Hulu-Hilir Kemiri Sunan

CV Energi Baru Santosa mengembangkan kemiri sunan sejak pembibitan sampai pengolahan.

Pembibitan CV Energi Baru Santosa di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur.

Pembibitan CV Energi Baru Santosa di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur.

Sebanyak 25.000 bibit kemiri sunan berjajar rapi di lahan 2 hektare. Bibit berumur 2,5 bulan itu tumbuh hampir seragam, tinggi di atas 40 cm. Pada pukul 15.00—16.00, pekerja menyiram bibit-bibit itu menggunakan penyemprot otomatis. “Bibit-bibit itu pesanan Pertamina,” ujar Titie Prapti Oetami, direktur CV Energi Baru Santosa di Gresik, Jawa Timur—perusahaan pembibit kemiri sunan.

Bibit itu tumbuh subur dan sehat di Kecamatan Driyorejo, Gresik, Jawa Timur—salah satu kawasan industri Jawa Timur yang disesaki berbagai pabrik. Meski tumbuh di daerah industri, bibit tumbuh cepat dan bebas hama penyakit maupun masalah fisiologis.

Tumbuh bongsor

Dari kiri Kapolsek Paciran, AKP Ilham, Budi Santosa PT Agrindo, KH Abdul Ghofur pemimpin Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, dan Titie Prapti Oetami direktur CV Energi Baru Sentosa.

Dari kiri Kapolsek Paciran, AKP Ilham, Budi Santosa PT Agrindo, KH Abdul Ghofur pemimpin Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, dan Titie Prapti Oetami direktur CV Energi Baru Sentosa.

Titie memang memperlakuan bibit secara intensif. “Seleksi benih ketat, hanya 30% dari semua benih yang kami datangkan lolos seleksi,” ujarnya. Minimnya tingkat kelulusan benih dalam seleksi lantaran bentuk benih yang tak normal dan terkena hama dan penyakit. Titie menanam benih terseleksi dalam polibag setinggi 25 cm dan berdiameter 10 cm. Ia menggunakan media tanam berupa campuran kompos dan tanah dari daerah berkapur.

Setiap polibag berisi 2 kg media tanam. “Untuk memastikan kualitas, kami membuat kompos sendiri yang kaya nutrisi seperti fosfat, kalsium, kalium, dan nitrogen,” kata perempuan yang menghabiskan waktunya untuk pengembangan tanaman Reutealis trisperma itu. Umur 4 bulan, bibit itu memiliki tinggi rata-rata 70 cm dengan diameter batang minimal 1,5 cm. Warna batang yang semula hijau berubah kecokelatan dengan akar tunggang sepanjang minimal 10 cm.

Kondisi itu menandakan bibit siap pindah tanam ke tanah. Proses penanaman dengan membuat lubang tanam dengan bor. Diameter lubang tanam 8 inci. Titie tidak membuang media tanam dalam kantong tanam tetapi memmasukkan ke dalam lubang itu plus menambahkan 2 kg. Setelah itu, tanaman tak perlu dipupuk lagi. “Dengan cara itu, tanaman mampu bertahan dan tetap tumbuh sehat meski kekurangan air,” ujar Titie.

Mesin hidrolik manual untuk mengepres biji kemiri.

Mesin hidrolik manual untuk mengepres biji kemiri.

Perempuan kelahiran 4 November 1956 itu tidak menjual bibit kemiri sunan, melainkan kerja sama sistem penanaman dengan konsumen. “Tujuannya agar bibit dari kami bisa tumbuh optimal sebagai pohon dan memberi keuntungan ekonomi pada masyarakat,” ujar Titie. Sistem itu meliputi penanaman bibit hingga tanaman berumur satu tahun. Pada Januari 2015 ia bekerja sama dengan masyarakat adat di Nusa Tenggara Timur menanam kemiri sunan di lereng-lereng tandus berbatu seluas 650 ha.

Untuk uji coba mereka menanami sebagian secara bertahap dari lahan yang ada. Sistem penanaman ala Titie efektif, terbukti tanaman mampu bertahan, bahkan tumbuh baik dalam kondisi minim air dan tanpa perawatan. Hujan pertama baru turun sekitar 14 bulan pascapenanaman. Saat itu bibit yang bertahan tumbuh mencapai 50%. “Rencananya pada Maret 2016 kami akan melakukan penanaman lanjutan,” ujar Titie.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x