Puding berbahan bunga edible.

Puding berbahan bunga edible.

Sebelum terjun memproduksi tanaman bunga, Eva Lasti Apriani Madarona sejatinya aktif memproduksi aneka jenis sayuran hidroponik sejak 2013. Ia rutin memasok aneka sayuran untuk konsumen di Kota Bandung dan Jakarta. “Biasanya saya memasok untuk konsumen yang memesan langsung dan para produsen perangkat hidroponik yang memesan untuk keperluan display,” ujar petani muda itu.

Namun, seiring dengan tren hidroponik yang begitu pesat di tanah air, produk sayuran hidroponik pun makin berlimpah di pasaran. Para pehobi pun terus bertambah sehingga mereka bisa memproduksi sayuran hidroponik sendiri tanpa harus membeli. Oleh sebab itu, Eva memanfaatkan peluang tren hidroponik dengan lebih fokus menyediakan perangkat hidroponik dan nutrisi.

Untuk perangkat hidroponik, ia melakukan inovasi dengan mendatangkan guli atau talang khusus hidroponik berpenampang melintang berbentuk trapesium dari luar negeri. Berdasarkan pengalaman Eva, guli trapesium lebih unggul. Guli terbuat dari bahan yang food grade sehingga aman bagi tanaman, terutama jenis sayuran yang dikonsumsi segar seperti selada. Keunggulan lain kualitas bahan lebih awet. “Bisa tahan hingga 10 tahun,” ujarnya.

Meski desain guli trapesium tertutup, tapi mudah dibersihkan. Cukup semprot dengan larutan pemutih atau klorin. Inovasi lain, memilih komoditas baru yang belum banyak dibudidayakan para pelaku hidroponik di tanah air, yaitu bunga edible. “Masih banyak inovasi yang bisa dikembangkan dari bunga edible. Selain variasi jenis dan warna, saya juga sedang melakukan inovasi pemanfaatan bunga sebagai bahan baku olahan. Yang sudah saya coba untuk penghias puding,” tutur pemilik perusahaan Ijo Hydro itu. (Imam Wiguna)

Tags: bunga edible, inovasi utama

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d