Ir Susanto Wijaya : Sulap Rumah Jadi Kebun 1
Ir Susanto Wijaya memanen buah segar dari kebun di rumah.

Ir Susanto Wijaya memanen buah segar dari kebun di rumah.

Deretan rumah disulap menjadi kebun buah seluas 1 ha.

Susanto Wijaya membeli satu per satu rumah tetangganya. Ada yang mau dibayar dengan uang tunai, ada juga yang meminta rumah pengganti. Proses pembelian rumah itu sempat terhambat lantaran beberapa orang menjual dengan harga terlalu mahal atau meminta rumah pengganti melebihi nilai rumahnya. Melalui pendekatan personal, satu per satu tetangga Susanto luluh.

Dalam lima tahun 28 rumah di atas lahan 1 ha itu berpindah tangan. Susanto bukan hendak membangun kos-kosan atau kontrakan. Ia justru merobohkan semua rumah itu pada 2013. Hunian itu rata dengan tanah, termasuk pondasinya. Jika orang lain mengubah kebun menjadi rumah, Susanto justru sebaliknya. Di atas lahan itu ia melampiaskan hobinya bercocok tanam.

Restoran Rumah Kayu, tempat berkumpul tujuh bersaudara.

Restoran Rumah Kayu, tempat berkumpul tujuh bersaudara.

Tabulampot
Ia mengincar lokasi hunian itu karena terletak persis di samping rumah. Konsekuensinya biaya investasi menjadi lebih tinggi, mencapai Rp5-miliar. Padahal, jika membeli lahan di luar kota ia berpeluang memperoleh tanah lebih luas dengan harga sama. Di kebun yang kini berumur dua tahun itu Susanto menanam beragam tanaman buah dalam pot atau tabulampot. Pria 47 tahun itu membudidayakan antara lain belimbing, jabotikaba, jambu jamaika, jambu kristal, mangga, dan sawo di pot berdiameter 50 cm.

Ia meletakkan pot berjarak 3 meter agar tajuk antarpohon tak bersinggungan. Total jenderal ia mengelola hampir 500 tanaman buah berbagai jenis. Susanto membudidayakan beragam tanaman di pot, bukan di tanah langsung, karena perawatan lebih mudah. Beberapa pohon antara lain sawo jumbo, belimbing, dan mangga tengah berbuah. Sekitar 5 buah mangga namdokmai menggelayuti pohon Mangifera indica setinggi 2,5 meter.

Perawatan kebun menjadi tugas pegawai andalan.

Perawatan kebun menjadi tugas pegawai andalan.

Buahnya relatif besar, panjang 20 cm. Susanto memperoleh tanaman yang kini berumur sekitar 3 tahun itu dari toko Trubus pada 2013. Sementara sawo jumbo Achras zapota juga menggelayuti pohon setinggi 2,5 meter. Disebut jumbo karena buah anggota famili Sapotaceae itu memang berukuran besar, bobot hingga 1 kg per buah. Ketika beragam tanaman berbuah itulah panorama paling menyenangkan bagi anak ke-6 dari 7 bersaudara itu.

Baca juga:  Tetap Hitam

Pria kelahiran 1968 itu memandang tak puas-puasnya. Ia mengamati perkembangan buah sejak tanaman berbunga, membentuk pentil, terus berkembang hingga menjadi buah siap santap. Menyaksikan beragam tanaman berbuah merupakan kepuasan yang tak dapat tergantikan meski Susanto memercayakan perawatan kebun kepada dua orang andalannya. Setiap hari mereka membersihkan daun yang jatuh, memangkas ranting tak produktif, dan membungkus buah. Penambahan media tanam dan pupuk juga menjadi tugas mereka.

Kebun buah seluas 1 ha di kediaman Santo.

Kebun buah seluas 1 ha di kediaman Santo.

Sejak belia
Selain buah, Santo juga menanam sayuran seperti cabai dan labu parang Cucurbita moschata. Kegemaran berkebun muncul sejak Santo duduk di bangku SMP. Saat itu ia bertani sayur untuk membiayai sekolahnya. Ia terlahir di keluarga amat sederhana. Kedua orangtuanya hanya mampu membiayai sekolah Santo bersaudara sampai lulus Sekolah Dasar. Selanjutnya orangtua menitipkan anak-anak itu kepada saudara di kota lain atau berusaha sendiri untuk membiayai sekolah masing-masing.

Santo memilih bertani sayuran di lahan milik saudara. Ia juga membantu merawat ternak ayam kampung kepunyaan sang saudara untuk memperoleh kotoran untuk memupuk sayuran. Tubuh kurus kecilnya setiap hari memikul dua jeriken besar untuk mengambil air dari sungai. “Pundak saya lecet sampai menebal karena bambu pikulan,” kata Susanto mengenang.

Saat panen Santo berkeliling dengan sepeda dari pintu ke pintu untuk menjajakan sayurannya. Usai menamatkan sarjana di Jurusan Teknik Elektro Universitas Tridinanti, Palembang, Sumatera Selatan, Santo bekerja di sebuah kontraktor di Jakarta. Dua tahun berselang, pada 1992, ia keluar dan pindah ke Bandarlampung. Bersama kakak kandungnya, ia membuka toko alat listrik.

Tabungan selama bekerja ia belikan motor untuk operasional. Malang tak dapat ditolak, 3 bulan kemudian motor itu malah dicuri orang. Selama 2 tahun ia jungkir balik sampai mendapat proyek pertama. Sayang, Santo kekurangan modal. Bermodal hubungan baik, ia minta tolong kepada atasannya sewaktu di Jakarta. Sang atasan memercayai Santo sepenuhnya dan meminjamkan uang miliaran.

Tabulampot jambu kristal di kebun.

Tabulampot jambu kristal di kebun.

Sejak itu keberuntungan menjadi miliknya. Proyek, kontrak, dan kerja sama mengalir silih berganti. Pada 2006 ia membuka restoran Rumah Kayu untuk usaha bersama ketujuh bersaudara itu. Angin keberuntungan tetap meniupnya sehingga Rumah Kayu kini membuka cabang di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dan Ancol, Jakarta Utara.

Baca juga:  Tren Berkebun Lemon

Di sela-sela bisnis yang dibangun, Susanto tidak melupakan hobinya bercocok tanam.
Kenyang memanen kegetiran hidup di masa muda, kini ia memetik buah segar dari pekarangan rumah. Ia baru saja memetik 20 buah jambu kristal matang. “Ini hasil kebun,” katanya sembari menyodorkan potongan buah Psidium guajava nan ranum. Selain tabulampot, ia juga menanam dua pohon kelapa hijau dan gading setinggi 2,5 m yang sarat buah. Santo memetik 2 buah, mengupas, dan mempersilakan Trubus menikmatinya.

Teriknya Kota Bandarlampung di tengah hari sirna oleh kesegaran air kelapa itu. Susanto mengelola beragam tanaman buah memang sekadar hobi bercocok tanam sekaligus untuk menjamu para tamu yang hadir di rumahnya yang terletak di sebelah kebun. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *