Imam Prasodjo Membina Lingkungan 1
Kebun buah naga untuk membiayai operasional saung sehat.

Kebun buah naga untuk membiayai operasional saung sehat.

Cara Imam Prasodjo melestarikan lingkungan dengan melibatkan masyarakat setempat.

Lahan seluas 1.600 m2 itu menguning pada Februari. Masyarakat siap menuai padi ketika itu. Ketersediaan air yang terbatas menyebabkan petani hanya menanam padi sekali setahun. Saat kemarau persediaan air menipis. Jangankan untuk pengairan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun masyarakat susah-payah mendapatkan air. Sejak 2013 tempat itu tidak lagi menguning, tapi menghijau hampir sepanjang tahun.

Musababnya warga Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengubah lahan menjadi kebun sayuran. Pengelolaan kebun dikerjakan masyarakat setempat dan dibantu tenaga ahli lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), Gilang Pradika. Gilang dan warga membudidayakan aneka sayuran seperti bayam, kangkung, pakcoy, kacang panjang, buncis, jagung, dan tomat.

Rombongan Indonesian Diaspora Foundation berkontribusi meringankan kesulitan hidup masyarakat Desa Cisarua dan Desa Pasanggrahan, Purwakarta, Jawa Barat.

Rombongan Indonesian Diaspora Foundation berkontribusi meringankan kesulitan hidup masyarakat Desa Cisarua dan Desa Pasanggrahan, Purwakarta, Jawa Barat.

Bikin bendungan
Suhaeli, warga Desa Cisarua, mengatakan terbentuknya kebun sayuran untuk memenuhi kebutuhan gizi warga, terutama anak-anak. Hasil penelitian mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, menunjukkan anak-anak kekurangan gizi sayuran.

Andil sosiolog dan tokoh nasional Imam B Prasodjo dan tim dari Yayasan Nurani Dunia sangat menonjol dalam membidani lahirnya kebun sayuran di desa itu. Menurut Imam masyarakat mesti ke pasar yang jauh dari desa untuk mendapatkan sayuran.

Imam menyebut kebun sayuran itu kebun ilmu. Warga dipersilakan datang ke kebun untuk belajar cara bercocok tanam sayuran yang benar. Di depan kebun Imam membikin bangunan berlantai dua yang dinamakan rumah kebun ilmu.

Selain itu terdapat perpustakaan berisi buku-buku cara bertani dan tema lainnya. Ada kebun berarti harus sedia air untuk penyiraman. Imam lantas membeli lahan yang di dalamnya terdapat mata air. Ia dan warga bergotong royong membangun bendungan, membuat bak-bak air hingga memasang pipa hingga ke rumah warga. Kini masyarakat pun
menikmati air bersih untuk berbagai keperluan seperti untuk air minum, mandi, dan mencuci. “Terdapat sekitar 350 kepala keluarga di Desa Pesanggrahan yang mendapat pasokan air bersih,” kata Suhaeli.

Gunung Parang yang indah terancam tambang.

Gunung Parang yang indah terancam tambang.

Agar kebutuhan gizi masyarakat desa semakin lengkap, Imam dan tim mengembangkan kebun buah naga di Desa Cisarua pada awal 2015. Terdapat 200 tiang beton berjarak 2,5 m x 3 m di lahan 600 m2. Setiap tiang terdapat 4 sulur buah naga. Menurut Suhaeli—salah satu pengelola kebun—ada 2 jenis buah naga yang ditanam, yakni berdaging buah merah dan putih.

Baca juga:  Khasiat Besar Cincau Hijau

Imam mengirim Suhaeli untuk belajar membudidayakan dragon fruit kepada Gun Soetopo di Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. “Budidaya buah naga ini masih tahap pembelajaran,” kata Oeng, sapaan akrab Suhaeli. Panen perdana bisa dilakukan setahun setelah penanaman. Sebelumnya pada 2014 Imam membangun saung sehat berdekatan dengan kebun buah naga sekarang.

 Imam B Prasodjo melibatkan masyarakat setempat untuk membangun desa.

Imam B Prasodjo melibatkan masyarakat setempat untuk membangun desa.

Dana donatur
Saung sehat juga lahir karena status gizi anak-anak di sekolah dasar negeri (SDN) 1 dan SDN 2 Pasanggrahan yang kurang memadai. Untuk mengatasi itu anak-anak mendapat makanan bergizi 3 kali sepekan. Sayangnya program itu hanya berjalan 4 bulan. Padahal, pemberian makanan sehat harus terus dilakukan. Begitu pun dengan pencegahan
kuratif. “Oleh karena itu perlu dibangun pusat kegiatan kesehatan yang disebut saung sehat,” kata Imam.

Dana pengembangan kebun dan saung ilmu, saung sehat, dan kebun buah naga, serta penyaluran air bersih berasal dari para donatur. Baik lembaga pemerintah ataupun pihak swasta. Donatur memberikan dana ke Yayasan Nurani Dunia pimpinan Imam. Selanjutnya pengelolaan dana diserahkan kepada Yayasan Pena Hijau yang diketuai Oeng. Saat ini terdapat 15 anggota Pena Hijau.

“Misi Pena Hijau melaksanakan kegiatan yang bersifat sosial dan kemanusiaan,” kata Oeng yang juga menjabat Pengawas untuk SD itu. Tidak jarang Imam mengajak donatur langsung ke Desa Cisarua dan Desa Pesanggrahan untuk melihat langsung kondisi masyarakat. Pada Agustus 2015 kedua desa itu kedatangan rombogan tamu spesial
dari luar negeri. Mereka adalah diaspora, warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di mancanegara.

Kebun pemasok sayuran untuk warga di Desa Cisarua, Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat.

Kebun pemasok sayuran untuk warga di Desa Cisarua, Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat.

Kunjungan ke Purwakarta salah satu rangkaian acara Kongres Diaspora Indonesia ke-3 di Jakarta. Di kedua desa itu para warga diaspora yang mayoritas tinggal di Amerika Serikat itu melakukan filantropi. “Acara meliputi pembagian sembako, penyuluhan bagi ibu hamil, pembagian buku, dan penyerahan bibit pepaya,” kata Imam. Pada
kesempatan itu ia juga mengajak warga Indonesia yang tinggal di mancanegara untuk mengampanyekan pelestarian Gunung Parang. “Gunung itu sangat indah tapi terancam ditambang batunya,” kata alumnus Brown University, Rhode Island, Amerika Serikat, itu. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Imam Wiguna)

Baca juga:  Janin

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *