah satu penyebab lambatnya pertumbuhan nila lantaran kualitas benih beragam. Benih  berasal dari indukan yang tidak jelas asal-usulnya. Bahkan, kerap kali benih nila kerap merupakan dari hasil  perkawinan sekerabat yang berakibat pertumbuhan lambat. Oleh karena itu Heri Sulistio Hermawan menyiasati dengan meriset strain nila merah unggul baru sejak 2004.

Nilasa paling banyak dibudidayakan oleh para peternak di Jawa Tengah dan Yogyakarta

Nilasa paling banyak dibudidayakan oleh para peternak di Jawa Tengah dan Yogyakarta

Heri mula-mula mengumpulkan koleksi indukan yang mempunyai karakteristik unggul seperti pertumbuhan bongsor dan mempunyai warna merah. Mereka memperoleh empat strain unggulan yakni nila merah singapura, nifi, filipina, dan citralada. Lewat serangkaian seleksi pada generasi F3 atau keturunan ketiga akhirnya para peneliti memperoleh nilasa. Selain pertumbuhan bongsor, nilasa juga tahan terhadap air asin hingga 18 ppt (bagian per seribu) sehingga potensial untuk budidaya di daerah payau.

Menurut Heri pertumbuhan cepat merupakan warisan induk nila citralada Indukan itu memang selama ini sohor sebagai nila genjah. Seabrek keunggulan yang dimiliki nilasa membuat kehadirannya disambut hangat para peternak. Hingga saat ini total jenderal sebanyak 250 paket indukan sudah diditribusikan ke peternak di seantero Jawa Tengah dan DIY. Satu paket terdiri dari 100 ekor pejantan dan 300 ekor betina. Berkat nilasa, kini peternak tidak perlu nelangsa menunggu waktu panen yang lama. (Faiz Yajri, kontributor Trubus)

Baca juga:  Labu Atasi Radang Usus

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d