Ir. Winarno Tohir

Ir. Winarno Tohir

Ir Winarno Tohir menjabat Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) pusat selama 4 periode.

Ir Winarno Tohir “menyulap” 1,5 hektare sawah miliknya menjadi hamparan 400 pohon mangga gedong gincu. Sepak terjang Winarno itu keruan saja membuat para petani padi di daerahnya, Desa Sleman, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, bertanya-tanya. Di tengah hamparan padi yang sangat luas tiba-tiba muncul pemandangan deretan pohon mangga.

Harap mafhum, selama ini daerah itu sentra padi nasional. Winarno mengganti komoditas padi dengan gedong gincu pada 2003 sebagai salah satu bentuk protes atas anjloknya harga gabah di tingkat petani. Ketika itu menjelang panen padi bukanlah masa membahagiakan, justru sebaliknya karena harga anjlok. “Padahal, pada 1986 masa panen padi ditunggu-tunggu. Saat panen para petani mengadakan pesta, meski kecil-kecilan,” tuturnya.

Winarno Tohir (kedua dari kiri), bersama para kolega di kebun mangga miliknya di Indramayu, Jawa Barat.

Winarno Tohir (kedua dari kiri), bersama para kolega di kebun mangga miliknya di Indramayu, Jawa Barat.

Beralih mangga
Winarno menuturkan harga gabah anjlok karena saat itu berlaku program intensifikasi khusus atau insus dan supra insus. Pada saat itu penanaman padi harus serempak. Namun, efek penanaman serempak itu membuat masa panen padi juga menjadi serentak.

Ketika itu hasil panen petani seharusnya dibeli oleh Badan Urusan Logistik (Bulog). Namun, ketika itu Bulog dirancang dan dibentuk bukan untuk menerima gabah langsung dari petani.

Winarno menuturkan pada saat itu Bulog harus bekerja sama dengan mitra dalam pembelian gabah petani. Waktu itu mitra Bulog adalah Koperasi Unit Desa (KUD) dan perusahaan penggilingan padi. Keduanya menerima gabah dari petani, mengeringkan, lalu mengirim ke Bulog.

Namun, karena produksi padi terlalu banyak, kedua mitra itu juga tidak mampu menampung gabah dari petani. “Modal mereka juga terbatas,” kata Winarno. Akibatnya, para pedagang memanfaatkan situasi itu dengan membeli gabah dari para petani dengan harga yang sangat rendah. Karena menanam padi tak menguntungkan, Winarno protes dengan beralih menanam mangga gedong gincu. “Saya menghitung pendapatan dari mangga lebih menguntungkan daripada padi,” kata ayah 3 anak itu.

Winarno Tohir (kiri) tengah memberikan pengarahan kepada karyawan yang mengelola kebun mangga.

Winarno Tohir (kiri) tengah memberikan pengarahan kepada karyawan yang mengelola kebun mangga.

Harga tertinggi
Namun, belakangan usaha mangga gedong gincu pun meredup. Pasalnya, populasi mangga gedong gincu di wilayah Indramayu, Majalengka, dan Cirebon, kini berlimpah setelah adanya program pemberian bantuan bibit mangga gedong gincu dari Japan International Cooperation Agency (JICA). JICA memberikan bibit untuk penanaman seluas 1.000 ha di Indramayu, Kabupaten Majalengka 1.000 ha, dan Kabupaten Cirebon 500 ha.

Penambahan luas areal tanam itu menambah jumlah pasokan mangga gedong gincu di pasaran. Di saat jumlah pasokan meningkat dan tidak sebanding dengan meningkatnya permintaan, harga mangga turun. “Dulu sebelum ada bantuan harga mangga gedong gincu di pasar swalayan mencapai Rp62.000 per kg, sekarang hanya Rp32.000. Saat panen raya bisa turun hingga Rp22.000,” tutur Winarno.

Baca juga:  Alami Rawat Mahkota

Kini harga gabah kembali membaik. Bahkan, pada Februari 2015 harga gabah mencapai Rp6.200 per kg. “Itu harga gabah tertinggi sepanjang hidup saya,” tutur pria 59 tahun itu. Harga tinggi itu terjadi akibat adanya penggantian presiden pada Oktober 2014 dan musim hujan yang mundur akibat kemarau panjang. Pada pemerintahan sebelumnya setiap Oktober adalah masa tanam padi dan akan panen pada Januari dan Februari.

Winarno tidak bisa memprediksi hingga kapan harga gabah tinggi akan berlangsung. Namun, akibat harga gabah tinggi, di beberapa daerah terjadi penanaman padi di lahan-lahan baru. Contohnya di Provinsi Riau yang merupakan sentra kelapa sawit. Ia menyaksikan beberapa pekebun menebang kelapa sawit dan kembali menanam padi. Mereka beralih ke padi akibat harga kelapa sawit yang terjun bebas.

“Turunnya harga kelapa sawit dipengaruhi anjloknya harga minyak mentah dunia,” tutur Winarno. Ia juga tidak menutup kemungkinan akan kembali menanam padi jika harga mangga gedong gincu semakin murah. Winarno menuturkan ketidakpastian dalam usahatani seperti di atas menggambarkan bahwa persoalan usahatani tidak semudah seperti dibicarakan dalam forum-forum diskusi atau catatan-catatan teori.

Winarno Tohir di sawah miliknya di Indramayu, Jawa Barat.

Winarno Tohir di sawah miliknya di Indramayu, Jawa Barat.

Ketidakpastian
Belum lagi iklim kini tidak menentu. Padahal, iklim mempengaruhi keberhasilan usahatani hingga 20%. Dahulu para petani masih dapat memprediksi masa rendengan atau masa tanam padi melalui tanda-tanda alam, yaitu hujan terus-menerus selama dua hari dua malam. Kini tanda-tanda itu sulit terlihat. Oleh sebab itu untuk memulai tanam, para petani kini melihat kondisi saluran air. Jika debit air terlihat cukup, maka mulai menanam padi.

Keterlambatan menanam padi kembali terjadi pada 2016. “Pada 2015 yang seharusnya memulai tanam pada Oktober, kini mundur hingga pertengahan Januari 2016,” ujar pria kelahiran 5 Januari 1957 itu. Winarno memperoleh informasi bahwa pada 2016 diramalkan kemarau akan datang lebih cepat, yakni pada April. Jika ramalan itu terjadi, maka pada 2016 hanya akan terjadi satu kali musim tanam padi. “Mudah-mudahan ramalan itu tidak terjadi karena dapat menimbulkan masalah pasokan pangan,” ujarnya.

Masalah kekurangan pasokan beras memang dapat diatasi dengan mengimpor beras. Namun, Winarno berpendapat sebisa mungkin hal itu dihindari karena menjadi sebuah ironi. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris ternyata masih mengimpor beras. Itulah sebabnya Winarno menyarankan agar masyarakat Indonesia berupaya menghemat beras dan mulai mengonsumsi pangan nonberas atau diversifikasi pangan.

Rendahnya kualitas sumber daya manusia juga masih menjadi kendala dalam usahatani. Winarno berpendapat saat ini semakin sulit memperoleh tenaga kerja di sektor pertanian. “Anak muda di pedesaan lebih suka bekerja menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri atau bekerja di sektor lain nonpertanian,” katanya. Tenaga yang tersedia 65% di antaranya berusia lebih dari 45 tahun.

Efisiensi dalam usahatani juga sulit tercapai. Contohnya dalam produksi padi. Indonesia masih kalah efisien ketimbang Vietnam dan Thailand. Di kedua negara itu bisa efisien karena mampu menghemat biaya tenaga kerja. “Mereka menanam padi dengan sistem tebar benih, bukan tanam jajar seperti dilakukan di tanahair,” katanya. Dengan teknik itu mereka dapat menghemat biaya tenaga tanam padi meski kebutuhan benihnya lebih banyak yakni 75 kg per hektar dan di tanahair 25 kg.

Baca juga:  Antanan Atasi Autisme

Produktivitas padi mereka juga lebih rendah yaitu kurang dari 5 ton gabah kering giling per ha dan di tanahair 5,2 ton. Padahal, saat ini Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai bergulir. Seandainya produksi padi tanahair masih kalah efisien dibandingkan negara lain di Asean, maka bisa jadi bakal kalah bersaing. “Oleh sebab itu KTNA meminta kepada Menteri Perdagangan Indonesia untuk menunda pemberlakuan perdagangan bebas Asean untuk komoditas padi, jagung, dan kedelai dua tahun lagi,” tutur Winarno.

Winarno Tohir (berbaju batik) saat melihat pencetakan sawah di Merauke, Papua.

Winarno Tohir (berbaju batik) saat melihat pencetakan sawah di Merauke, Papua.

Mekanisasi
Untuk mengatasi berbagai permasalahan itu, Winarno melalui KTNA menyusun langkah-langkah strategis. Untuk mengatasi permasalahan sumber daya manusia, misalnya, KTNA mempersiapkan kader penyuluh swadaya yang ditempatkan hingga di tingkat desa di seluruh tanahair. Mereka mendapat pelatihan dari Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S).

“Tenaga penyuluh itu berperan memfasilitasi penyampaian informasi tentang kebijakan pemerintah dan transfer teknologi tepat guna kepada para petani,” ujarnya. Winarno juga menyarankan untuk mekanisasi agar produksi padi lebih efisien. Contohnya di Papua yang berhasil memproduksi padi dengan mekanisasi mulai dari penanaman hingga panen.

Menurut mantan ketua bidang organisasi, keanggotaan, dan kaderisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu, “Dengan mekanisasi ternyata mampu menurunkan harga pokok produksi (HPP) beras dari semula Rp7.300 per kg menjadi hanya Rp4.500.” Winarno menuturkan saat ini tenaga kerja petani memang masih dibutuhkan. “Namun, pada masa yang akan datang mekanisasi menjadi sebuah keharusan karena semakin sulitnya tenaga kerja di sektor pertanian,” katanya.

Cara lain dengan menerapkan konsep zero waste management, yakni pemanfaatan limbah padi. Winarno pernah melihat konsep itu di Tiongkok. Mereka memanfaatkan jerami padi menjadi papan partikel. Di Thailand sekam dimanfaatkan menjadi bahan bakar pembangkit listrik. “Abu hasil pembakaran mereka olah kembali menjadi bahan karbon untuk industri tinta fotokopi,” katanya.

Thailand dan Korea Selatan juga mengolah bekatul untuk menghasilkan minyak yang disebut rice bran oil. Di Vietnam, beras pecah diolah kembali menjadi tepung dan menjadi bahan baku mi beras. “Di Indonesia juga bisa menerapkan sistem itu secara terintegrasi. Dengan adanya nilai tambah dari limbah, saya sudah menghitung HPP beras turun menjadi Rp4.200 per kg,” katanya.

Menurut Winarno KTNA juga mendorong pemerintah untuk memberikan skema kredit kepada petani dengan sistem grace period. Dalam sistem itu petani mulai membayar cicilan pinjaman ketika mulai panen. “Saat ini baru juga tumbuh akar petani sudah harus membayar cicilan,” kata Winarno. KTNA juga terus berupaya meningkatkan pendapatan petani dengan memperbaiki tataniaga produk pertanian yang selama ini selalu bermasalah.

Baca juga:  Tingkatkan Produksi Cabai

Contohnya pada komoditas tomat dan cabai. Caranya dengan meningkatkan koordinasi penanaman antardaerah sentra. Winarno mengatakan KTNA juga membantu berbagai permasalahan petani, seperti ketersediaan air, hama dan penyakit, serta bencana alam. Setiap tiga tahun sekali KTNA juga menyelenggarakan Pekan Nasional Petani Nelayan (Penas).

Kegiatan itu menjadi etalase karya petani dan nelayan andalan di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan itu juga diberikan pelatihan kepada para petani. Dengan berbagai langkah itu, maka pantas bila Winarno tetap dipercaya sebagai Ketua Umum KTNA selama 4 periode. (Imam Wiguna)

Hemat Nasi ala Jepang

Masyarakat di Jepang menghemat konsumsi beras dengan konsumsi kerbohidrat nonnasi.

Masyarakat di Jepang menghemat konsumsi beras dengan konsumsi kerbohidrat nonnasi.

Ir Winarno Tohir memperkirakan pada 2016 para petani hanya mampu menanam padi satu musim tanam. Penyebabnya musim hujan pada 2015 terlambat dan kemarau yang lebih cepat, yakni pada April 2016. Dampaknya kekurangan pasokan padi. “Masyarakat sebaiknya menghemat konsumsi beras melalui diversifikasi pangan,” ujar pria yang pernah magang budidaya padi di Jepang selama 9 bulan itu.

Winarno menyarankan agar masyarakat Indonesia sebaiknya meniru kebiasaan warga Jepang yang hemat dalam konsumsi beras karena ketersediaan lahan untuk produksi padi sangat terbatas. “Orang Jepang kalau makan nasi harus benar-benar habis, tidak boleh bersisa,” ujarnya. Bahkan, saat selesai makan nasi, mereka biasanya menuang teh ke dalam cawan nasi untuk “membersihkan” remah nasi yang tersisa, lalu meminumnya.

Warga Jepang membatasi konsumsi nasi maksimal hanya 2 cawan sekali makan. Porsi makan sebanyak itu sebetulnya masih kurang. “Untuk mengganti kekurangannya mereka mengonsumsi sumber karbohidrat lain seperti ubi dan singkong, serta lauk yang banyak minimal 5—6 jenis makanan meski porsi masing-masing hanya sedikit,” kata pria yang hobi badminton itu.

Konsumsi nasi sebaiknya paling akhir ketika makan. “Mereka mendahulukan menyantap lauk pauk dan sumber karbohidrat lain, terakhir nasi. Dengan begitu konsumsi nasi sedikit pun sudah cukup mengenyangkan,” kata pria yang akrab dipanggil Win itu. Ia mengatakan budaya Jepang lain yang harus ditiru adalah kebiasaan jika bertamu pada saat makan siang.

Di sana sang tamu biasanya membawa makanan bekal sendiri atau kerap disebut bento. “Tuan rumah juga tidak pernah menyediakan makanan untuk menjamu tamu, kecuali tamu spesial,” ujarnya. Dengan begitu tamu tidak mengganggu stok pangan keluarga tuan rumah. (Imam Wiguna)

 

Ir. Winarno Tohir

Ir. Winarno Tohir

Nama lengkap:
Ir Winarno Tohir
Tempat Tanggal Lahir:
Indramayu, 5 Januari 1957
Pendidikan:
Sarjana Pertanian Institut Pertanian Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat
Karier:

  • Ketua Kelompoktani Sriunggul di Desa Sleman, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, 1982.
  • Peserta program pelatihan budidaya padi dan buah-buahan Asean Young Farmers Training Program di Jepang, 1988.
  • Ketua Unit Himpunan Supra Insus Kabupaten Indramayu.
  • Ketua bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), 2004—2009.
  • Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pusat, 1991—2001.
  • Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pusat, 2000—2005.
  • Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pusat, 2005—2010.
  • Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pusat, 2010—2015.
  • Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pusat, 2015—2020.
  • Dewan pakar Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi).Masyarakat di Jepang menghemat konsumsi beras dengan konsumsi kerbohidrat nonnasi.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d