Hujan Tetap Manis

Hujan Tetap Manis 1
Melon golden hasil panen Khamim berbobot 2,2 kg per buah dengan kadar kemanisan 14o briks pada musim hujan

Melon golden hasil panen Khamim berbobot 2,2 kg per buah dengan kadar kemanisan 14o briks pada musim hujan

Hasilkan melon golden berbobot 2,2 kg per buah, kemanisan 140 briks pada musim hujan.

Khamim Asyari, pekebun di Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, memanen 2.350 buah melon Cucumis melo pada musim hujan Maret 2014. Dari hasil panen itu, 80% atau 1.880 buah berbobot rata-rata 2,25 kg per buah sehingga masuk kualitas A, sementara sisanya masuk kualitas B berbobot rata-rata 1,5 kg per buah.

Menurut pria kelahiran 1968 itu, bobot melon golden pekebun lain hanya berkisar 1,6 kg. Artinya bobot melonnya lebih tinggi 0,6 kg. Harga buah tanaman anggota famili Cucurbitaceae itu di tingkat petani saat itu mencapai Rp8.000 untuk kualitas A, sementara kualitas B Rp6.000 per kg. Khamim meraup omzet Rp38.070.000, lebih tinggi daripada pekebun lain yang hanya Rp30-juta. Dengan biaya produksi sekitar Rp5.000 per tanaman dan setiap tanaman menghasilkan buah berbobot di atas 2 kg, maka keuntungan bersih Khamim mencapai Rp26-juta, dengan proses budidaya selama 3 bulan.

Bagaimana dengan tingkat kemanisannya? Konsumen tak perlu risau. Refraktometer atau alat uji kadar kemanisan menunjukkan angka 140 briks untuk melon dari kebun Khamim Asyari. Padahal menurut peneliti melon dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) Solok, Sumatera Barat, Makful, kadar kemanisan melon pada musim hujan hanya berkisar 11-120 briks.

Refraktometer menunjukan angka 14 o briks untuk melon dari kebun Khamim

Refraktometer menunjukan angka 14 o briks untuk melon dari kebun Khamim

Banyak air

Peneliti di Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), Institut Pertanian Bogor, Sobir PhD, menuturkan hal senada. Menurut Sobir kadar kemanisan melon pada musim hujan turun karena dua hal, yakni tingginya kandungan air pada buah dan sedikitnya intensitas cahaya akibat matahari sering tertutup mendung. “Fotosintesis kurang maksimal, sehingga proses pertumbuhan tanaman juga tidak maksimal,” tuturnya.

Baca juga:  Tubuh Butuh Albumin

Menurut doktor bidang molekuler genetik alumnus Universitas Okayama, Jepang, itu, pekebun dapat mempertahankan tingkat kemanisan buah dengan menjaga daun-daun tetap sehat lewat perawatan intensif. “Semakin banyak daun yang sehat maka semakin tinggi pula proses fotosintesis,” tutur Sobir.

Khamim memang membudidayakan tanaman asal Mediterania itu secara intensif di lahan 0,14 hektar. Mula-mula ia membuat guludan selebar 120 cm, tinggi 25-30 cm dengan jarak antarguludan 60 cm. Guludan harus tinggi untuk mengantisipasi genangan air. Kemudian ia menebarkan kompos sebanyak 4,5 ton, lalu diaduk merata. Setelah itu ia menutup guludan dengan mulsa plastik hitam perak. (Lihat ilustrasi)

Khamim Asyari hasilkan melon golden berkualitas tinggi karena budidaya intensif

Khamim Asyari hasilkan melon golden berkualitas tinggi karena budidaya intensif

Pupuk hayati

Menurut pekebun melon sejak 2009 itu, kunci keberhasilan membudidayakan melon pada musim hujan adalah penggunaan pupuk hayati berupa bakteri Trichoderma sp (TCD) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Menurut Prof Dr Tualar Simarmata, ahli tanah dari Universitas Padjadjaran, Bandung, TCD dan PGPR sangat baik untuk tanah dan tanaman. “Trichoderma mempunyai dua fungsi yaitu memaksimalkan penguraian bahan-bahan organik dan agen hayati sebagai imun tanaman,” kata alumnus Jurusan Ilmu Pertanian, Universitas Justus Liebig, Jerman, itu. Sementara PGPR mampu mengikat nitrogen dari udara sehingga ketersediaannya maksimal.

Menurut Prof Tualar, penggunaan agen hayati itu tidak secara langsung berefek pada kadar kemanisan buah. “Kemanisan buah lebih karena faktor ketersediaan kalium. Ketika kalium sudah tersedia, agen hayati bekerja untuk memaksimalkan penyerapan unsur itu,” ujarnya.

Khamim menuturkan, selain pupuk hayati, ia juga tetap menggunakan pupuk kimia. Ia masih menggunakan pupuk yang mengandung unsur nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, natrium, dan potasium fosfat. “Kombinasi pupuk hayati dengan kimia memaksimalkan produksi maupun rasa manis buah,” ujarnya.

Baca juga:  Jejak Agribisnis Pemuda

Dr Selly Salma MSi, penanggungjawab Laboratorium Biologi Tanah, Balai Penelitian Tanah, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menuturkan hal senada. Pupuk hayati bukan berfungsi untuk menggantikan pupuk kimia. “Penggunaan pupuk hayati digunakan bersama pupuk kimia agar penggunaan pupuk kimia bisa lebih efektif,” ujarnya. Menurut Selly dosis pupuk kimia bisa dikurangi hingga 50% dengan penambahan pupuk hayati. “Pupuk hayati berfungsi sebagai fasilitator penyedia hara bagi tanaman,” ujarnya. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x