Eka Budianta*

Eka Budianta*

Dari bandara Tampa Padang sampai jantung kota Mamuju, Sulawesi Barat, tampak warna-warni bunga bugenvil, helikonia, kembang sepatu Hibiscus rosachinensis, kana, batavia, dan sedikit alamanda. “Apakah banyak toko bunga di Provinsi Sulawesi Barat ini?” Belum kelihatan. Yang dominan warga menanam bunga sendiri di halaman. Terutama bermacam daun hias, termasuk sri rejeki.

Pemandangan itu persis di zaman saya masih kecil. Dahlia, gladiol, bakung, bahkan kantung semar dan anggrek bulan. Bunga desember pun terkadang mekar merona pada musim hujan. Sementara itu, penjual bunga baru sebatas untuk kepentingan ziarah. Mawar, melati, cempaka, dan irisan daun pandan. Tanpa menanam sendiri, mana bisa kami memasang gladiol dan leli tiap minggu di gereja?

Hari Bunga
Sekarang cukup telepon. Catleya paling bagus pun dapat dipesan dengan kurir dan diantar sampai tempat. Padahal dulu sampai harus dibawa sembunyi-sembunyi di balik baju. Industri dan bisnis bunga adalah indikator kemakmuran daerah. Lihat saja di Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, beragam anggrek dendrobium menyambut ribuan orang berfoto selfi di Bandara Hasanuddin. Mufidah Kalla, istri wakil presiden membuka Rumah Krisan di Malino. Sulawesi Selatan memang berbeda.

Sementara di Sulawesi Barat, semuanya masih tampak alami. Padahal Majene, Mandar, Mamuju, Mamasa, mestinya bisa juga berbisnis bunga. Desa-desa di sekitar Candi Borobudur sudah mulai sejak 1970-an. Tokohnya, Marsekal Madya Boedihardjo mengajar masyarakat bertanam bunga. Waktu itu setangkai anggrek dendrobium baru dihargai Rp25. Kalau satu hari bisa stor 40 kuntum, dapat seribu rupiah.

Sudah cukup untuk beli minyak goreng dan bumbu dapur. Sekarang, angkanya berubah. Bunga andalannya pun bukan lagi anggrek potong, tapi seruni atau bunga krisan. “Kalau satu kuntum bunga dibeli Rp5.000 dengan seribu kuntum sebulan, seorang petani berpenghasilan Rp5 juta,” kata wakil gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu’mang, pada 2015. Waktu itu Ibu Negara, Iriana Widodo, datang ke Malino untuk membuka rumah bunga krisan.

Hebatnya, dua tahun berikutnya, belasan petani bunga dari Sulawesi datang ke Jakarta untuk mendukung pencanangan Hari Florikultur Indonesia. Pagi itu Senin 24 Juli 2017. “Setengah enam kita sudah di jalan ya,” pesan whatsapp Karen Tambayong. Benar, sebelum pukul 08.00 kami sudah berkumpul di kantor Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution. Bukan hanya menterinya yang sudah siap, juga belasan ibu petani bunga dari Malino, Sulawesi Selatan dan Tomohon, Sulawesi Utara. Semua setuju Indonesia punya Hari Florikultur Nasional.

Baca juga:  Pesta Perak Panah Merah

“Indonesia harusnya dapat ikut berpartisipasi dalam pasar internasional florikultura. Kita seharusnya dapat mengejar kemajuan dari pemain regional maupun pemain besar di dunia seperti Kenya, Kolombia, Ekuador, dan Ethiopia,” kata Darmin. “Jadi dengan ditetapkan Hari Florikultura Indonesia, saya harapkan dapat menjadi perekat nasional florikultura, yang saat ini sudah berkembang secara masing-masing di provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.”

Produksi naik
Acara itu berlangsung meriah dan berkesan. Karen Tambayong menjadi narasumber kunci. Ia membuka hati dan pikiran para penangkar, pebisnis, dan akademisi perbungaan. “Pasar bunga dunia bukan hanya untuk Belanda dan Eropa,” katanya. “Ethiopia dan Kenya di Afrika; Ekuador dan Kolumbia di Amerika Latin mulai diperhitungkan. Di Asia, India dan Thailand sudah bergerak. Florikultur semakin berperan dalam ekonomi negara-negara khatulistiwa.”

Eksportir bunga terbesar dunia memang masih didominasi Belanda yang melebihi US$20 miliar atau hampir Rp300 triliun setiap tahun. Namun, Kolumbia sudah merangsek maju ke bilangan US$600 juta. Pemain di Asia sudah meningkat pula dari angka 150 juta dolar per tahun. Harus dicatat, anggaran belanja perkapita bunga masih terus berkembang. Konsumsi bunga pun semakin membaik.

Sebagai gambaran, di Amerika Serikat pada 1970-an tiap orang menghabiskan 7 kuntum per tahun. Angkanya meningkat menjadi 12 kuntum pada 1993, tetapi setelah tahun 2000 turun menjadi 9 kuntum. Sekarang, pasar bunga terbesar masih dikuasai Amerika dengan total perdagangan mencapai US$12,5 miliar. Jepang di urutan kedua dengan nilai US$5,45 miliar sebagaimana dilaporkan oleh Majalah Floriculture.

Yang menarik, India berkembang dengan laju 25% setiap tahun dan kini mencapai US$230 juta dolar. Secara konstan, sejak 2010 pasar kembang di seluruh dunia naik 15% setiap tahun. Seperti yang kita dengar, Ethiopia pun mulai maju. Produksinya melonjak dari 650 juta kuntum pada 2010, kini telah menembus satu miliar kuntum. Dalam diskusi diungkapkan meningkatnya ekspor florikultura Thailand, Malaysia, Australia, Israel, Selandia Baru, dan Afrika Selatan.

Produksi floral dunia diperkirakan mencapai US$ 55 miliar per tahun. Pertanyaan praktis kita tentunya: berapakah potensi pasar dan produksi bunga di tanah air ini? Dapatkah industri bunga mengubur kemiskinan? Kemungkinan bisa. Ambil contoh Tegal, Provinsi Jawa Tengah, yang sejak 2002 melakukan intensifikasi ekspor melati. Kabupaten Tegal merupakan salah satu sentra produksi bunga melati di Jawa Tengah dengan luas lahan panen mencapai 371,3 hektare.

Baca juga:  Dongkrak Mutu Minyak Terbang

Melati Tegal
Pada 2013 produksi bunga melati Tegal mencapai 9.456 ton yang dihasilkan dari tiga kecamatan yakni Kecamatan Keramat, Warureja, dan Kecamatan Suradadi. Ekspor bunga melati Tegal dimulai sejak 2002 dengan volume yang terus meningkat. Pada 2013, volume ekspor dari Kabupaten Tegal mencapai 3—4 ton per hari, bahkan pada hari-hari besar keagamaan dapat mencapai 10 ton per hari.

Pengusaha florikultura, Karen Tambayong, mengutarakan pasar bunga dunia kian luas bukan hanya untuk negara-negara Eropa. Negara-negara di Afrika dan Amerika juga memerlukannya.

Pengusaha florikultura, Karen Tambayong, mengutarakan pasar bunga dunia kian luas bukan hanya untuk negara-negara Eropa. Negara-negara di Afrika dan Amerika juga memerlukannya.

Pantaslah Menteri Pertanian 2009—2014, Suswono, melepas ekspor melati Tegal ke Thailand, Singapura, dan Malaysia. Para petani bunga melati makin bersemangat di kabupaten yang dipimpin oleh dalang terkenal, Enthus Susmono itu. Dua kabupaten lain di Jawa Tengah yang merupakan sentra melati adalah Pemalang dan Purbalingga. Di daerah yang terkenal terik dengan matahari, bunga melati tumbuh dengan sangat baik.

Terlebih bila selalu ada hujan antara 6—9 hari dalam sebulan. Melati cocok di kawasan yang hanya 3 bulan kering dan 6 bulan basah dalam setahun. Dari 200 jenis melati yang ada di dunia, baru 8 atau 9 macam yang dibudidayakan dengan skala industri besar. Negara penghasil melati adalah Italia, dengan produk melati casablanca yang dijadikan bahan parfum. Melati putih kita Jasminum sambac, sudah dikembangkan di Inggris sejak 1665 setelah diperkenalkan oleh Duke Casimo de’Meici.

Di Indonesia nama melati dikenal oleh masyarakat di seluruh wilayah Nusantara. Nama-nama daerah untuk melati adalah menuh (Bali), meulu cut atau meulu cina (Aceh), menyuru (Banda), melur (Gayo dan Batak Karo), manduru (Manado), mundu (Bima dan Sumbawa), dan manyora (Timor), serta malete (Madura). Artinya apa? Sebetulnya setiap daerah Indonesia punya melati dan bisa mengembangkannya.

Seperti krisan, bunga melati yang banyak diminati umum karena bisa dipakai untuk suasana duka, bahagia, maupun biasa-biasa saja. Dalam hal industrialisasi bunga kita belum membahas potensi dan kebutuhan kenanga, cempaka, mawar, maupun ragam bunga hias hidup seperti adenium, kaktus, lidah mertua, serta bermacam sri rejeki.***


*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktifis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang. 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d