Cabai komoditas strategis karena dapat mempengaruhi tingkat inflasi ketika harga tinggi.

Cabai komoditas strategis karena dapat mempengaruhi tingkat inflasi ketika harga tinggi.

Harga cabai naik-turun. Dua inovasi, pengendalian penyakit dan irigasi hemat air diharapkan meredam gejolak harga.

Cabai merah komoditas sayuran strategis yang mempengaruhi inflasi. Fluktuasi harga terjadi hampir setiap tahun akibat hukum pasar. Harga cabai meroket lantaran pasokan kurang dari permintaan konsumen dan sebaliknya. Menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) Kementerian Pertanian, pada 2016 kebutuhan cabai untuk kota besar berpenduduk satu juta orang sekitar 800.000 ton per tahun atau 66.000 ton per bulan.

Pada musim hajatan atau hari besar keagamaan, kebutuhan cabai meningkat 10—20% dari kebutuhan normal. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan diperlukan luas panen sekitar 11.000 ha per bulan. Adapun pada musim hajatan dan hari besar luas area panen berkisar antara 12.100—13.300 ha per bulan. Belum lagi kebutuhan cabai untuk masyarakat pedesaan atau kota-kota kecil serta untuk bahan baku olahan.

Iklim
Menurut Kepala Pusdatin, Dr. Ir. Suwandi, M.Si., kondisi iklim mempengaruhi produksi cabai. Pada saat musim hujan pasokan cabai cenderung turun karena tanaman rawan terkena penyakit. Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc. Agr. dari Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB), menyatakan salah satu penyakit yang menyerang cabai pada musim hujan antraknosa Colletotrichum sp.

“Cendawan fitopatogen berkembang pada musim hujan dengan suhu yang hangat,” ujarnya. Kini gejala serangannya pun semakin berat. Antraknosa cabai tidak hanya menimbulkan busuk pada buah, tetapi juga mati ranting. Namun, saat kemarau bukan jaminan pasokan cabai melimpah. Pasalnya, di beberapa sentra, produksi justru berhenti karena kekeringan. Contohnya sentra di Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Pengendalian hama dan penyakit secara intensif diharapkan dapat mempertahankan produksi cabai saat musim hujan.

Pengendalian hama dan penyakit secara intensif diharapkan dapat mempertahankan produksi cabai saat musim hujan.

Pekebun di sana berhenti menanam cabai karena jumlah air terbatas. Pasokan cabai di sana justru melimpah saat musim hujan karena para pekebun beramai-ramai menanam Capsicum annum. Saat kemarau juga berisiko terjadi ledakan hama. Menurut Suryo salah satu hama yang kerap menyerang saat kemarau adalah Thrips sp.

Suwandi menyatakan gejolak harga cabai dapat diatasi jika luas tanam pada musim hujan meningkat dan dilakukan pengaturan luas tanam dan produksi saat kemarau. Itulah sebabnya pekebun cabai di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sujiono, menerapkan pengendalian hama dan penyakit secara intensif. Untuk mencegah serangan hama dan penyakit, ia menggunakan setidaknya 4 jenis fungisida dan 3 jenis insektisida berbahan aktif berbeda.

Baca juga:  Mereka Terpincut Kavi

Sujiono sukses memanen 18% lebih tinggi dibandingkan dengan hasil panen para pekebun lain yang memberi perlindungan standar dengan asupan nutrisi sama (baca: Proteksi Cabai Seumur Hidup halaman 40—43). Pada acara Gelar Teknologi di Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani dan Nelayan Andalan 2017 di Kota Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Kementerian Pertanian memamerkan aneka jenis varietas cabai unggul dari berbagai produsen benih nasional.

Penanaman berbagai jenis varietas cabai itu menggunakan teknologi irigasi otomatis. Teknik irigasi itu menyedot air dari parit yang dibendung menggunakan pompa. Pompa beroperasi secara otomatis karena dilengkapi alat pengatur waktu. Untuk mengalirkan air ke tanaman, Kementerian Pertanian merancang 3 model irigasi, yaitu model regulating stick, irigasi tetes (streamline), dan spray jet (baca: Irigasi Tetes, Penyelamat Saat Kemarau, halaman 64—65). Dengan kedua teknologi diharapkan tak perlu lagi risau harga cabai menanjak. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d