Model irigasi dengan regulating stick.

Model irigasi dengan regulating stick.

Irigasi mikro membantu pekebun cabai menghemat air saat kemarau.

Sebanyak 602 petani di Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengebunkan cabai hanya pada musim hujan. Saat kemarau mereka berhenti menanam Capsicum annum lantaran jumlah air terbatas. Pasokan air hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Oleh sebab itu, musim tanam cabai di desa itu menjadi serempak, begitu juga saat panen.

Akibatnya, harga cabai anjlok saat musim panen karena pasokan melimpah. Solusi atas masalah itu adalah sistem irigasi tetes agar lebih hemat air. Itu inovasi dari Balai Penyuluh Pertanian dan Kehutanan (BPPK) Kecamatan Borobudur, Farmer Managed Extension Activities (FMA) Desa Giritengah, dan tim Program Pemberdayaan Petani Melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP) dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Jawa Tengah.

Hemat air
Sistem irigasi tetes relatif sederhana, yaitu menggunakan botol plastik bekas air minum dalam kemasan. Para perancang melubangi tutup botol, lalu memasukkan sumbu yang di bagian ujungnya terdapat stik. Sumbu itu untuk mengalirkan air dari dalam botol ke stik yang ditancapkan di dekat area perakaran. Para periset menguji coba sistem irigasi sederhana itu terhadap 935 tanaman cabai pada penanaman musim kemaru.

Area percontohan budidaya cabai menggunakan 3 model teknologi irigasi mikro otomatis pada ajang Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) 2017 di Kota Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Area percontohan budidaya cabai menggunakan 3 model teknologi irigasi mikro otomatis pada ajang Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) 2017 di Kota Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Menurut penyuluh dari BPPK Kecamatan Borobudur, Muhamad Sodiq, dengan irigasi tetes konsumsi air setiap tanaman sangat hemat. Sebotol berisi 600 ml air habis dalam 3 hari. Menurut D.A.A. Pertiwi dari Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pekebun biasanya menyiram tanaman secara manual menggunakan gembor berkapasitas 15 liter.

Satu gembor air itu cukup untuk menyiram 6—7 tanaman atau rata-rata 2,1—2,5 liter per tanaman. Frekuensi penyiraman dua kali sehari yaitu setiap pagi dan petang. Pemanfaatan irigasi tetes jelas menghemat air. Meski pasokan air hanya berupa tetesan, tanaman tumbuh hingga panen. Pada uji coba 935 tanaman, produksi cabai merah mencapai 233,6 kg dari dua kali panen atau rata-rata 250 g per tanaman.

Baca juga:  Aral Tak Berpengujung

Produksi itu rendah karena 85% dari total populasi terserang penyakit layu fusarium. Namun, dari 10 tanaman yang sehat rata-rata produktivitas cabai mencapai 1,46 kg per tanaman. Produksi pada tanaman sehat itu jauh lebih tinggi dari rata-rata produktivitas cabai nasional yang hanya 278 g per tanaman. Sayangnya teknologi sederhana itu cukup merepotkan jika digunakan untuk skala luas.

Pasalnya, pekebun harus rajin mengecek jumlah air di setiap botol. Waktu pengerjaan juga menjadi kurang efisien karena pekebun harus membuka tutup botol dan menuangkan air pada botol satu per satu. Pada area Gelar Teknologi di ajang Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) 2017 di Kota Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Kementerian Pertanian memamerkan teknologi irigasi otomatis untuk pengairan cabai.

Model irigasi dengan spray jet atau single piece jet.

Model irigasi dengan spray jet atau single piece jet.

Bendung parit
Teknologi irigasi itu menggunakan pompa yang menyedot air dari parit yang dibendung, lalu mengalirkannya ke tanaman. Pompa beroperasi secara otomatis karena terdapat alat pengatur waktu, yakni setiap pukul 7.00 dan 17.00. Menurut konsultan budidaya cabai di Kota Depok, Jawa Barat, Munir Haryanto, teknologi itu menjadi solusi untuk kebun yang pasokan airnya terbatas.

Menurut Munir teknologi itu juga lebih praktis sehingga dapat meringankan kerja pekebun untuk penyiraman. Untuk mengalirkan air ke tanaman, pada pameran itu Kementerian Pertanian merancang 3 model irigasi, yaitu model regulating stick, irigasi tetes (streamline), dan spray jet. Pada model regulating stick, air mengalir melalui pipa lateral berbahan polietilen (PE) berdiameter 20 mm yang membentang di permukaan mulsa.

Terdapat dua jalur pipa lateral di dekat tanaman di setiap bedengan. Pada pipa lateral itu terdapat lubang yang dipasangi pipa PE berdiameter lebih kecil, yakni 8 mm. Regulating stick terpasang di ujung pipa dan ditancapkan di sekitar area perakaran. Pekebun dapat mengatur debit air pada regulating stick.

Model irigasi dengan irigasi tetes.

Model irigasi dengan irigasi tetes.

Ada pun model irigasi tetes streamline sebetulnya mirip dengan model regulating stick. Perbedaannya pada irigasi tetes tidak menambahkan pipa berukuran kecil dari pipa lateral ke tanaman. Pada pipa lateral terdapat lubang dan langsung dipasang emitter atau penetes. Oleh sebab itu posisi pipa lateral lebih dekat ke tanaman agar emitter meneteskan air langsung ke area perakaran tanaman.

Baca juga:  Kunyit untuk Anjing

Pada model spray jet pipa lateral hanya terdiri atas satu jalur yang letaknya memanjang di bagian tengah guludan dan berada di bawah mulsa plastik. Model itu membutuhkan tekanan lebih tinggi agar air memancar dari lubang di bagian sisi kanan dan kiri pipa lateral ke area perakaran tanaman. Sayangnya teknologi irigasi otomatis menggunakan regulating stick dan irigasi tetes membutuhkan biaya investasi tinggi.

Tetap ekonomis
Menurut Rully Asrul Kemal Dardari, pekebun cabai di Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk 1 ha lahan perlu sekitar 7.000 m selang PE. Bila harga selang PE Rp20.000 per m, maka total biaya selang mencapai Rp140-juta. Rully memilih selang berharga mahal agar kualitasnya baik sehingga awet hingga 5 tahun. Biaya itu belum termasuk biaya pembelian pompa atau pipa tambahan lain.

Waktu beroperasi pompa air diatur menggunakan alat pengatur waktu.

Waktu beroperasi pompa air diatur menggunakan alat pengatur waktu.

“Pemanfaatan irigasi mikro efektif dan efisien bila diusahakan dalam jangka panjang,” tutur Rully. Sistem irigasi spray jet lebih hemat karena selang yang digunakan hanya 1 jalur per guludan atau via-flo. Biaya pembelian pipa PE sekitar Rp9 juta—Rp10 juta per hektare, belum termasuk biaya pembelian pompa dan perlengkapan lain. Untuk menghemat biaya investasi, Pertiwi merancang instalasi jaringan pipa air menggunakan pipa polivinilklorida (PVC) pada tiap bedengan tanaman.

Ia menggunakan pipa berdiameter 3/4 inci sebagai pipa utama dan pipa 1/2 inci sebagai pipa tetes. Pipa utama berfungsi sebagai pembagi air ke setiap pipa tetes. Pipa tetes diberi selang akuarium yang ujungnya bermanik untuk meneteskan air  ke setiap tanaman dengan jarak sesuai jarak antartanaman.  Menurut Pertiwi biaya instalasi hasil rancangannya itu rata-rata Rp920 per tanaman jika cabai ditanam dengan jarak 50 cm x 70 cm.

Jika produktivitas rata-rata 500 g per tanaman dan harga jual cabai Rp15.000 per kg, maka biaya investasi untuk irigasi hanya 12,2% dari harga jual. Biaya investasi akan jauh lebih kecil bila instalasi irigasi itu berumur panjang, yakni minimal 3 tahun. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d