Hulu Hilir Cokelat

Pelesir sembari belajar tentang cokelat sejak dari kebun sampai jadi sajian nikmat.

Kampung Coklat, wisata pendidikan yang menyajikan pengenalan cokelat dari hulu hingga hilir.

Kampung Coklat, wisata pendidikan yang menyajikan pengenalan cokelat dari hulu hingga hilir.

Khoirul Huda mengamati benih kakao untuk memastikan calon bibit itu sehat. Sejurus kemudian ia membenamkan biji itu dalam media tanam. Ia menghentikan kegiatan itu untuk menikmati chocolate dipped fruit—potongan buah berbalut cokelat cair di meja-meja yang tertata rapi di bawah tajuk pohon Theobroma cacao. “Suasananya sejuk, nyaman, sekaligus bisa belajar budidaya kakao plus cara membuat cokelatnya,” ujar Irul—sapaan akrabnya.

Hari itu Irul bersama 150 rekannya mahasiswa Universitas Tulungagung, Jawa Timur, melakukan studi wisata di Kampung Coklat di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Itu merupakan tempat wisata sekaligus belajar tentang cokelat. Menurut Manajer Operasional Kampung Coklat, Akhsin Al Fata, setiap hari 2.000—7.000 pengunjung memadati area seluas 2 hektare itu.

Mencari ilmu

Kholid Mustofa, pemimpin Kampung Coklat dan Gapoktan Guyub Santoso.

Kholid Mustofa, pemimpin Kampung Coklat dan Gapoktan Guyub Santoso.

Pada hari libur, jumlah pengunjung menembus belasan ribu orang. “Rekor jumlah pengunjung saat Tahun Baru 2016. Mulanya kami prediksi sekitar 12.000 orang dalam sehari, ternyata membeludak hingga 18.000 pengunjung,” kata Akhsin. Pengunjung bukan hanya dari domestik, melainkan juga dari mancanegara seperti Swiss, Belanda, dan Finlandia. Selain menikmati cokelat berkualitas langsung dari tempat pengolahan, wisatawan juga mendapat ilmu mengenai kakao dari hulu hingga hilir.

“Mahasiswa Teknologi Pangan asal Perancis sudah mendaftar untuk magang 4 bulan pada Mei 2016,” ujar Akhsin. Menurut lelaki kelahiran 28 Desember 1984 itu, minat mahasiswa asing untuk magang di Indonesia menjadi bukti pengakuan kakao Indonesia di mancanegara. Kampung Coklat bermula dari Gabungan Kelompok Tani Guyub Santoso pimpinan Kholid Mustafa yang kemudian mendirikan Koperasi Serba Usaha (KSU).

Alumnus Madrasah Aliyah itu menimba ilmu ke PT Perkebunan Nusantara XII sektor kebun Bantaran, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka). Saat mencoba menjual langsung biji kakao di Pelabuhan Tanjungperak, Surabaya, Kholid mendapat harga Rp16.000 per kg untuk biji kakao kering. “Di tengkulak hanya Rp9.000,” ujar Akhsin.

Bahan bermutu

Pengeringan biji kakao di Kampung Coklat untuk pasar ekspor ke Malaysia.

Pengeringan biji kakao di Kampung Coklat untuk pasar ekspor ke Malaysia.

Kholid bersama anggota Guyub Santoso semakin bersemangat meningkatkan produksi serta menambah keragaman produk. Mereka mengolah sendiri biji kakao kering menjadi cokelat siap konsumsi untuk meningkatkan nilai jual.

Pada Agustus 2014, Kholid Mustofa dengan KSU Guyub Santoso mendirikan tempat wisata pendidikan bertema kakao dan cokelat dengan nama Kampung Coklat. Dengan menggunakan sarana promosi seadanya yaitu brosur fotokopi, Kholid mulai menawarkan paket wisata pendidikan ke sekolah-sekolah. “Saat itu pengunjung baru 5—7 orang saja per hari, tetapi dari pengunjung yang datang ke Kampung Coklat mereka akan bercerita ke teman-temannya.

 

Promosi

Para pekerja mengemasi cokelat siap makan.

Para pekerja mengemasi cokelat siap makan.

Para pengunjung juga banyak yang berswafoto (selfie) lalu mengunggahnya ke media sosial. Maka promosi Kampung Coklat menjadi masif. Peneliti kakao dari Puslitkoka, Jember, Jawa Timur, Dr Soekadar Wiryadiputra MSc, mengatakan, “Perkembangan Kota Blitar sebagai sentra baru kakao sangat cepat. Kakao dan cokelat sebagai objek wisata membuat orang penasaran dan ingin berkunjung. Itu nilai tambah Blitar dibandingkan sentra terbesar kakao tanah air seperti Sulawesi yang belum dapat menjadi tempat hiburan,” kata alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x