Ekspor ikan hias Indonesia menduduki peringkat 4 dunia

Ekspor ikan hias Indonesia menduduki peringkat 4 dunia

Laba perniagaan ikan hias di semua segmen menggiurkan. Banyak yang berhasil, ada pula yang gagal.

Seribu kotak kaca bagi Drs Didi Supendi adalah napas kehidupannya. Dari akuarium-akuarium itulah peternak di Tambun, Bekasi, Provinsi Jawa Barat, mendulang laba hasil penjualan ikan hias pelangi Melanotaenia sp. Setiap bulan, Sarjana Pendidikan alumnus Universitas Negeri Jakarta itu memasok 10.000—15.000 ekor ikan pelangi kepada eksportir di Jakarta.

Didi yang mempekerjakan 3 karyawan itu mengatakan harga seekor ikan pelangi berukuran seragam 4—5 cm, berwarna cerah, dan sehat berkisar Rp500—Rp2.500. Kecil? Secara akumulasi omzet Didi hasil perniagaan ikan pelangi minimal Rp5-juta—Rp7,5-juta per bulan. “Kalau harga bagus, otomatis ‘gaji’ saya juga naik. Jumlahnya bisa melebihi orang kantoran,” ujar Didi yakin.

Ikan hias air tawar mempunyai peluang besar

Ikan hias air tawar mempunyai peluang besar

Hasil budidaya
Didi Supendi berpeluang meningkatkan laba andai saja mampu memenuhi tingginya permintaan. “Saya hanya bisa melayani 2 eksportir dan terpaksa menolak eksportir lain. Seandainya produksi saya tambah menjadi 50.000 ikan pun tetap kurang, apalagi di Jakarta dan sekitarnya ada banyak eksportir,” kata Didi Supendi.

Harus dicatat, peternak 51 tahun itu bukan hanya menangkarkan ikan pelangi asal Papua. Ayah 4 anak itu mengelola belasan jenis ikan penghias akuarium. Sekadar menyebut beberapa contoh ada manvis, black ghost, dan koridoras. Didi mengatakan total pasokan ikan hias mencapai 16.000—25.000 per bulan. Kiriman ikan pelangi mendominasi 60—70%. Keruan saja omzet Didi kian membubung dan benar melebihi gaji orang kantoran.

Melanotaenia kurumoi, jenis rainbow fish teranyar

Melanotaenia kurumoi, jenis rainbow fish teranyar

Ikan pelangi alias rainbow fish menjadi andalan Didi lantaran pasar dan harganya cenderung ajek. “Budidaya relatif mudah dan cocok dengan kondisi air di sini,” ujar Didi. Ia menernakkan berbagai jenis ikan pelangi, antara lain bosmani Melanotaenia boesemani, prikok M. praecox, dan makulosi M. maccullochi. Jenis lama yang lebih dulu populer seperti rainbow merah Glossolepis incisus atau biru Melanotaenia lacustris pun ia budidaya.

Faisal Hasan, eksportir ikan hias di Kota Bekasi, menyatakan ikan pelangi yang tergolong ikan asli Indonesia digandrungi pembeli dari Eropa dan Amerika Serikat. Musababnya, tipe pembeli di sana menyukai ikan kecil yang gemerlap dan terkesan ramai, seperti ikan pelangi maupun tetra. “Kalau pembeli Asia timur seperti Jepang, Tiongkok, atau Korea menyukai ikan besar berwarna unik, seperti siklid atau diskus,” ujar Faisal.

Malvish

Malvish

Namun, menurut Keli, peternak dan pemasok ikan hias di Ciketing, Bekasi, pembeli ikan pelangi sejatinya berasal dari seluruh dunia. Masalahnya permintaan jauh melebihi pasokan. “Kalau ikannya ada pasti laku,” tutur Keli yang memasok beberapa eksportir. Pernyataan Keli senada pengalaman Didi. Semua jenis laku, tetapi yang relatif baru seperti bosmani, makulosi, atau prikok harganya sedikit lebih mahal, terpaut lebih tinggi Rp200 per ikan.

Periset di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH) Depok, Nur Hidayat MSi, menyatakan semula ikan pelangi mengandalkan hasil tangkapan alam. Namun, ketika permintaan meningkat ternyata ikannya justru kian langka. Penyebabnya, daya dukung habitat di Papua juga semakin rendah akibat aktivitas manusia. Apalagi menurut Dr Kadarusman sejatinya di alam pun habitat ikan pelangi terbilang sempit.

“Ikan itu bukan perenang kuat sehingga memerlukan cekungan yang terbentuk di celah batu atau tanaman air,” kata peneliti ikan pelangi dari Akademi Perikanan Sorong (APSOR), Papua Barat, itu. Untunglah para periset di Balai Budidaya Ikan Hias Depok mampu membudidayakan ikan pelangi di luar habitat (baca: “Jangan Sirna Keelokan Bianglala” halaman 22—23).

black ghost

black ghost

Tren ikan hias
Dua tahun terakhir bisnis ikan hias tanah air memang kembali gegap gempita. Para peternak baru bermunculan di berbagai sentra. Mereka beternak ikan hias karena pasar terbuka lebar sepanjang mampu memenuhi standar mutu. Beternak ikan hias juga tak memerlukan lahan luas, 60—100 m2 cukup memadai. Apalagi terdapat beragam segmen budidaya, seperti penangkaran, pembesaran, atau pemasok.

Baca juga:  Bisnis Sayuran di Jagat Maya

Menurut Ketua Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI), Maxdeyul Sola MBA, ikan hias dapat menjadi solusi peningkatan pendapatan masyarakat menengah bawah yang selama ini menjadi buruh migran alias TKI. “Dapat dilakukan di lahan sempit, waktu pengusahaan singkat, hasilnya pun memuaskan. Yang dibutuhkan hanya ketekunan dan ketelatenan,” tutur Sola kepada Trubus dalam focus group discussion di Balai Litbang Budidaya Ikan Hias Depok.

Diskus disukai pasar lokal

Diskus disukai pasar lokal

Jika masyarakat jeli melihat peluang itu, kesempatan meraih laba pun terbentang. Tidak usah jauh-jauh ke luar negeri, cukup dari dalam rumah. Bukan hanya ikan pelangi yang harganya memincut petani. Di Depok, Jawa Barat, Ubaidillah dan 17 rekannya anggota kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Curug Ornamental Fish berkonsentrasi membudidaya ikan tetra. Mereka memijahkan tetra jenis neon Paracheirodon simulans, kardinal P. axelrodi, dan rednose Hemigrammus rhodostomus.

Sebanyak 70% hasil budidaya dijual ke eksportir dan sisanya untuk pasar lokal. Setiap bulan kelompok itu memasarkan 35.000—50.000 neon tetra, 40.000 kardinal tetra, dan 35.000—50.000 red nose. Dengan harga jual Rp350—Rp1.200 omzet peternak sungguh fantastis, minimal Rp36-juta—Rp45-juta per bulan. Berapa laba Ubaidillah? “Pokoknya membuat saya tidak ingin jadi karyawan kantor,” ujarnya tersenyum semringah.

Drs Didi Supendi: pasokan ikan pelangi terbatas padahal permintaannya tinggi

Drs Didi Supendi: pasokan ikan pelangi terbatas padahal permintaannya tinggi

Hambatan bisnis
Sejatinya untuk meraih omzet besar itu penuh aral sepanjang jalan. Aji Subakti melepas pekerjaannya di produsen pakan ikan ternama. Pada 2014 ia memilih menjadi penangkar aneka jenis ikan siklid afrika di dalam 25 akuarium. Namun, menangkarkan ikan hias ternyata banyak aral melintang.

“Mencari indukan berkualitas sulit karena indukan di tanahair sebagian besar sudah in breeding,” katanya. Kendala lain kualitas air. Pada fase larva dan burayak kualitas air menentukan tingkat kelulusan hidup.

Beragam hambatan lain siap menghadang para peternak dan eksportir (baca boks: “Duri Bisnis Ikan Hias” halaman 14). Ketika para peternak mampu mengatasi beragam hambatan, laba perniagaan ikan hias di depan mata. Inilah pengalaman Yosy Basuki Nugroho, peternak di Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, yang mantap meninggalkan pekerjaan di sebuah Badan Usaha Milik Negara pada 2010.

Kontes ikut mengerek tren ikan hias

Kontes ikut mengerek tren ikan hias

Yosy memlih menjadi peternak ikan hias. Sejak 2012 ia merangkap profesi peternak sekaligus pemasok untuk eksportir. Ayah 1 anak itu kemudian mengubah haluan kepada jenis siklid. Musababnya harganya lumayan, di atas Rp3.000 di tingkat peternak. “Peternak ikan di Bandung enggan membudidayakan ikan yang harganya kurang dari itu, sebabnya lahan sangat terbatas dan air harus membeli dari jaringan air bersih,” ujar Yosy.

Saat Trubus menanyakan omzetnya, Yosy mengelak. “Masih kecil, masih ingin memperbesar skala usaha, tapi yang jelas sekarang melebihi UMR (upah minimum regional, red) karyawan pabrik,” tutur alumnus SMK bidang Mesin Produksi itu.

Ketua Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI), Maxdeyul Sola MBA, "Ikan hias bisa menjadi solusi peningkatan pendapatan masyarakat.  Budidaya ikan hias di lahan sempit, waktunya singkat, hasilnya memuaskan."

Ketua Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI), Maxdeyul Sola MBA, “Ikan hias bisa menjadi solusi peningkatan pendapatan masyarakat. Budidaya ikan hias di lahan sempit, waktunya singkat, hasilnya memuaskan.”

Bisnis ikan hias masih menyimpan sisi lain. Tidak semua peternak menjual ikan ternakannya dengan ukuran besar. Keli di Ciriung Bekasi mengambil segmen pembenihan ikan black ghost. Dengan bendera Ciketing Farm, setiap 5 hari ia menjual 12.000 burayak umur 3 hari Apteronotus albifrons itu kepada peternak pembesar di Depok dan Bogor. “Menjual burayak cepat memperoleh uang dan risikonya kecil,” tutur pembudidaya ikan sejak 10 tahun lalu itu.

Baca juga:  Budidaya Ikan Pelangi kurumoi di Luar Habitat Asli

Selain black ghost, Keli juga menyediakan jenis-jenis ikan lain seperti koridoras, manvis, dan diskus. Hal serupa—menyediakan jenis ikan lain—juga dilakukan Yosy dan Didi. “Kalau mendadak ada permintaan minimal saya bisa mengisi walau hanya sedikit,” kata Didi. Eksportir acap kali meminta beragam jenis ikan hias. Harap mafhum, pasar mancanegara memang masih mendominasi permintaan penghias akuarium itu.

Waspadai pesaing
Menurut Dr Maman Hermawan MSc, direktur Pengembangan Produk Nonkonsumsi, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (PP P2HP KKP), Indonesia sebenarnya berpotensi menjadi eksportir ikan hias nomor satu dunia. Menurut data United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Comtrade), pada 2013 Indonesia menjadi eksportir ikan hias nomor 4 dunia setelah Singapura, Jepang, dan Spanyol.

Ikan rainbow biru, jenis lama tapi tetap disukai pasar

Ikan rainbow biru, jenis lama tapi tetap disukai pasar

“Itu sudah naik dari posisi 13 (2010), 11 (2011), dan 5 (2012). Padahal, 60% ikan Singapura berasal dari Indonesia,” ungkap Maman. Ia mensinyalir masalahnya ada di sistem pencatatan yang tidak rapi. Untuk itu, Maman mempunyai program besar, yaitu membuat sistem registrasi ikan hias sampai tingkat provinsi.

“Nantinya data itu juga menjadi dasar penentuan kebijakan, misalnya untuk pendampingan, pembinaan, atau pemberian bantuan fisik,” tutur mantan dosen Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta itu. Hendra Iwan Putra, eksportir di Pasarrebo, Jakarta Timur, menyatakan kepercayaan menjadi kunci mengikat pembeli mancanegara.

Banyak peternak ikan hias kewalahan tingginya permintaan

Banyak peternak ikan hias kewalahan tingginya permintaan

Itu sebabnya penggemar batu mulia itu tidak resah dengan banyaknya eksportir baru yang bermunculan. Fakta bahwa pasar ekspor mendominasi permintaan ikan hias membuat Ignatius Mulyadi, eksportir ikan hias di Bandung, menganjurkan pelaku untuk mewaspadai penurunan permintaan pasar mancanegara.

Menurut Mulyadi, “Saat di sana sedang musim panas, permintaan berkurang drastis lantaran orang banyak yang berlibur,” ujar eksportir yang rutin mengirimkan rasbora, tropeus, dan denisoni hingga ribuan ekor per bulan. Menurut Peni, pemasok ikan hias di Bogor, hal lain yang perlu dicermati adalah pasokan dari negara pesaing. “Saat Tiongkok musim panas, harga tetra dunia pasti rusak karena mereka mampu memproduksi massal,” ujar Peni.

Untungnya periode musim panas itu hanya berlangsung Mei—Agustus. Artinya selama 8 bulan pasar terbuka lebar.
Meski ekspor mendominasi permintaan ikan hias, sejatinya permintaan domestik pun ikut terkerek. Catatan Alvin Surya dari Indonesia Diskus Community, kondisi itu lantaran kemunculan jenis baru, antara lain diskus golden red diamond. “Namun jenis lama seperti leopard atau red melon pun masih dicari penggemar, terutama pehobi baru,” ujar Alvin. Dalam tiga tahun terakhir, permintaan bulanan pasar lokal mencapai 200—300 ikan, semula hanya 50 ikan.

Adapun pasar ekspor cenderung ajek sebanyak 600—700 ekor per bulan. Keli menyatakan hal serupa. “Penggemar ikan hias di tanahair menyukai ikan berpenampilan cantik dengan warna cerah dan pembawaan tenang, seperti diskus atau manvis,” katanya. Pehobi yang menyambangi pasar ikan Gunungsari, Kota Surabaya, Jawa Timur, kebanyakan masih mencari jenis maskoki, lou han, atau koi.

Menurut pedagang di pasar Gunungsari, Joko, pembeli mencari ikan dengan kisaran harga Rp2.500—Rp20.000. Permintaan besar dari pasar lokal maupun pasar mancanegara itu yang “melahirkan” para peternak ikan hias di berbagai sentra. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Andari Titisari, Bondan Setiawan, dan Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d