Ir Winarno Tohir: Kesejahteraan Petani Harga Mati

  • Home
  • trubus
  • Ir Winarno Tohir: Kesejahteraan Petani Harga Mati
Ir Winarno Tohir: Kesejahteraan Petani Harga Mati 1
Ir Winarno Tohir: Teknologi meningkatkan nilai tukar petani

Ir Winarno Tohir: Teknologi meningkatkan nilai tukar petani

Ir Winarno Tohir meniti “karier” organisasi petani dan nelayan terbesar, Kontak Tani Nelayan Andalan, dari lahan pertanian di Desa Sleman, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Ia menjadi petani padi dan mangga. Selama 9 tahun ia menjabat sekretaris jenderal di organisasi itu sehingga paham betul dinamika petani dari Sabang sampai Merauke. Itu menjadi bekal utama ketika naik menjadi ketua Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pusat, pada 1999. Ia mengemban jabatan itu sampai sekarang.

Di tengah kesibukan perhelatan Pekan Nasional Petani Nelayan Andalan (Penas) ke-14 di Malang, Jawa Timur, ia menerima wartawan Trubus, Argohartono Arie Raharjo. Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti itu mengungkapkan obsesi tentang petani dan dunia pertanian tanahair Ia lebih banyak berpikir tentang peningkatan kualitas hidup pelaku pertanian. “Kesejahteraan petani harga mati,” kata Winarno. Berikut petikan wawancara dengan Winarno Tohir.

Apa perbedaan Penas kali ini dengan sebelumnya?
Setiap gelaran Penas mempunyai perbedaan. Semula penyelenggaraan pekan nasional bertujuan mempertemukan petani, pekebun, peternak, dan nelayan dari seluruh Indonesia. Selanjutnya acara itu berkembang dan mulai melibatkan instansi swasta. Mereka melihat peluang berpromosi dan memanfaatkan acara untuk memperkenalkan produk mereka kepada konsumen. Setiap kali Penas produsen berlomba-lomba menghadirkan teknologi terbaru. Itulah yang menjadikan warna Penas selalu berbeda. Namun, yang paling membedakan Penas kali ini adalah program magang. Ada 35 tempat magang, masing-masing tempat mampu menampung 100 peserta. Total peserta magang mencapai 3.500 orang.

Jagung-jagung baru hadir di area pamer komoditas unggulan

Jagung-jagung baru hadir di area pamer komoditas unggulan

Bagaimana pelaksanaan magang itu?
Peserta mengikuti magang selama 4 hari sesuai keinginan mereka dan memperoleh materi lengkap dari A sampai Z. Jika memilih magang di sentra sapi perah, peserta tidak hanya belajar cara memerah yang baik. Mereka juga belajar memilih jenis hijauan atau konsentrat, meramu pakan, memandikan sapi, mencegah dan mengatasi penyakit, desain kandang, membersihkan kandang, penyimpanan susu, sampai pembuatan produk turunan seperti permen susu. Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok memperoleh materi berbeda tetapi di tempat sama. Setelah kembali ke daerah masing-masing, mereka bertukar informasi dari magang.

Baca juga:  Duo Ikan Mas Bongsor

Penas diadakan 3 tahun sekali, sementara teknologi baru belum tentu muncul setiap tahun. Apa teknologi baru yang menonjol kali ini?
Banyak. Di lahan percobaan di belakang stadion itu banyak komoditas baru. Padi dan jagung saja ada beberapa macam. Belum lagi komoditas hortikultura seperti cabai atau tomat. Di samping stadion, ada banyak jenis ternak yang dihadirkan. Itu baru dari balai-balai penelitian milik pemerintah. Produsen swasta banyak yang memamerkan alat dan mesin baru mereka. Pada acara ini saya minta balai penelitian memajang analisis usaha dari komoditas yang mereka hadirkan. Peserta yang melihat pasti akan bertanya sesuai kondisi daerah asalnya. Saat itulah terjadi aliran informasi dan teknologi. Jadi tidak sekadar pajang barang lalu ditinggal pergi, atau penjaga stan pameran adalah orang sewaan yang tidak tahu apa-apa. Namun saya akui stan-stan seperti itu pun masih ada dalam Penas kali ini.

Seperti apa penerapan teknologi yang Anda harapkan bisa diterapkan petani?
Teknologi yang sesuai komoditas masing-masing tentunya. Contohnya petani padi selama ini hanya memperoleh uang dari penjualan gabah. Padahal sejatinya bekatul, sekam, sampai jerami pun bisa menghasilkan uang. Produk rice bran oil itu kan asalnya bekatul, mahal pula. Sekam menjadi salah satu media tanam wajib untuk tanaman hortikultura. Kebutuhannya tidak main-main, tetapi ketika di lahan terkesan tidak dihargai. Kan aneh?

Jerami bisa menjadi bahan bakar pembangkit listrik nonminyak. Listrik jerami sesuai skema kredit karbon, kita bisa meminta negara-negara maju untuk membayar. Lahan sawah salah satu penyumbang gas rumah kaca terbesar selain ternak. Jika dimanfaatkan untuk listrik dan tidak dilepas ke udara, artinya memperlambat pemanasan global. Kalau semua itu ditotal, maka pendapatan petani padi bisa meningkat minimal 2 kali lipat.

Listrik asal jerami bisa memperoleh kredit karbon

Listrik asal jerami bisa memperoleh kredit karbon

Sektor pertanian tidak hanya padi, tetapi mencakup komoditas hortikultura, peternakan, dan perikanan. Mengapa Anda fokus kepada petani padi?
Rasio benefit per cost, atau saya lebih suka menyebut nilai tukar petani (NTP), di pertanian padi kecil. NTP padi hanya 101%, bagaimana petani sejahtera? Bandingkan dengan NTP perkebunan yang bisa mencapai 120%. Padahal petani padi menghidupi 250-juta jiwa rakyat Indonesia. Sudah begitu kerja sawah itu berat. Sekarang sarjana-sarjana itu, mana mau mereka mencangkul? Kalau pun mau, apa bisa mencangkul dengan benar dan cepat seperti petani? Menjadi petani padi itu tidak mudah.

Baca juga:  Rahasia Bungakan Tulip

Urutan kesejahteraan sektor pertanian berdasar komoditas, dari tinggi ke rendah: perkebunan, peternakan atau perikanan, hortikultura, pangan. Pangan berada di urutan terakhir. Faktanya petani padi kebanyakan miskin. Mestinya petani memperoleh penghargaan lebih baik, minimal berupa kesejahteraan. Di sanalah peran teknologi: meningkatkan NTP. Itu sebenarnya bisa diterapkan di komoditas lain. Sebut saja perikanan tangkap. Mereka bisa memberdayakan produk-produk sampingan yang selama ini tidak terlalu bernilai, seperti kulit atau tulang. Kita mengimpor tepung ikan, padahal kita punya bahan bakunya tapi hanya terbuang di got kampung nelayan di pesisir.

Apa harapan Anda terhadap dunia pertanian?
Kesejahteraan petani harga mati. Dalam setahun penghasilan petani minimal harus mencapai Rp50-juta per ha. Caranya tanam komoditas yang menguntungkan. Jika kondisinya terus seperti sekarang, petani padi versus beras impor, maka petani tidak usah menanam padi lagi. Penghasilan mereka akan lebih besar kalau menanam kacang hijau, jahe gajah, atau jagung manis. Kalau pemerintah ingin beras bisa berswasembada lagi, berikan dahulu kesejahteraan. Jika sejahtera, petani pasti semangat. ***

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x