Ir Wildan Mustofa MM: Sukses Hasilkan Kopi Premium 1
Ir Wildan Mustofa MM.

Ir Wildan Mustofa MM.

Baru tiga tahun menggeluti kopi, Ir Wildan Mustofa MM sukses menghasilkan kopi premium.

Frinsa, kopi produksi kebun Wildan, meraih juara ke-2 dalam Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI). Frinsa meraih 3 nilai sempurna dari 8 karakter yang dinilai, yaitu uniformity, clean cup, dan sweetness. Sementara parameter lain mendapat nilai 8, yaitu aroma, flavor, aftertaste, body, dan balance.

Nilai rata-rata yang diraih Frinsa adalah 8,5 sehingga tergolong kopi berkelas excellent alias sangat baik. Dengan nilai itu, Frinsa hanya sedikit di bawah kopi soematra koerintji yang menjadi pemenang pertama dan mengungguli Arabica Sindoro yang menjadi pemenang ketiga. Ketiganya menyisihkan 78 kopi peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil itu spektakuler lantaran Wildan menerjuni kopi semata lantaran pertimbangan bisnis.

Sebelumnya selama puluhan tahun, ia mengelola produksi bibit kentang di Pangalengan, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Dengan teknik kultur jaringan, ia mampu memproduksi 2-juta—3-juta bibit per tahun. Setelah bisnis itu stabil, alumnus Magister Manajemen Universitas Padjadjaran itu perlahan melepas peran lalu mencari bisnis lain pada 2011.

Ir Wildan Mustofa MM (kanan) dan Ir Atieq Mustikaningtyas SSi, sukses di kentang, kini beralih ke kopi.

Ir Wildan Mustofa MM (kanan) dan Ir Atieq Mustikaningtyas SSi, sukses di kentang, kini beralih ke kopi.

Densitas
Wildan menyeleksi beberapa komoditas, antara lain cengkih, kakao, karet, dan kopi. Parameter yang ia pertimbangkan adalah harga stabil, permintaan tinggi, dan cocok di ketinggian 1.200—1.400 m di atas permukaan laut. Hasilnya kopi paling memenuhi syarat. Namun, suami Ir Atieq Mustikaningtyas SSi itu langsung menemui kendala. Minimnya tenaga kerja pria—sebagian besar bekerja di luar daerah—membuat Wildan harus mendatangkan orang dari daerah lain atau memanfaatkan tenaga di kebun kentang dan teh.

Untuk menghemat biaya sewa lahan, ia bekerja sama dengan perkebunan pelat merah untuk menanami kopi di bawah tegakan tanaman produksi. Total penanaman saat ini berkisar 60—70 ha. Sebanyak 10 ha lahan pribadi miliknya, 30—40 ha berkongsi dengan teman dan kerabat, sedangkan 20—30 ha bermitra dengan masyarakat sekitar kebun untuk menampung hasil panen mereka.

Wildan membidik pasar premium sehingga menerapkan standar budidaya intensif di kebun miliknya dan petani mitra. Produksi kopi premium mesti mempertimbangkan berbagai faktor selama budidaya dan pascapanen. Perlakuan berbeda menghasilkan biji dengan fisik dan kualitas berbeda. Secara fisik biji kopi premium harus padat dan mempunyai ukuran serta kematangan seragam.

COVER 1.pdf“Biji padat menghasilkan kopi dengan densitas tinggi,” kata anak kedua dari 13 bersaudara itu. Wildan mengajari pekerja dan petani mitra untuk memetik kopi tua yang benar-benar merah di pohon. Saat panen buah langsung diseleksi antara yang padat dan ringan. Buah dengan bobot jenis kurang dari 700 gram menghasilkan kopi hampa atau hambar bila terlalu lama disimpan.

Untuk menghasilkan rasa terbaik, Wildan mencari keseimbangan rasa asam. Salah satu faktor penentu ialah lama penyimpanan. Bila kopi itu hasil panen terbaru—disebut present crop—mempunyai rasa jernih alias bright. Rasa asam lebih tajam, demikian pula pahitnya lebih pahit. Sementara rasa manis, asam, dan pahit biji dari musim sebelumnya—disebut past crop—menjadi datar.

Baca juga:  Ajwa Termahal

Densitas lebih ringan karena mengalami respirasi, sementara kandungan karbohidrat terpakai untuk pertumbuhan. Warna biji past crop memudar atau pucat. Wildan mencari keseimbangan semua rasa itu. “Terlalu asam tidak bagus, terlalu manis kurang enak. Pahit juga tidak bagus,” ujar ayah 4 anak itu. Namun, secara umum harga kopi present crop lebih tinggi daripada past crop karena lebih segar.

Menyiapkan bibit kopi unggul untuk dipakai sendiri dan mitra.

Menyiapkan bibit kopi unggul untuk dipakai sendiri dan mitra.

Melalui bendera perusahaan miliknya bernama PT Frinsa Agrolestari, ia menjual sekilogram kopi premium Rp80.000—Rp145.000/kg. Produksi tanaman belum maksimal lantaran tanaman baru belajar berbuah. Namun, produksi di tahun pertama panen tidak kurang dari 10 ton biji kering. Sebagian telah di pesan konsumen, dan sebagian menunggu lelang. Untuk memperoleh harga sesuai kualitas, Wildan memasarkan produk melalui lelang dan penjualan langsung ke kafe-kafe.

Genjah dan dalam
Untuk mendapatkan hasil sempurna, Wildan mengawasi langsung kedua kebunnya hingga di gudang. Setiap pukul 06.30—07.00 ia berangkat ke kebun di Gunung Riung dengan menempuh perjalanan selama 30—45 menit. Terlebih dahulu ia mampir di gudang untuk memantau aktivitas pekerja. Ada yang menjemur kopi, menyeleksi, dan mengawasi operator mesin.

Bekerja sama dengan perusahaan perkebunan untuk hemat biaya lahan.

Bekerja sama dengan perusahaan perkebunan untuk hemat biaya lahan.

Pukul 09.00, ia mengunjungi kebun yang berjarak 7 km dari Pangalengan. Di sana ia mengawasi pemupukan, pemangkasan, pengairan, dan kebersihan kebun. Wildan juga kerap berkeliling kebun dengan motor lintas medan untuk melihat kondisi tanaman dan menyarankan tindakan yang harus dilakukan kepada pekerja. Setelah siang, ia kembali ke rumah sembari mampir ke gudang. Bila mengunjungi kebun Sindangkerta, Cililin, yang berjarak 3—4 jam atau 60 km perjalanan, Wildan malah kerap menginap.

Penggemar olahraga berkuda, renang, dan aktivitas outdoor itu hanya menanam kopi dengan rasa dan produktivitas bagus. Ia menanam 10 varietas, antara lain lini S 795, P88, Catura de yellow, USDA, andungsari (dari Puslitkoka Jember), Typica, Sigararutang (Sumatera Utara), serta 3 varietas dari Timor Leste yaitu Kopyo, Bor bor, dan Hibrida de Timor. Sejauh ini jenis Sigararutang yang termasuk jenis genjah alias cepat berbuah menunjukkan produksi terbaik. Produksi ketika baru belajar berbuah pada tahun ke-2 tinggi.

Seleksi biji kopi sangat penting untuk menghasilkan kopi premium.

Seleksi biji kopi sangat penting untuk menghasilkan kopi premium.

“Nanti setelah beberapa tahun produksinya stabil,” kata Wildan. Sementara buah awal jenis timor sedikit karena tergolong jenis dalam yang lambat berbuah. Namun, setelah 2—3 kali panen, produksinya menyamai sigararutang. Ada juga typica, jenis lama yang enak dan produktif. Untuk memperoleh kopi premium, Wildan juga memperlakukan perlakuan pascapanen yang ketat.

Pertama buah dicuci bersih lalu dipulping, fermentasi, dicuci, dan dijemur lalu dimasukkan mesin pengupas untuk menghilangkan kulit dan daging buah. Setelah itu, biji kopi dijemur 7—10 hari untuk mencapai kadar air 12% (pull wash). Bisa pula penjemuran hanya 1—2 hari untuk mencapai kadar air 30%. Setelah itu diproses untuk membuang kulit (wet hulling) Saat itu biji kopi masih terlindung oleh cangkang keras sehingga pengaruh lingkungan tidak terlalu besar. Setelah kering, barulah cangkang dikupas. Aromanya lebih tajam, berbau aneka bunga atau jeruk lemon.

Hikmah Farm dikenal sebagai produsen bibit kentang terkemuka di Jawa Barat.

Hikmah Farm dikenal sebagai produsen bibit kentang terkemuka di Jawa Barat.

Untuk menimbulkan aroma, ia juga memfermentasi biji dengan menyimpan dalam boks, menambahkan probiotik, atau menyimpan dalam karung. “Rasa manis kopi berasal dari proses, bukan manis sukrosa,” ujar Wildan. Salah satu cara menghasilkan kopi dengan rasa manis adalah menjemur buah utuh dengan daging buah melekat.

Baca juga:  Pemanfaatan Kulit Kopi

Menurut Yusianto peneliti kopi di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember, Jawa Timur, faktor yang mempengaruhi citarasa kopi antara lain lokasi kebun, varietas, teknik budidaya, dan pengolahan. Pertumbuhan kopi arabika bagus kalau ditanam di kebun yang dekat gunung berapi atau bekas gunung berapi. Hal itulah yang dilakukan Wildan Mustofa. (Syah Angkasa)

Jurus Jitu Rawat Kopi

COVER 1.pdfPermasalahan utama perkebunan kopi ialah tenaga kerja. Sebab setengah pekerjaan, yaitu panen dan pascapanen, dikerjakan dalam 2 bulan dari waktu setahun masa produksi. Namun, biaya untuk proses selama 2 bulan itu mencapai separuh biaya total. Di luar musim produksi, kebun seluas 1—2 ha hanya diurus oleh 1 orang setiap hari. Begitu panen, kebutuhannya menjadi 5 orang untuk luasan sama.

Untungnya Wildan Mustofa dan saudara-saudaranya memperoleh kebun yang diwariskan dari orangtua mereka sehingga tenaga kerja untuk kopi berasal dari kebun itu. Wildan menanam rapat dengan jarak tanam 1 m x 2,5 m sehingga harus sering memangkas bentuk agar daun di dalam memperoleh sinar matahari. Ada 2 cara pemangkasan, yaitu pemangkasan bentuk dan pembuangan tunas air.

Ia juga menjaga tinggi tanaman tetap 1—1,5 m untuk mempermudah panen. Selain itu, semakin pendek tanaman, semakin irit energi untuk menaikkan hara dan air. Wildan hanya memelihara 1—2 batang utama. Saat batang menua, ia memangkasnya dan memelihara tunas baru untuk jadi bintang. Tahun kedua tunas baru yang telah jadi batang itu berbuah. Setelah panen selama 2—3 musim, buang lagi batang itu dan ganti.

Setiap 2 tahun, ia memangkas satu batang utama. Dengan cara itu, produksi tidak pernah kosong. Jumlah pohon sedikit, tetapi jumlah produksi per ha tetap banyak karena buah cenderung besar-besar. Keuntungan panen buah besar adalah hemat waktu dan tenaga kerja. Demi efisiensi, ia menugaskan tenaga kebun untuk melakukan pemangkasan tunas air sembari merompes bunga yang muncul terlalu awal.

Sebaliknya pada masa produksi, bunga yang sudah jadi jangan sampai gagal jadi buah. Untuk itu Wildan melakukan pengairan. Pohon pun diperkuat dengan pemupukan. Dengan jurus-jurus jitu itu, ia sukses memperoleh kopi premium. (Syah Angkasa)

COVER 1.pdfNama Lengkap:
Ir. Wildan Mustofa MM

Tempat Tanggal Lahir:
Bandung,
24 Desember 1967

Pendidikan:
S1 : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
S2: Magister Manajemen, Universitas Padjadjaran

Nama Istri:
Ir Atieq Mustikaningtyas SSi

Karier:
1. Komisaris Hikmah Farm
2. Direktur PT Frinsa AgriLestari
3. Komisaris CV Hortitek
4. Komisaris CV Hortimart
5. Nara Sumber pada berbagai Media Massa, Trubus, Agrina, Kompas.
6. Menjadi Rujukan/Kunjungan kerja Menteri Pertanian

Prestasi:
2008: Merilis varietas DEA dan Nadia, sebagai varietas unggul nasional.
2014: Juara II, kontes kopi spesialti Indonesia (Cupping ke-6) yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments